Ring Itu Menarik Di Jember Operasi kecil dengan ring laparascope dipraktekkan di RS.
Soebandi Jember. Ibu-ibu yang selama ini memakai spiral atau
pil pencegah kehamilan, berduyun-duyun melakukan sterilisasi
dengan alat tersebut. (ksh) |
RUMAH Sakit dr Soebandi di Jember ramai sekarang. Bukan
karena serbuan korban tempe bonkrek atu muntah berak. Ada
cara pembatasan kelahiran yang baru dipraktekkan di
sana.Dengan sebuah alat yang bernama Ring Laparascope seseorang
bisa disterilkan.
Penduduk di sana, terutama kaum wanitanya, yang pernah ikut
program KB pakai spiral atau pil sudah mencicipi bagaimana tidak
enaknya memakai alat-alat tadi. Mereka ingin mencoba yang baru.
Dan menurut kabar operasi kecil dengan Ring Laparascope membuat
perasaan lebih tenteram. Tak ada yang mengganjal di dalam badan
dan tak perlu patuh saban hari minum pil. Ibu-ibu kita di sana,
yang ingin membatasi kehamilan berduyun-duyunlah minta operasi
kecil dengan ring tadi.
Animo masuk KB cukup banyak dengan adanya alat ini.
Sampai-sampai yang mendaftar hari ini, 4 bulan kemudian baru
bisa dilaksanakan operasinya, cerita Darmawan kepada rombongan
Gubernur Jatim Sunandar Priosudarmo yang datang menjenguk ke
sana, baru-baru ini.
Dengan alat Ring Laparascope yang bernilai Rp 4,5 juta ini,
sterilisasi sudah bisa dicapai tanpa melakukan bedah yang
berarti. Melalui pusar bagian dari alat tersebut bisa masuk ke
bagian kandungan. Di ujung belalai alat tersebut ada lensa. Dan
dengan lensa tadi si dokter bisa memasangkan ring pada saluran
indung telur yang dilipat. Indung telur yang siap dibuahi jadi
terhalang untuk bercampur dengan sperma.
Luar Jember
Operasi tersebut tidak terlalu lama dan tak meninggalkan bekas.
Cukup 3 menit dan setelah istirahat 2 jam, akseptor sudah bisa
pulang, ujar dr. Darmawan. Selama proses operasi kecil tersebut,
memang ada terasa nyeri, tapi kabarnya tidak lebih sakit dari
dikhitan.
Mereka yang dulu sudah pernah memakai spiral dan minum pil untuk
KB, serta-merta tertarik dengan bedah kecil Ring Laparascope.
Peminatnya tidak hanya dari Jember. Dari daerah sekitar juga
banyak yang datang. Tiap bulan rata-rata 100 orang yang
menjalani operasi, kata Darmawan. Itu pun sudah dengan batasan.
Kurangnya peralatan dan tenaga medis membuat operasi tersebut
hanya dilaksanakan 3 kali seminggu. Tiap jam hanya mampu
mengoperasi 5 orang. Itulah sebabnya peserta KB dengan sistim
ini harus antri 4 bulan.
Bedah ringan dengan Ring Laparascope menjadi populer karena
kabar yang sampai dari mulut ke mulut. Pihak Badan Kordinasi
Keluarga Berencana tidak pernah menyinggung metode tersebut.
Maklumlah mereka hanya mengkampanyekan pil, tpiral, kondom dan
pil berbusa. Namun Gubernur Sunandar sehabis meninjau
perkembangan di Jember itu, memutuskan ,untuk mengembangkm
metode baru ini dalam usahanya untuk menekan pertumbuhan
penduduk Jawa Timur yang hampir mencapai 3% setahun.
|