Pan karya dan binah kalam Sekarang, pekerjaan wanita dapat dikerjakan oleh laki-laki &
sebaliknya. yang penting kita kuat mengerjakannya dan bisa
menopang hidup, karena pekerjaan itu sudah suratan tangan.(sd) |
KOTA yang makin membengkak, yang dihuni perut-perut yang
kosong, membuat banyak perubahan. Ada wanita mulai jadi
kondektur bis, tukang sapu jalan, tukang parkir - dulunya
pekerjaan lelaki - seperti juga ada lelaki mulai menjamah kerja
wanita.
Di Denpasar, Bali, ada makanan yang bernama lawar. Ini adalah
daging cincang dicampur darah mentah, biasanya dijajakan para
wanita. Sejak dulu wanita di sini menyunggi dagangan itu di
kepala dan menempuh jarak belasan kilometer setiap hari.
Sementara banyak lelaki susah-payah mencari kerja untuk bertahan
hidup, para wanita itu tetap aman dengan profesi mereka. Tapi
sekarang tidak. Lelaki yang biasanya doyan mengelus-elus jago
mulai ikut menjunjung dagangan sambil berteriak: "Sateeeeee,
lawaaaaaarr!"
Tidak Mau Menderita
Bapak Si Karya, yang dipanggil Pan Karya -- adalah pedagang
lawar jantan. Tubuhnya perkasa, cocok memainkan peran Rahwana
dalam drama gong. Dengan topi kumal, baju kedodoran serta celana
endek itu-itu juga, dia cukup terkenal di kalangan pelajar yang
menjadi mayoritas langganannya. Satu hari tidak kurang 15 km
diselusurinya untuk keuntungan yang pukul-rata Rp 500. Ia
menembus Jalan Wibisana, Gadung, Plawa, Kamboja, Ratna, berikut
lorong-lorongnya, berakhir di kompleks asrama Polri.
Pan Karya yang berasal dari Desa Tembuku - Kabupaten Bangli -
tak pernah kena sekolah. Karena digulung kebutuhan perut ia
terlempar ke Singaraja menjadi buruh bangunan dan tukang pecah
batu di jalan. Baru 3 tahun ini ia tampak di Denpasar. Gubuknya
nangkring di tepi Tukad (Kali) Guming yang suka meluap.
Isterinya menghasilkan 9 anak, 5 orang di antaranya mati. "Sakit
biasa saja. Tahu-tahu meninggal, tidak mau diajak menderita,"
ujar Pan Karya kepada Putu Setia dari TEMPO.
Karya, anak tertua berumur 15 tahun. Ia juga tidak pernah
sekolah, berikut adik-adiknya, kendati SD Inpres cuma 150 meter
dari rumahnya. "Tak kuat membiayai sekolah. Saya saja dulu tidak
sekolah," kata Pan Karya kasih alasan. Semua bertugas membantu
perdagangan lawar. Mereka misalnya mencari daun pisang
pembungkus. Mencari, berarti memerlukan sampai berhasil. Kalau
perlu mencari. "Soalnya bahan lawar lain seperti nangka
daging, kelapa dan sebagainya, tidak la gratis. Semua harus
dibeli di pajar. Kalau daun pisang juga beli, untungnya kecil,"
kata Pan Karya.
Setiap hari Men Karya, isteri Pan Karya, mempersiapkan dagangan
dalanl rumah berukuran 6 x 10 meter dengan perabot sederhana.
Entah masihkah orang berselera membeli kalau tahu cara
pengerjaannya. Air yang dipakai tidak bening. Lalat
berseliweran. Tapi peduli amat. Pukul 3 sore segalanya sudah
siap, dan Pan Karya dapat giliran mengedarkan.
"Dari 10 orang pembeli, pelajar," ujar Pan Karya. "Dan dari 10
pelajar, lelaki." Ini berarti, di musim liburan dagangan bisa
merosot. Misalnya bulan Desember sampai awal Januari - meskipun
rule perjalanan ditambah, masih saja dagangan tersisa. Dan
lawar, telat sedikit, langsung bisa masalah. "Ya langsung
dibuang saja," kata Pan Karya.
Malu
Sekali peristiwa salah-satu anaknya sakit. Mencret. Sadar hidup
di kota sebagai orang yang mengerti arti rumah sakit, ia membawa
anaknya ke rumah sakit umum. Berhasil disembuhkan. Tapi Pan
Karya selalu tampak menyesal merasa diperlakukan tidak adil.
Dengan getol ia mencari surat keterangan 'miskin', dengan
harapan akan diberi keringanan. Hasilnya nol. "Membayar di
rumah sakit Rp 10 ribu habis uang saya." ujarnya. "Kalau tahu
membayar mahal, lebih baik diobati di rumah. Kalau nasib jelek,
disuntik dokter pun bisa mati." Itu diucapkannya setelah anaknya
sembuh.
Dengan pendapatan yang begitu minim memang mustahil Pan Karya
bisa bertahan menghidupi keluarganya. Hidup di Denpasar memang
tidak sesulit di Jakarta, tapi bayangkan berapa mulut dia
tanggung? Lelaki ini pun mengerti. Karena itu ia berusaha
membeli seekor kuda jantan. Harga kuda Rp 150 ribu. Dicicil
setiap bulan Rp 10 ribu. Kuda kemudian dikaryakan. Sebagaimana
diketahui Denpasar tidak mengenal becak. Dan kalaupun kini
operasi bemo semakin gencar, dokar rupanya masih diberi hak
hidup. Kepada pemilik dokar yang tidak punya kuda itulah Pan
Karya berhubungan. Sehari sewa kudanya Rp 1.000, tidak termasuk
kasih makan. Jadi setelah dipotong biaya ransum, bersih jatuh ke
gubuk Pan Karya sekitar Rp 800.
Tapi anda tidak boleh terlalu banyak tahu tentang kuda Pan
Karya. Bisnis kuda ini adalah "rahasia keluarga" yang dijaganya
ketat. Ia takut sekali orang lain mendengar: saingan akan segera
muncul, lalu harga jadi rusak. Tahu sajalah, di Denpasar (atau
dimana saja) usahawan kecil sering latah dan akhirnya
menjatuhkan sesama sendiri.
Lagi pula sekarang ini, di samping dari kaum wanita,
persaingan dalam bab lawar juga datang dari seorang anak kecil
bernama Nyoman Suita. Ia berusia 11 tahun, kelas IV SD 23
Denpasar. Jualannya total jenderal bernilai kurang dari Rp.
1.000 bisa dihabiskan selama 3 jam: pukul 2 sampai 5 sore.
Berbeda dengan Pan Karya, Nyoman sebenarnya hanya tukang jual
yang menerima kondisi 10% dari si pemilik. Ia paling-paling
terima Rp. 100. Tapi baik jualan maupun tampangnya lebih bersih.
Apabila ia berdagang sambil pakai seragam sekolah. Ini perlu
sekali: bisa mendatangkan tip tidak sedikit. Orangkan jatuh
simpati melihat pelajar yang cari nafkah seratus rupiah itu.
Namun tulisan SD 23 di saku sekarang malah ia lenyapkan karena
malu. "Habis kalau dilihat teman-teman, diejek terus," kata
Nyoman.
Suratan Tangan
Sebelum jadi penjual lawar, Nyoman yang berumur sekitar 10
tahun ini kerja malam di sekitar bioskop Lila Bhuwana. Kalau ada
motor ditinggal pemiliknya, ia segera membersihkan. Setelah
selesai, lapnya ditaruh di tempat duduk. Untuk itu ia bisa dapat
Rp. 25, seringkali Rp. 50 per motor. Tidak jarang juga umpatan:
"Salah kamu sendiri. Siapa yang suruh bersihkan?"
Jadi pekerjaan setengah memaksa itu terlalu banyak resikonya. Ia
diejek sebagai anak gelandangan, pulang terlalu larut, pelajaran
terbengkalai. Lagi pula makin hari makin banyak saingan. Karena
itu ia jadi penjual lawar, meskipun keuntungan tipis. Apa lagi
ia sebenarnya masih punya orangtua yang mengurus hidupnya meski
hampir tak pernah memberi uang saku. Jadi untuk apa 10% komisi
yang diterimanya dari pemilik lawar? Nyoman menjawab tenang:
"Untuk nonton film."
Di Yogya, ada Nyonya Binah Kalam. Ia membuka bengkel bersama
suaminya yang disebut Pak Kalam. Nyonya ini tidak hanya duduk di
depan meja mengurusi bon-bon atau surat-surat motor yang masuk
bengkel. Ia langsung turun tangan menjamah oli menangani motor
yang rusak, pekerjaan yang lazimnya dilakukan laki-laki macam
Pan Karya. Tapi betulkah tidak ada pilihan lain? Nyonya ini
bilang, dia juga melayani pekerjaan menjahit.
Jadi kerja kasar maupun halus ya sama saja, asal kuat dan
menopang hidup. "Pekerjaan itu sudah suratan tangan," kata
Nyonya Binah Kalam. "Seperti Tuhan menjodohkan saya dengan pak
Kalam."
|