Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/IIIIIIII/04 - 10 Maret 1978
   
Lingkungan

Tanker Yang Bagaimana ?

Konferensi international imco, membicarakan keselamatan kapal tanki & cara-cara mencegah polusi air laut hasilnya: kapal tanki berbobot mati diatas 40 ribu ton harus menggunakan salah 1 sistim.(ling)

KAPAL tanki Delima 112 dengan kapasitas muat 11 ribu barrel
b.b.m. (bahan bakar minyak), terbakar dan meledak di pelabuhan
Rumbai (Riau), 9 Pebruari lalu. Untung saja hampir seluruh
muatan premium, solar dan minyak tanah di kapal carteran Caltex
itu sudah hampir selesai dibongkar. Sehingga tinggal 2.000
barrel (sekitar 150 kilo liter) bahan bakar minyak yang ikut
musnah dan mengotori Selatan Malaka.

Musibah di Riau itu hanya sempat jadi berita sehari saja. Tapi
berberengan dengan malapetaka itu. di London sedang
berlangsung konferensi internasional tentang keselamatan kapal
tanki serta pencegahan polusi minyak. Pertemuan dua minggu
yang dihadiri 360 peserta dari 60 negara itu diselenggarakan
oleh Inter-governmental-Maritime Consultative Organization
(IMCO) yang bernaung di bawah PBB.

Kecelakaan tanker seperti Delima 112 itu atau Showa Maru awal
1974. memang sangat spektakuler. Tapi sebenarnya, andil
kecelakaan kapal tanki dalam menumpahkan minyak ke samudera
masih kalah jauh dibanding dengan pembuangan minyak secara rutin
dari kapal tanki ke laut.

Soalnya, dalam perjalanan pulang dari negeri konsumen ke negeri
produsen minyak, tanki-tanki kapal yang kosong diisi air laut
guna menstabilkan pelayaran. Muatan air laut yang disebut
ballast itu kemudian dibuang kembali ke laut apabila kapai sudah
mendekati pelabuhan ekspor. Bersama ail laut iu. Sisa-sisa
minyak ikut terbuang ke laut.

Usul Amerika: Mahal

Menurut taksiran Wardley Smith tumpahan minyak ke samudera
akibat kecelakaan tanker setahunnya hanya mencapai 300 ribu
ton. Sementara pencemaran samudera akibat pembuangan ballast itu
sedikit-dikitnya 1 juta ton minyak setahun. R.S. Ryan dari
World Feature Services malah memperkirakan, polusi samudera
akibat pembuangan ballast itu 5 X lipat jumlah minyak yang
tumpah akibat kecelakaan kapal tanki.

Itu sebabnya, konferensi IMCO di London itu lebih memusatkan
pada usaha mengurangi kejorokan operasi rutin kapal-kapal tanki.
Dalam soal itu, ada dua konsep utama yang saling bertarung
mencari pendukung di London, yakni sistim Inggeris dan sistim
Amerika.

AS -- melalui Meteri Perhubungan Brock Adams --sejak tahun lalu
sudah mengusulkan perubahan konstruksi kapal tanki. Kata Adams,
kita jangan lagi mencampurkan minyak dan air laut dalam tanki
yang sama. Buatlah tanki yang terpisah, alias sistim tanki
ganda. Yang satu khusus untuk diisi minyak mentah sedang satunya
lagi untuk diisi air laut sebagai penyeimbang pelayaran balik ke
negeri produsen. Anjuran Amerika itu khususnya ditujukan buat
kapal tanki berukuran di atas 20 ribu ton bobot mati. Lebih maju
daripada perjanjian IMCO tahun 1973 yang mewajibkan semua kapal
tanki berukuran di atas 70 ribu ton bobot mati dibangun dengan
tanki ballast yang terpisah.

Namun Inggeris merasa usul AS itu terlalu besar biayanya.
Merubah konstruksi seluruh armada kapal tanki minyak di dunia
paling sedikit ongkosnya akan mencapai 3 juta poundsterling
sekitar Rp 2'h milyar) per kapal - œ « juta untuk penyesuaian
fisik kapal tanki tersebut, dan selebihnya merupakan kerugian
lantaran menyusutnya muatan minyak kapal itu sebanyak 15%. Buat
Inggeris yang menguasai 11% dari seluruh armada kapal tanki
dunia, kerugian yang dideritanya dapat mencapai œ150 juta--atau
Rp 112,5 milyar.

Lalu, apa usul Inggeris? Biarkan saja kapal-kapal tersebut
mengisi tanki minyaknya yang kosong dengan air laut, tapi jangan
buang cairan ballast itu begitu saja ke laut. Air laut bercampur
minyak itu, hendaknya ditampung dulu dalam suatu instalasi
penjernihan yang memisahkan air dari minyak. Kemudian baru air
laut yang sudah bersih itu dialirkan kembali ke swnbernya.
Sementara minyak yang sudah terpisah dari cairan ballast itu,
malah dapat dimanfaatkan kembali. Jadi jauh lebih hemat dan
murah ketimbang sistim Amerika yang salah satu tujuan
sampingannya adalah memberi pekerjaan kepada dok-dok yang sedang
nganggur.

Selama konferensi yang dua minggu itu, perdebatan antara
pendukung sistim AS dan sistim Inggeris itu kabarnya berjalan
cukup seru. Sehingga seperti diberitakan dari London, dua minggu
lalu, konferensi akhirnya membuat kompromi. IMCO tak mewajibkan
penerapan sistim AS maupun Inggeris. Namun setiap kapal tanki
minyak dengan bobot mati di atas 40 ribu ton, diwajibkan
menggunakan satu di antara dua sistim itu. Jadi: mernbuat tanki
ballast yang terpisah dari tanki minyak. Atau menyaring kembali
air laut yang digunakan sebagai ballast, sebelum dibuang kembali
ke laut.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data