Ia tak pandai bicara Ireng maulana dkk tampil di tim, jakarta. penampilan "jazz
spot'78" terasa kaku, karena para pendukung muda itu kikuk.
acara ini diperbaiki oleh karim, bob tutupoly dan mus
mualim.(ms) |
21 Pebruari malam lalu mengejutkan publik jazz. Baru sekitar 15
menit loket Teater Besar TIM dibuka, karcis Rp 1000 dan Rp 1500
sudah habis. Banyak yang terpaksa pulang, tapi masih banyak yang
bersedia berdiri menonton Ireng Maulana dan kawan-kawan. Apa ada
yang baru?
Pucat wajahnya, Ireng masih seperti setahun silam ketika pulang
dari Amerika. Polos dan formil. Kurang pandai bicara, tapi
omongan cedalnya kadang memancing gelak. Dengan Blue, Rondo a la
Turk (Dave Brubeck) - sebagai pembuka yang dilanjutkan denan
Senyum ( A. Usman), penampilan 'Jazz Spot 78' itu terasa kaku.
Ireng sudah berusaha mengajak hadirin terlibat, tapi apa daya.
Setiap instrumen, sampai 10 menit pergelaran kehilangan
pemiliknya. Bayangan rasa kikuk, kaku, merayap di wajah para
pendukung yang muda. Untunglah masuk seorang anak muda ceking
berambut kribo. Namanya Karim. Ia kemudian menabuh tongonya
dalam gaya Amerika Tengah (Kuban), mengantar Double Deal (eorge
Shearing). Hendrawijaya menyambutnya dengan piano. Baru terasa
suasana panggung yang hidup. Apalagi Wiharto menimpalinya dengan
tiupan flut mantap.
Kerjasama terbukti merupakan unsur penting. Improvisasi yang
baik, ternyata hanya bisa dihasilkan kalau setiap lawan bermain
hadir tidak sebagai orang asing. Hal ini naik ke permukaan
manakala Hendra dengan pianonya mengayun The Entertainer (Scott
Joplin) dalam irama ragtime.
Sejak awal, bekas juara elekton itu mengendalikan penuh keutuhan
komposisi. Petikan bas Dicky Prawoto yang menyusup kian ke mari
menambah semarak permainan. Kerjasama yang kompak tetap
mendukung karakter lagu yang "kendor dan melodius" itu. Hendra
berhasil melakukan kontrol yang bagus sehingga ia kelihatan
menonjol di babak pertama.
Lalu Kiboud mengambil alih perhatian penonton. Duduk dengan
gitar klasiknya, ia memetik komposisi dr. Macoomba (Earl Klug).
Berbeda dengan nafas ragtime yano melodius, komposisi Macoomba
ini ruwet masuk telinga meski Kiboud sudah menolongnya dengan
petikan yang bersih. Alhamdulillah Bob Tutupoly masuk panggung.
Suasana kaku dan kikuk dijungkirkannya dengan bercas-cus sejenak
kepada publik. Suaranya yang serak tapi empuk meluncur
membawakan In The Still of The Night. Sayang Bob masih terpaku
pada gaya lagu Widuri yang sentimentil. Ia berusaha terus
memperbaiki ewat lagu Unclecided (Duke Ellington). Meskipun
pada refrain terpeleset agak parah, yang kedua ini agak
menolong. "Bob harus lebih telaten dan tekun." saran seorang
musikus di masa jedah dibelakang panggung.
Tema Ireng kali ini cuplikan dari banyak corak. Dari ragtime,
bosanova, kuban sampai hustle. Bagi para pemain ya tentunya enak
saja. Adapun penontoi tampaknya masih memerlukan persiapan
setiap perpindahan corak yang dimainkan secara bersambungan. Di
sinilah Ireng sembrono menyusun program. Beda dengan
penampilannya yang pertama tahun lalu, yang memperhatikan setiap
perubahan (mood) penonton.
Mus
Pada babak kedua ada Love is Blue (Francis Lai) dalam gaya
hustle. Terasa menjentik-jentik kaki bergoyang-goyang. Bob di
babak ini menebus kekurangannya dengan lagu Di Bawah Sinar Bulan
(Maladi) dan Shake Signora (Harry Belafonte).
Duduk di belakang organ listrik, Hendra kembali merebut
perhatian penonton lewat Chewin the rag (Scott Joplin).
Komposisi yang sederhana ini dimainkan dengan lincah berkat
dukungan banyo Kiboud. Karya Joplin itu bersandar pada garis
melodi yang kuat, sehingga enak didengar sambil minum teh
sekalipun. Tapi sebaliknya ilin Kecil (James Sundah yang
dibawakan dengan permainan utama Ireng dan Wiharto (flut dam
sax), terasa encer. Lagu pop yang sudah dikenal baik ternyata
tidak selamanya jaminan.
TABEL.
Susunan Pemain
===================================
Wiharto -- flut, sax
Tonny Suwandi -- terompet, sax
Udin -- trombone, sax
Bob Tutupoly -- vokal
Kiboud Maulana -- gitar, banjo
Ireng Maulana -- gitar
Mus Mualim -- vokal
Didy Chia -- piano organ listrik
Hendrawijaya -- piano, organ listrik
Dicky Prawoto -- bas listrik
Perry Patiselano -- bas dobel
Karim -- perkusi
Eddy Tulis -- perkusi
Benny Mustafa -- perkusi
====================================
Mus Mualim tak terduga menerobos ke panggung -- sebagai
vokalis. Megenakan kaos kuning, sosoknya yang gemuk
berlemak itu seperti kenangan itu tiba-tiba. Sudah lama sekali
ia tak muncul kan. Ia memberi aba aba kepada seluruh pemain
untuk bersama-sama mendendangkan Chega de Sandade (Antonio
Carlos Jobim) dalam nafas Amerika Latin. Karim di bongo, Benny
Mustafa dan Bob Tutupoly pada perkusi menggairahkan sekali.
Mus cuap-cuap di depan mike, repot dalam pukulan perkusi,
nyaris melupakan suaranya sendiri. Ketika musik berhenti, Mus
kelihatan payah. Sulit dipercaya lagunya merupakan nomor emas
yang menutup pertunjukan.
|