Seperti Mobil Mogok Dorongan pemerintah nampaknya tidak menolong industri
kerajinan. pengusaha kerajinan membutuhkan kredit bank dengan
bunga yang kecil, mendapat korting tarif angkutan, prosedur
ekspor yang rumit & desain. (eb) |
DORONGAN pemerintah sudah dicoba dari berbagai segi - pemasaran
(BPN, oeparteman Perdagangan) produksi (BPIK, Departemen
Perindustrian) dan anjuran (Departemen P & K untuk mereka yang
putus sekolah). Namun usaha industri kerajinan masih seperti
mobil mogok. Didorong, didorong, ya majunya sedikit.
Kesan ini terdengar minggu ialu ketika berlangsung mini-fair,
pameran kecil di paviliun ekspor, arena Pekan Raya Jakarta.
Terdapat hanya 12 peserta dari 40 perusahaan yang diundang.
Rombongan dari Haywrights Ltd, yang memiliki rantai toserba
(toko serba-ada) di Selandia Baru, adalah pengunjung utama.
Mereka khusus datang dalam rangka membelanjakan US$ 100.000 di
semua negara Asean. Jadi, mini-fair itu diharapkan bisa menjual
sebanyak US$20.000 pada Hay wrights guna keperluan Pekan Promosi
Dagang Asean di negerinya bulan Mei/Juni nanti.
Lumayan juga. Tapi kelihatan kacau di front penjual. Contoh:
harga produsen sekian, sedang harga eksportir lain lagi. "Ini
adalah karena banyak tangan yang melibatkan diri," kata
Sebastian Tanamas, 50 tahun, Direktur Tanamas Industri & Co.
Hasil kerajinan yang berupa anyaman bambu, rotan dan pandan,
ukiran kayu, sandang (batik), perhiasan dan dekorasi (wayang),
yang terutama didorong ekspornya. Menurut Ditjen Aninkra, ekspor
kerajinan itu tahun 1977 bernilai US$ 18 ,3 juta, naik dari
US$8,4 juta pada tahun sebelunmya. Tahun ini pemerintah ingin
mendorongnya lagi dengan usance L/C, tapi fasilitas tersebut
tidak bermanfaat bagi kebanyakan eksportir berhubung stok
kerajinan mereka umumnya masih berjumlah kecil. Jadi, di sini
tampak adanya fasilitas yang tak mengena sasaran.
Berbicara dengan para pengusaha kerajinan, Yunus Kasim dari
TEMPO menyimpulkan hal-hal yang mereka sangat perlukan, seperti:
Kredit bank --Di Pilipina ini gampang diperoleh dengan bunga 6%
setahun. Dengan modal pinjaman dari bank itu, para pengrajin
Pilipina dalam berproduksi tidak lagi memikirkan soal seliter
beras. Di Indonesia ada KIK. Tapi sukar mengurusnya.
Eksportir - Di India, misalnya, eksportir mendapat korting 40%
dari tarif angkutan udara. Korting itu di Indonesia tidak ada,
malah lebih mahal 25-30% dari tarif non-IATA. Untuk angkutan
laut di Indonesia 30% lebih mahal dibanding dengan dari
Singapura ke Eropa. Di Tg. Priok pungutan pelayanan barang Rp
7.000 s/d Rp 10.000 per m3, sedang di Singapura pungutan seperti
itu tidak ada. Pungli masih belum lenyap. Bank dan Departemen
Perdagangan biasanya menganggap eksportir sebagai tergolong
besar, hingga eksportir kerajinan yang sebenarnya kecil pun
diberi kartu APE yang berwarna kuning. Akibatnya pemegang kartu
kuning itu dianggap tidak layak menerima fasilitas Kredit Modal
Kerja Permanen.
Prosedur ekspor - Untuk mengisl formulir E selengkapnya,
produsen-eksportir biasanya sukar mengikuti irama Priok. Ia
diminta bolak-balik. "Bagi saya yang tinggal di Bandung, ini
berabe," kata H. Soetomo Kaoem, 40 tahun, Direktur CV Innatex.
Bisakah dipermudah khusus untuk kerajinan?
Disain - Dari luar negeri selalu datang tawaran tenaga
ahli.disain. Produsen di sini terbentur menerimanya karena
ketiadaan workshop, tempat bekerja yang layak. Untuk itu
diperlukan modal sedikitnya Rp 75 juta. Dari mana?
|