Mengapa Rupiah Dengan Dollar ? ... Wawancara TEMPO dengan Menkeu Ali wardhana mengenai pengaruh kemerosotan nilai dolar terhadap ekspor & impor indonesia, Inflasi di Indonesia, cadangan devisa dan proyeksi APBN 1978/1979. (eb) |
BEBERAPA bankir di Kota tampak senang melihat Ali Wardhana tetap
duduk sebagai Menteri Keuangan. Direktur Prijatna Atmadja dari
PT Panin Bank berkomentar, "orang lama biasanya tak akan membuat
kejutan." Delapan tahun sebagai Menkeu, Prof. Dr. Ali Wardhana,
yang bulan depan genap berusia 50, memang terkenal
"konservatif,'' sebagaimana layaknya orang keuangan. Dia juga
tampak tenang melihat kurs dollar yang merosot terus belakangan
ini. Tapi bagaimana efek kemerosotan itu bagi lalulintas
perdagangan kita? Dan apa pula akibatnya bagi APBN yang sedang
berjalan bila volume ekspor minyak Indonesia terus berkurang?
Menyedot pipanya dalam-dalam, Menkeu Wardhana yang diinterpiu
oleh Fikri Jufri pekan lalu, menjawab.
Sejak akhir tahun lalu sampai sekarang nilai dollar terus turun.
Kalau dari segi ekspor sebenarnya turunnya nilai dollar itu
malah menguntungkan. Sebab merosotnya dollar terhadap matauang
yen atau mark Jerman, membuat ekspor dari Indonesia ke Jepang
dan pasaran Eropa lebih bisa kompetitif. Mengingat rupiah itu
dikaitkan pada dollar, sedang nilai yen dan beberapa mata-uang
di Eropa mengalami apresiasi, maka sebenarnya rupiah itu sudah
mengalami depresiasi juga. Jadi selain merangsang ekspor,
barang-barang dari Indonesia juga meniadi lebih menarik bagi
para importir di Jepang dan Eropa.
Hal itu kelihatan dari arus ekspor non-minyak dari Indonesia
yang meningkat terus dari awal Januari sampai dengan akhir
Desember tahun lalu. Dalam tahun itu penghasilan dari ekspor
non-minyak Indonesia mencapai $3,6 milyar lebih.
Tapi bagaimana pengaruhnya terhadap impor Indonesia?
Kalau dari segi impor yang terjadi adalah sebaliknya. Depresiasi
dollar memang berarti harga barang impor yang lebih mahal buat
Indonesia. Tapi makin mahalnya harga impor itu ada untungnya
juga buat industri di dalam negeri. Mereka secara otomatis
jadinya merasa mendapat proteksi.
Kalau impor lebih mahal dari Jepang dan Eropa, maka betapa besar
pengaruhnya bagi inflasi di Indonesia?
Sampai tingkat tertentu memang ada pengaruhnya terhadap inflasi
di sini. Tapi perlu diingat bahwa mahalnya harga impor itu bukan
satu-satunya faktor yang mendorong tingkat inflasi ke atas. Jadi
kalau dari Jepang misalnya harga impor naik dengan 10%, maka
kenaikannya di Indonesia tidaklah proporsionil. Harga impor yang
lebih mahal itu adalah salah satu komponen saja dalam penentuan
harga di dalam negeri.
Optimiskah bapak tingkat inflasi di Indonesia tahun ini bisa
dipertahankan di sekitar 10%?
Yah, mudah-mudahan bisa. Sebab dari dulu sampai sekarang yang
antara lain sangat mempengaruhi tingkat inflasi itu adalah
jumlah rupiah yang beredar, dan suplai dari barang-barang
kebutuhan pokok, terutama beras. Jelas ada korelasi antara
kenaikan harga beras dengan index inflasi. Jadi dalam hal itu
pemerintah akan tetap menempuh kebijaksanaan moneter yang lebih
terarah dan terkendalikan, dan kebijaksanaan suplai yang bisa
mengimbangi ekspansi di dalam kebijaksanaan moneter.
Apa pula itu?
Begini. Ekspansi moneter itu tergantung dari anggaran saya dan
dari sektor perbankan di Indonesia. Jadi setiap triwulan itu ada
dibuat program dalam ekspansi moneter. Misalnya dalam kwartal
pertama sekarang, sektor pengeluaran sudah pasti akan lebih
besar dari sektor penerimaan. Sedang nanti menjelang akhir tahun
yang terjadi justru adalah sebaliknya. Jadi dalam situasi di
mana saya lagi mengeluarkan banyak uang, Bank Indonesia akan
mengatur Pak Rachmat Saleh tak akan mengobral kredit. Tapi kalau
saya nanti lagi nyedot uang, BI tentu tak akan menyedot, sebab
hal itu akan menimbulkan pengaruh deflasi. Tapi BI akan
mengendorkan rem kreditnya.
Mana yang lebih baik buat Indonesia: tetap mengaitkan rupiah
dengan dollar atau mengaitkannya dengan nilai mata-uang yang
lebih kuat, seperti yen misalnya?
Tarohlah Indonesia misalnya mengaitkan mata-uangnya dengan yen
atau mark. Maka rupiah akan mengalami apresiasi begitu kuat
terhadap dollar. Ini ada bahayanya, sebab yang pertama kali akan
terpukul adalah para eksportir. Dari segi impor memang bisa
lebih ringan, sebab harga impor jatuhnya akan lebih murah. Tapi
dalam situasi impor yang seperti itu, yang langsung akan terkena
adalah industri dalam negeri mereka harus bekerja lebih keras
agar bisa bersaing dengan barang yang masuk dari luar negeri.
Nah, atas dasar pertimbangan itulah Indonesia tetap beranggapan
perlu mengaitkan rupiah dengan dollar.
Beberapa pengamat tetap beranggapan nilai rupiah sekarang masih
overvalued (dinilai berlebihan) terhadap dollar. Jadi sekalipun
depresiasi dollar yang sekarang dalam dirinya berarti juga
depresiasi rupiah, mereka berpendapat masih perlu dilakukan
ekstra depresiasi terhadap rupiah. Apa komentar bapak?
Saya kira pendapat itu tidak benar. Kalau memang suatu mata-uang
itu dianggap overvalued, hal itu akan segera terlihat dalam segi
ekspor. Jalannya ekspor akan tak sehat. Artinya orang mulai
melakukan penyelundupan ekspor, demi memperoleh harga yang lebih
baik untuk ekspornya. Tapi sampai sekarang saya melihat ckspor
dari Indonesia itu masih berjalan normal.Kalau memang timbul
penilaian yang berlebihan terhadap rupiah kita, sikap para
eksportir tentu tak akan seperti sekarang.
Memang adanya kritik tentang rupiah yang dianggap overvalued
adalah dengan pertimbangan perbedaan tingkat inflasi di
Indonesia dengan di AS. Tapi, sekali lagi harus diingat, masih
ada lagi faktor lain yang mendukung di samping faktor inflasi
itu: keadaan kita sekarang jauh lebih baik dalam hal cadangan
devisa. Juga dengan adanya depresiasi rupiah terhadap yen dan
mata-uang lain akibat depresiasi dollar,membuat ekspor kita
lebih terangsang.
Lain halnya dengan tahun 1971. Ketika itu inflasi kita masih
tinggi, hingga kita kalah bersaing dengan negara-negara
tetangga. Juga cadangan devisa waktu itu masih perlu pemupukan
lebih baik. Maka salah satu jalan untuk merangsang ekspor waktu
itu adalah dengan melakukan devaluasi.
Cadangan devisa Indonesia dikabarkan sudah melebihi US$ 2
milyar. Dengan merosotnya nilai dollar, apa nilai cadangan itu
tak berkurang? Diam-diam BI juga sudah mengalihkan sebagian dari
cadangannya ke beberapa mata-uang kuat lainnya. Ini untuk
berjaga-jaga. Tapi harus diketahui bahwa transaksi di dunia ini
masih tetap dalam dollar. Jadi, suka atau tidak suka, setiap
negara harus mempunyai dollar.
Berapa jauh pengaruh penurunan dollar pada proyeksi APBN '78/
79?
Dalam anggaran yang sekarang, penerimaan saya dari minyak itu
berjumlah sekitar Rp 2,67 trilyun. Kalau dibagi Rp 415,
kira-kira akan jatuh seputar US$5 milyar. Nah, merosotnya dollar
sekarang ini tak ada pengaruhnya. Sebab US$5 milyar yang akan
saya terima itu dengan mudah bisa ditukar dengan rupiah. Lain
halnya kalau terjadi penurunan produksi dan jumlah ekspor
minyak.
Produksi minyak memang masih tetap dipertahankan 1,7 juta barrel
sehari. Tapi ekspornya sejak tahun lalu sampai sekarang diakui
agak berkurang oleh Dir-Ut Pertamina. Apa anda tak kuatir?
Ya saya kuatir kalau memang volume ekspor minyak berkurang
terus. Tapi banyak hal bisa terjadi dalam 1978 ini. Tentunya
OPEC tak akan tinggal diam kalau dollar terus begini. Andaikata
nilai dollar itu terus merosot, diharapkan akan terjadi
penyesuaian lagi dalam harga minyak. Tapi terus terang saya
sendiri juga belum tahu . . .
|