Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/IIIIIIII/04 - 10 Maret 1978
   
Lingkungan

Sebuah Contoh Di Dumai

Untuk mencegah pencemaran air laut, pt. caltex pasific indonesia mendirikan instalasi pembersih yang dapat memisahkan air dari minyak yang dinamakan ballast alias deballasting facility. (ling)

INDONESIA sendiri baru saja berkenalan dengan sistim Inggeris.
Setidak-tidaknya di Dumai, Riau, kontraktor minyak terbesar di
Indonesia, Caltex Pacific Indonesia (CPI) baru saja mendirikan
instalasi pembersih hallast alias deballasting facility.

Dua tanki pembersih yang masingmasing berkapasitas 32 ribu
barrel (sekitar 5000 kilo liter), menamputlg air laut kotor dari
perut kapal tanki. Di tanki-tanki itu, minyak dan lilin yang
lebih ringan dari air laut akan terapung, kemudian dialirkan
lagi ke alat lain untuk disaring lagi Kandungan airnya.
Sementara air laut dalam tanki pertama, masih dibersihkan lagi
sebelum dialirkan kembali ke laut.

Daya pembersih alat itu memang ada batasnya. Dari seluruh proses
pembersihan itu baru dapat dihilangkan kandungan minyak sebanyak
25 ppm dalam air laut penyeimbang kapal itu. Tapi hasilnya bakal
cukup menguntungkan Pertamina. Menurut sumber TEMPO di Dumai,
dari sekitar 64 ribu barrel air laut kotor yang dibersihkan tiap
hari diperoleh 5 sampai 6 barrel minyak bumi. Itu berarti
penghasilan kotor sebanyak 60 sampai 90 dollar AS sehari.

Itu sebabnya diharapkan ada baiknya penerapan hasil konferensi
IMCO di London serta kewajiban menggunakan instalasi penyaring
ballast di Dumai itu dibawakan juga ke sidang pengendalian
polusi minyak Selat Malaka Oktober mendatang.

Tapi apapun keputusan yang mau diambil Oktober nanti, kompromi
IMCO memang merupakan kebijaksanaan minimal. Sebab bagaimana
pun, genangan minyak akibat 4300 kapal tanki yang lalu lalang di
Selat Malaka tiap tahun harus diatasi. Selain mengancam
kelestarian ikan dan penghasilan nelayan, keselamatan navigasi
kapal tanki pun terancam. Tabrakan dua tanker raksasa berukuran
300 ribu ton bobot mati di perairan Afrika Selatan, Desember
lalu misalnya, antara lain diduga lantaran 'licin'nya perairan
di sana akibat buangan minyak dan ballast. Belum lagi risiko
kebakaran yang lebih cepat merambat karena miyak yang mengapung
di muka laut itu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data