Ayunlah ke arah bendul, ayun dari... Balla lompoa, bangunan di sungguminasa, sul-sel, bekas istana
raja gowa, dibangun thn 1936 untuk raja gowa ke-36. kini
fungsinya berubah untuk persidangan dprd dati ii kabupaten
gowa, kursus, lokakarya, dll. (ils) |
DI Sunggumina Sulawesi Selat ada ada sebuah bangunan. Penduduk
setempat menyebutnya Balla Lompoa. Artinya istana kerajaan. Itu
gedung besar berpanggung beratap hitam, bekas istana Raja Gowa
yang dibangun belum lama, tahun 1936, untuk Raja Gowa yang ke-36
pula.
Pemangku kerajaan Gowa ini bernama Daeng Mattutu. Setelah
dilantik tahun 1933, bergelar Karaeng Bontonompo - alias Karaeng
Caddi Bangkang, atau Raja Berkaki Kecil. Gelar yang terakhir ini
kenang-kenangan baginya. Karena ketika Belanda mendarat di
Pantai Barombong di tahun 1905, calon raja yang waktu itu masih
bernama Daeng Mattutu terkena peluru pada kakinya. Nyawanya
selamat, tapi pertumbuhan kaki untuk selanjutnya jadi terhambat.
Songkabala
Istana Raja tersebut mcmang bangunan yang terbesar untuk daerah
situ. Rumah induk saja berukuran 50 x 22 meter. Kini fungsinya
telah berobah: tempat persidangan DPRD Dati II Kabupaten Gowa.
Pinggiran yang lain digunakan untuk kursus, lokakarya atau
training center.
Karena fungsinya yang multi itu, bentuk aslinya sudah banyak
berobah walaupun belum total. Beberapa tiang yang sudah tidak
koloh lagi kini diperkencang dengan sekrup (pada konstruksi
bangunan yang asli sekrup tidak pernah dipakai: tiang dan pasak
cull1a diikat kuat-kuat, setelah pangkal tiang ditanam sedalam 2
meter). Kepala Seksi Kebudayaan Gova Kaharuddin C'alla, berkata
bahwa balla lompoa ini akan dipugar.
Hingga kini, perabot dan alat perang sebagai peninggalan zaman
dulu masih tetap dipelihara. Kebiasaan Kerajan Gowa sendiri
masih diingat penduduk setempat. Misalnya kebiasaan menimbang
semua alat perang dan perabot sewaktu raja masih berkuasa setiap
tahun. Kalau timbangan berat, ini pertanda buah-buahan dan
tanaman lain akan mengalami panen yang baik.
Kalau timbangan dirasa enteng, biasanya berkumpullah keluarga
raja di istana. Upacara mencegah malapetaka, segera diadakan,
dengan mempersembahkan sesajian. Ini disebut songkabala.
Raja kemudian menganjurkan rakyatnya untuk juga mengadakan
songkabala Sesajian biasanya cuma berupa kapur sirih. Lalu kalau
dirasa permohonan dikabulkan Yang Maha Kuasa pesta yang lebih
besar pun diadakan di istana.
Di situ biasanya beberapa ekor kerbau tumbang. Semua keluarga
raja dan penghulu adat hadir. Manakala sang kerbau dipegang
kepalanya untuk dipotong genderang pun dibunyikan bertalu-talu
maju ke muka sepasang kawe-kawe - kini lazim disebut wadam -
dan saling baku tikam. Tentu saja tikaman main-main, dan tak
seorang pun cedera.
Keduanya kemudian bersajak, dalam bahasa Bissu logat Makassar.
Antara lain: ToEngi bambo, ToEngi Tanrenrappoha, Tanreng
Rappona Tanreng Paddingkolenganna. (Ayunlah ke arah bendul,
ayun dari tempat bergantungnya. Pergantungan buahnya
pergantungan tangkainya). Ringkas cerita: madah yang melukiskan
kebesaran dan kekuasaan Tuhan yang bisa mendatangkan hujan dan
panas.
Isi istana sendiri banyak yang menarik. Di bilik bagian tengah
ada sebuah ranjang yang hingga kini ditutup dengan kain kelambu
merah. Dalam ranjang misterius itu ada bantal dan guling, dan
sebuah peti uang yang kabarnya berisi barang berharga seperti
emas-perak milik Kerajaan. Di depan ranjang, sebaris tombak
perang. Di kanan-kiri ranjang ada foto Pahlawan Sultan
Hasanuddin. Foto ini mungkin digantung belakangan.
Dan banyak peninggalan lainnya yang untung saja tidak
"melancong" ke luar istana lewat turis atau penduduk. Ada satu
benda lagi yang hingga kini masih dlpakai orang setiap malam
Jum'at atau Senin. Tempat lilin merah. Biasanya, keturunan raja
atau penjabat membakar lilin tersebut untuk sesuatu hajat.
Ada pula 9 pasang pakaian kebesaran model toga, diberi nama bate
salapang. Ini melukiskan babwa Gowa dulu membawahi sembilan buah
kerajaan kecil yang sekarang menjadi wilayah kecamatan. Pakaian
ini khusus dikenakan para pemangku kerajaan kecil setiap
pertemuan dengan Raja. Hingga kini, bila saat turun sawah
mendekat, bate salapang diarak keliling desa bersama seorang
gadis yang kesurupan. Setahun sekali pakaian ini dicuci di sumur
kebesaran Raja dekat makam Pahlawan Sultan Hasanuddin. Tidak
dijelaskan apakah air bekas mencuci pakaian Raja juga bisa
mendatangkan berkah.
Tammadakkaiya
Sebilah keris tanpa gagang, terbuat dari emas, masih tetap
disimpan. Keris yang bernama Tammadakkaiya ini konon sakti.
Siapa saja yang dilukainya, biar sekecil apa pun melayang
nyawanya. Penduduk sana malah pereaya bahwa kalau ada seseorang
yang tidak disenangi Tammalakkaiya bisa disuruh meluncur
menemui sasaran. Keris akan kembali, dan kalau pada ujungnya
ada tanda merah berarti kerja keris sebagai peluru kendali
sukses.
Raja Gowa dan istananya memang penuh cerita gaib angker dari
sulit dipercaya, untuk aman ini. Tapi rahyat di sana cenderung
tidak melanggar apa-apa yang digariskan. Misalnya, tidak boleh
Sekarang pun lewat di depan Istana tanpa memberi hormat.
Penunggang kuda harus turun dari kudanya, pejalan kaki harus
membungkuk.
|