Nyaman Dipandang, Gampang Di ... Pameran lukisan batik karya abas alibasyah di ruang pameran
tim jakarta tak berhasil menyakinkan sebagai karya bermutu.
karya lukis batik akan berhenti sebagai hiasan dinding. (sr) |
SEBENARNYA agak aneh, jika batik ditolak sebagai media seni
lukis modern. Seni lukis batik masih dua dimensi, punya unsur
garis, bidang, warna. Apa kurangnya?
Tapi seni lukis batik dikerjakan banyak tangan. Ada unsur
ketaksengajaan yang besar yang menentukan hasil. Lagi pula ia
melalui proses kimiawi. Begitu kalau tidak khilaf alasan mereka
yang keberatan.
Tetapi, lagi, sekarang toh banyak karya seni yang proses
pembentukannya ditangani banyak orang. Dan unsur ketaksengajaan
itu, siapa bilang hanya ada pada seni lukis batik? Kalau Affandi
mengguyur kanvasnya dengan minyak, apa dia bisa mengatur
lelehannya sedemikian rupa hingga persis menurut kehendaknya?
Tapi jika mutu yang dipersoalkan-bahwa sampai kini belum ada
karya seni lukis batik yang baik--itu toh biasa. Dan kayaknya
memang benar begitu. Sembilan puluh lima karya lukis batik Abas
Alibasyah yang tergantung di Ruang Pameran TIM, 21-26 Pebruari,
pun tak berhasil meyakinkan sebagai karya bermutu.
Karya Abas tahun-tahun akhir limapuluhan dan awal enam-puluhan
menarik. Dengan cat yang tebal-tebal, yang menimbulkan tekstur
garang, dengan mengambil motif-motif celengan dan ragam hias
lainnya, ia menyumbang keragaman seni lukis Indonesia. Sosok
kanvasnya yang besar-besar waktu itu mampu memukau orang,
memberikan rasa gagah. Meski ragam hias yang menjadi motifnya,
secara detil tak penting. Keseluruhan sosok dan getaran tekstur
itulah yang penting.
Kemudian karya Abas memang menurun. Lukisan non-figuratifnya
kehilangan sifat-sifat itu. Nampaknya besama lenyapnya
motif-motif ragam luasnya, juga lenyap semangatnya. Ongokan cat
yang dulu begitu meyakinkan kemudian hanya terasa sebagai
intensitas klise pada karya akhir enam puluhan. Intensitas dan
ketegangan artistiknya lumer. Terfikir: bagaimana seandainya
Abas bikin karya lukis batik dulu ketika lukisannya masih gagah
dan garang?
Anjlog
Pertanyaan yang sia-sia memang. Tapi setidaknya memberi gambaran
kenapa karya lukis batik Abas kini juga anjlog. Saya sendiri
percaya bahwa karya lukis batik akan bermutu bila kreatornya
seorang pelukis yang baik dan menguasai teknik perbatikan.
Teknik perbatikan yang dimaksud bukanlah melulu proses pembuatan
batik. Para pelukis batik mungkin tak tahu, atau sengaja
melupakan bagaimana motif batik tradisionil itu. Bukan untuk
mengambil gampangnya saja, bila orang berhemat warna dengan
batik atau menciptakan batik dengan motif diulang-ulang
(repetisi bentuk). Teknik batik yang tak memungkinkan
spontanitas goresan memang sangat mampu membeli bentuk ekspresif
bila tak terlalu banyak kombinasi warna dan sekaligus
menyuguhkan pengulangan bentuk. Satu bentuk bulat telur (motif
kawung) yang diulang sekian kali jelas jauh lebih tampil
daripada kombinasi bentuk-bentuk.
Itulah kelemahan utama yang saya lihat pada seni lukis batik
modern kini: sebagian mencoba menggambar dengan teknik batik
sebagian lain mencoba meneterjemahkan gaya lukisnya (yang
ditemukan bukan lewat media balik) dalam teknik batik.
Jadinya seni lukis dengan teknik batik. Tanpa keistimewaan,
dan justru menurunkan intensitas artistik - dan bukan seni lukis
batik yang punya watak tersendiri (seperti jika kita mencoba
melihat watak seni lukis cat minyak dibanding yang cat air).
Ada satu perbandingan yang agaknya tepat. Batik tradisionil
dibanding seni lukis batik kini, kiranya sama dengan seni
tradisi. Tiongkok dibanding karya baru yang mengambil gaya seni
tradisi tersebut. Kehilangan darah, kehilangan tenaga.
Maka, bagaimana pun sebelum seorang pelukis batik menggarap
betul potensi sesungguhnya dan watak khas batik tak akan pernah
lahir seni lukis batik bermutu. Karya lukis batik akan
berhenti sebagai hiasan dinding. Contoh: silakan anda lihat
pameran Abas kali ini. Nyaman dipandang, gampang dilupakan .
Bambang Bujono
|