Ada Yang Tewas. Ada Yang Pingsan Beberapa orang tewas, disebabkan kabel tanah yang bocor
sehingga arus listrik mengalir ke genangan air hujan di
beberapa jalan di ibukota. Kesalahan ini bisa dialamatkan ke
Pemda DKI atau PLN. (ilt) |
SEORANG pedagang bubur tewas disambar listrik di jalan raya
Kuningan, Jakarta. Sulaiman bin Sahomi, 18 tahun, pada hari
Minggu siang, 12 Maret lalu bermaksud menyeberang di jalur zebra
dekat Setiabudi Office Building. Hujan lebat baru saja reda.
Tahu-tahu, tiba di jalur pemisah di tengah-tengah jalan, persis
di bawah tiang lampu merah-hijau, Sulaiman berkelojotan sebentar
dan jatuh di genangan air hujan. Mati seketika.
Menurut keterangan yang dikumpulkan wartawan Kompas, ada kabel
tanah yang bocor sehingga arus listrik mengalir ke air.
Akibatnya, kontan si tukangbubur mati disambar listrik ketika ia
mendorong keretanya melewati genangan air berlistrik itu.
Sulaiman memang naas. Mungkin karena dia tak bersepatu karet,
arus listrik puluhan ampere bebas menyambar tubuhnya, dia mati
seketika seperti terhukum di kursi listrik. Para pengendara
mobil dan motor yang berhenti di lampu merah tersebut tak perlu
begitu takut. Sebab ban karet menyekat mereka dari air berarus
listrik itu. Asal saja kaki pengendara motor yang dijulurkan ke
tanah untuk menunjang kendaraannya, juga dilindungi
sepatu--sekurangkurangnya sol karet.- Dan kering. Kalau tidak,
nasib Sulaiman bin Sahomi bisa juga terulang padanya.
Ini kesalahan siapa? "Mungkin DKI yang punya lampu lalu-lintas
yang bocor kabel tanahnya, atau PLN yang menginstalirnya," ucap
seorang instalatir listrik swasta yang dimintai pendapatnya.
Tapi yang jelas, menurut peraturan keselamatan instalasi
listrik, kabel tanah itu semustinya ada pengamannya. Yakni
bungkus logam yang di-'tanah'kan melalui pipa bawah tanah, yang
dihubungkan dengan kotak sambungan instalasi listrik itu di
tiang listrik yang terdekat.
Jadi kalau kabel tanah itu sampai bocor -- terkena cangkul atau
linggis tukang-tukang gali PAM, Pabrik Gas, Telkom, PLN atau
instansi lain--arus listrik itu disalurkan ke dalam tanah
melalui alat aarde tersebut. Makanya instalatir tadi bertanya:
"Apakah.di panel lampu lalu-lintas tadi kabel tanahnya tak
ditanahkan? Ataukah aarde-nya tak memenuhi syarat?"
Apa syarat pentanahan instalasi listrik? Menurut standar Eropa,
tegangan sentuhnya tak boleh lebih dari 50 volt. Atau arusnya
tak boleh lebih besar dari 5 ampere. Itu sebabnya, tahanan pipa
bawah tanah untuk 'menyedot' arus listrik yang bocor maksimal 10
ohm. Jadi tergantung pada kelembaban tanah, berapa dalam pipa
besi itu harus dipendam. Kalau tanahnya lembab, dipendam 2 meter
saja sudah cukup. Tapi kalau tanahnya keras, berpadas, dan
kering, terpaksa harus lebih dalam lagi. Pokoknya, diukur dengan
earth resistance meter, tahanan alat pengaman itu tak boleh
lebih dari 10 ohm. Bila tidak, kebocoran arus listrik yang
tersentuh manusia masih bisa cukup mengejutkan. Kalau pun tak
mati, ya pingsan atau minimal deg-deg-an.
"Dalam prakteknya, pengamanan tanah itu kurang diperhatikan,"
kata Suryono, seorang insinyur Elektro, yang kini mengajar di FT
Usakti, Jakarta. Terutama dalam instalasi listrik rumah tangga,
maupun kantor dan pabrik. Dulu, instalasi aarde itu merupakan
urusan PLN, yang pada gilirannya memborongkannya pada
pengusaha-pengusaha swasta. Tapi PLN sendiri yang bertugas
mengkir hasil kerja instalatir swasta iu tak punya pengukur
tahanan tanah. Jadi dalamnya pipa yang ditanam, untunguntungan
saja. Berabenya, sudah setahun lamanya PLN tak memasang
instalasi pengaman tanah terpusat lagi. Kabarnya karena tak
tersedia anggaran untuk itu. Jadi terserah pada instalatir mau
pasang pengaman tanah atau tidak.
Anak Kena
Dengan kenaikan tegangan meniadi 220 volt, risiko kena arus
karena kabel atau kawat yang bocor lebih besar lagi. Belum lagi
selera para arsitek yang kurang menyenangi stopkontak tinggi di
dinding, dan memindahkannya ke bawah dekat lantai. "Ini
berbahaya bagi anak kecil, yang bisa saja mencoblos stopkontak
itu dengan paku atau benda logam lainnya," tambah Suryono.
Anaknya sendiri, yang baru berumur 1 « tahun dan baru dapat
merangkak pernah kena arus listrik ketika menusuk stopkontak itu
dengan penjepit rambut. Untung di rumahnya Suryono sudah
memasang pemutus arus yang segera bekerja kalau ada kebocoran
listrik ke tanah (earth leakage circuit breaker). Sehingga dalam
waktu kurang dari sekejap mata sekering induk sudah anjlok. Tapi
tetap juga sang anak sempat merasakan kejutan listrik yang tak
nyaman.
Insiden kena arus listrik juga pernah menimpa seorang pejabat
teras Bappenas, dua tahun lalu. Waktu itu Bappenas baru saja
membeli sejumlah rumah di daerah Kebayoran Lama untuk para
pegawai terasnya. Tapi belum lama rumah-rumah itu ditempati,
seorang pejabat Bappenas jatuh pingsan ketika menyentuh a-c
yang bocor arus listriknya. Maklumlah, rumah-rumah itu sudah
memakai tegangan 220 volt, tapi tak dilengkapi peralatan
pengaman tanah sentral yang memadai.
|