Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/IIIIIIII/25 - 31 Maret 1978
   
Ekonomi dan Bisnis

Dolar Jatuh, Opec Terkena

Opec mengalami kerugian 14 milyar dolar akibat merosotnya nilai dolar. Hernandez mengajak Opec untuk mengadakan sidang Opec di Jenewa. Pasaran minyak menurun. (eb)

KETIKA kelompok eksportir minyak (OPEC) bertemu di Caracas,
ibukota Venezuela, akhir Desember lalu, hanya ada satu acara
yang membikin panas: sikap Arab Saudi dan Iran yang menuntut
dibekukannya harga minyak selama 1978. Desakan anggota lainnya
agar harga minyak naik antara 5-10%-sekedar untuk mengimbangi
inflasi dollar--ketika itu tak mempan. Maka ketika para delegasi
pulang kembali ke negaranya masing-masing, mungkin tak
terfikirkan oleh mereka bahwa akibatnya akan sejelek sekarang.

Beberapa hari seusai konperensi di Caracas itu, nilai dollar AS
semakin anjlok. Kemerosotan itu masih terus berlangsung
terutama terhadap mata-uang Yen Jepang dan Mark Jerman Barat,
yang tak pelak lagi memukul para pemegang mata-uang AS tersebut.

Mengingat negara pengekspor minyak itu menerima pembayaran dalam
dollar AS, maka nilai riil penghasilan mereka juga terpukul
karenanya. Menteri Perminyakan Kuwait, Ali Khalifa al-Sabah
baru-baru ini menyatakan "kerugian Kuwait akiba merosotnya
nilai dollar mencapai satu juta dollar sehari." Sementara itu
Sekretaris Jenderal OPEC Ali Jaidah memperkirakan kerugian yang
diderita anggota OPEC akibat merosotnya dollar sudah mencapai 14
milyar dollar.

Sialnya, berkurangnya penerimaan riil itu terjadi di tengah
menurunnya pasaran. Mulai mengalirnya minyak dari sumur-sumur di
lepas pantai Laut Utara, ladang Alaska dan juga dari lepas
pantai Teluk Mexico, paling tidak telah mengurangi ekspor minyak
OPEC sebanyak 2 juta barrel sehari. Adalah Kuwait, Aljazair,
Nigeria, Libia dan Venezuela yang merasa paling sakit. Kelima
anggota OPEC itu kini rata-rata cuma memprodusir 1,7 juta barrel
sehari -sama dengan yang dihasilkan Indonesla sekarang. Tadinya
produksi mereka masing-masing masih bertahan antara 2 sampai 2,2
juta barrel sehari.

Arab Saudi dan iran pun ikut terkena. Tadinya Arab Saudi masih
menyedot 8 « juta barrel sehari. Baru-baru ini Menteri
Perminyakannya, Zaki Yamani, telah menginstruksikan kepada
maskapai minyak Aramco untuk tidak memprodusir lebih dari 8 juta
barrel sehari, karena kuatir semakin banyaknya stok minyak.
Begitu juga Iran kabarnya telah menekan produksi mereka di bawah
7 juta barrel sehari.

Ajakan Hernandez

Tapi dua raksasa minyak itu agaknya masih lebih suka diam.
Sampai awal minggu ini belum terbetik berita dari Ryadh maupun
Teheran bahwa Sheikh Yamani dan Yamshid Amouzegar, Menteri
Pertambangan Iran akan hadir di Jenewa 3 April nanti.

Sidang istimewa? "Bukan", kata Menteri Pertambangan RI, Sadli.
"Rencana pertemuan di Jenewa itu hanya akan membicarakan situasi
minyak sekarang untuk menghadapi sidang tetap Juni nanti--cuma
kongkow-kongkow." Maka bisa dipastikan berkumpulnya para wakil
tetap OPEC di Jenewa itu tak akan menghasilkan keputusan apa
pun. Kepada TEMPO, Menteri Sadli menjelaskan bahwa rencana
pertemuan di Jenewa itu timbul atas ajakan Dr Valentin
Hernandez, wakil tetap Venezuela, yang merasa amat prihatin.

Tanpa menyebut akan hadirnya Yamani dan Amouzegar, dari
markas-besar OPEC di Wina terbetik berita bahwa ajakan Hernandez
itu "disambut oleh mayoritas OPEC." Tapi bisa dipastikan bahwa
Irak--sebagaimana juga di Caracas--tak akan hadir. Irak merasa
percuma saja untuk berunding, karena Syah Iran kabarnya tetap
bersikeras untuk membekukan harga sampai akhir tahun 1978.

Kalau kemungkinan naiknya harga tertutup dalam waktu dekat ini,
maka yang masih bisa dikerjakan OPEC sekarang barangkali adalah
membicarakan usul Kuwait agar merobah sistim pembayaran harga
minyak. Adalah Kuwait yang kembali mengingatkan agar harga
minyak tak lagi dikaitkan dengan dollar AS, tapi dikaitkan
dengan index beberapa mata-uang kuat lainnya.

Usul kuat itu sesungguhnya sudah sering juga dikemukakan oleh
beberapa anggota lain, tapi belum pernah difikirkan secara
serius. Bahkan ide untuk menggunakan index SDR (Special Drawing
Rights) sebagai pengganti dollar dalam perhitungan harga minyak
pernah dilontarkan pada 1975.

Banyak yang berpendapat penggunaan SDR sebagai alat perhitungan
harga minyak akan menguntungkan baik konsumen maupun produsen
minyak. Dengan menggunakan SDR, yang indexnya didasarkan atas
sejumlah mata-uang kuat di dunia, maka nilai riil penghasilan
negara pengekspor minyak tak tergantung dari fluktuasi nilai
satu mata uang saja. Nilai penghasilannya bisa terjaga dari
berobahnya nilai mata-uang tertentu.

Andaikata OPEC kelak setuju untuk merobah cara dengan
mnggunakan index SDR, pada dirinya ini bisa merupakan tindakan
menaikkan harga secara halus, tanpa mengundang reaksi
negara-negara induk industri. Memang dengan digunakannya SDR
tak berarti bahwa pembayaran secara fisik akan dilakukan dengan
SDR. Sebab SDR hanya ada sebagai sistim pembukuan antar bank
sentral dan IMF.

Pembayaran bisa tetap berl.mgsung dalam mata-uang dollar, hanya
catatan harganya berobah sesuai dengan berobahnya kurs mata-uang
tersebut terhadap SDR. Tapi mengingat minyak erat kaitannya
dengan politik, soalnya terpulang pada Arab Saudi juga.
Mungkinkah Saudi mendesakkan kartu truf minyaknya lebih keras
kepada Presiden Jimmy Carter, setelah pemboman dan pendudukan
tentara Israel di bagian selatan Lebanon? Ini masih harus
ditunggu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data