Menuju Jalan Lintas Sawahlunto kota penghasil batubara, sekarang berwajah suram
karena harga batubara jatuh dipasaran dunia. Sejak 1975
tambang batubara ombilin mendapat bantuan dari pemerintah
Kanada. (kt) |
JANGAN heran jika Kota Sawah Lunto dikenal juga dengan sebutan
"kota arang". Hal ini tentu karena tambang batubara Ombilin yang
terkenal itu berada di dalam kota ini. Sebab itu wajah Sawah
Lunto tentu sulit dipisahkan dengan kehidupan tambang itu
sendiri.
Zaman sebelum perang kota ini cerah secemerlang perdagangan
batubara di kala itu. Tapi beberapa tahun belakangan ini Sawah
Lunto berwajah suram, begitu harga batubara jatuh benar di
pasaran dunia. Bukan saja warga kota pelan-pelan berkurang
karena penurunan jumlah karyawan di tarnbang itu. Tapi juga
perekonomian di kawasan kota menjadi sepi. "Produksi hanya
sekitar 100 ton sehari, cuma untuk keperluan pegawai," tutur
seorang karyawan tambang itu kepada TEMPO. Tak heran jika
pembangunan Kota Sawah Lunto pun lebih banyak tergantung pada
subsidi,
Sejak 1975 lalu kota ini mulai agak semarak. Yaitu ketika
Tambang Batubara Ombilin mendapat bantuan Pemerintah Kanada
untuk direhabilitir. Cahaya listrik mulai memencar menghapus
pelosok-pelosok kota yang suram. Dan wajah Walikota Saimuri pun
sedikit mulai cerah, disertai langkah-langkah pembenahannya.
"Dulu lengang sekali," kata Saimuri, "sejak ada pasar Inpres
kota lebih hidup."
Perluasan
Dengan penduduk sekitar 14.000 jiwa dan luas kota 6,3 km
persegi, Walikota Saimuri agaknya tak mau begitu saja
menggantungkan perkembangan kotanya pada tambang Ombilin.
Buktinya sebuah petisi dari DPRD Kotamadya Sawah lunto belum
lama ini dikirim ke DPRD Propinsi Sumatera Barat. Isinya antara
lain meminta agar areal kota diperluas sehingga menjadi 400 km
persegi (yang berarti penduduknya akan menjadi 58.000 jiwa).
Dengan petisi ini dimaksudkan agar perkembangan kota lebih cepat
terangsang oleh Jalan Lintas Sumatera Sebab dengan perluasan
tadi, areal kota hanya akan berjarak 4 km lagi dari Lintas
Sumatera. Bersamaan dengan itu diajukan pula permohonan agar
jalan yang 4 km itu diperlebar, kirakira sebesar dan sebagus
jalan lintas itu.
Sampai sekarang petisi itu sendiri belum mendapat tanggapan.
Tapi beberapa orang anggota DPRD Sumatera Barat menanggapi isi
petisi itu sebagai "keterlaluan'. "Kok Sawah Lunto serakus itu?"
tanya seorang anggota DPRD Propinsi. Ia mengambil contoh Kota
Padang sendiri yang hanya mengajukan permintaan perluasan dari
33 km menjadi 80 km persegi. Tapi kalangan Balaikota Sawah Lunto
menolak istilah rakus itu. Ia mengambil pula contoh Kota Solok.
Kota ini begitu cepat berkembang tak lama setelah Jalan Lintas
Sumatera melewatinya.
|