HUT Tempo Ke-8 Majalah tempo hut ke-8. konsep majalah ini berdasarkan
kebutuhan akan tambahnya bacaan sehat & sarana informasi yang
jujur, jelas & jernih. tidak memihak satu golongan bukan
berarti menyenangkan semua pihak. |
MENGUTIP diri-sendiri bisa menjemukan diri-sendiri. Tapi
pekan ini TEMPO memulai lagi nomor baru yang pertama di tahun
ke-8, tahun barunya, dan kami ingin melihat kembali dari mana
semua ini bertolak.
Tujuh tahun yang lalu, menurut catatan, d'alam pengantar redaksi
untuk nomor perkenalan TEMPO tertulis alasan kenapa majalah ini
terbit. "Konsep majalah ini," demikian di sana tercantum,
"sepenuhnya berdasarkan kebutuhan masyarakat Indonesia sekarang:
kebutuhan akan tambahnya bacaan sehat dan kebutuhan akan sarana
informasi yang jujur, jelas, jernih. Asas jurnalisme kami oleh
sebab itu bukanlah asas jurnlisme politik, yang memihak satu
golongan. Kami percaya bahwa kebajikan, juga ketidak-bajikan,
tidak menjadi monopoli satu pihak. Kami percaya bahwa tugas pers
bukanlah menyebarkan prasangka, justru melenyapkannya, bukan
membenihkan kebencian, melainkan mengkomunikasikan saling
pengerian.
Mudah-mudahan, semua itu bukanlah omong kosong besar, tujuh
tahun kemudian. Mungkin ada para pembaca yang kecewa, mungkin
ada pembaca yang tidak, tentang kwalitas yang telah
diperlihatkan di halaman-halaman majalah hli semenjak nomor
perkenalan itu. Tapi asas seperti yang tercantum di atas rasanya
tak pernah kami lupakan -meskipun harus dicatat bahwa jurnalisme
vang tidak memihak satu golongan bukan berarti jurnalisme yang
harus bisa menyenangkan semua pihak.
Memang, pada saat pers mengambil posisi bukan sebagai pers
partisan, dan lebih cenderung menjadi sejenis usaha dagang, ada
dorongan kuat untuk bisa menyenangkan semua pihak. Dan harus
diakui, dorongan seperti itu terdapat juga dalam majalah ini.
Tradisi pers perjuangan, sikap pers partisan, memang belum punah
dari Indonesia --karena pers sedemikian itu pula yang ikut
melahirkan Republik. Tapi paling tidak, ketika wartawan mulai
hidup dari sehatnya bisnis tempat ia bekerja, ia pun lebih jadi
"profesional" ketimbang "pe juang". Berita bukan lagi seperti
peluru tapi lebih seperti komoditi. Dengan catatan bahwa suatu
komoditi tertentu yang menyenangkan A, belum tentu menyenangkan
B.
Hal buruk yang bisa terjadi ialah bila konsumen A berada dalam
posisi yang sedemikian kuat, sehingga pers tergoda untuk
melalaikan kepentingan konsumen B. Hal yang buruk yang bisa
terjadi ialah bila pada saat itu kita tidak kembali
mempersoalkan kemerdekaan-setidaknya kemerdekaan untuk berbuat
adil.
Tentu saja kita tidak bisa bertolak dari ilusi, bahwa begitu
pers Indonesia lahir, begitu kemerdekaan langsung tersedia penuh
baginya, seperti oksigen. Negeri ini tidak diahirkan dari
fikiran Thomas Jefferson. Meskipun demikian, di negeri ini
kemerdekaan toh tidak dicoret mati. Kita tidak dikutuk secara
beramai-ramai bila kita menyatakan bahwa kita butuh kemerdekaan.
Seakan ditopang oleh pengalaman sejarah yan silam dan harapan
ke masa depan, kita --termasuk pemerintah --seperti sepakat
meyakini bahwa bila kemerdekaan mampet, banyak hal lain akan
ikut macet.
Barangkali karena sebagai bangsa yang begitu beragam--kita butuh
berbicara satu sama lain. Ada sesuatu yang murni yang
menyebabkan kita bersedia menembus lingkaran-lingkaran monolog
yang tertutup Seperti anak yang berjalan malam, kita takut
kepada suara sendiri yang tak berjawab.
Agaknya itu pulalah sebabnya raja, dalam Artkasastra karya
Kautilya di sekitar 300 tahun sebelum Masehi, biasa mengirimkan
spion-spionnya ke kalangan penduduk. Bukan buat memata-matai.
Mereka menyusup ke dalam kelompok orang-arang malah untuk
menerbitkan debat dan diskusi tentang masalah-masalah
kenegaraan. Pendapat mereka digalakkan, untuk didengar, sebab
sang raja tidak ingin memilih kesepian dan kemudian kesalahan.
Mengatasi kesendirian, agaknya itulah juga peran sebuah media.
Mungkin kami belum berhasil, tapi ijinkanlah kami kali ini
bersukur. Sebuah hari ulang tahun baru terasa pada saat kita
merasakan bagaimana pentingnya hidup, dan betapa besarnya
risiko. Dan juga bagai mana pemberian Tuhan yang seakan akan
biasa, ternyata begitu berarti.
|