Kepada setiap orang istiqlal:... Tentang pendirian masjid istiqlal mulai dari perencanaan,
bahan dan biaya serta bedug besar di dekat menara dengan
arsitektur yang netral, masjid ini terasa ramah pada setiap
orang. (ag) |
JULI 1955, Presiden Sukarno menutup pengantarnya untuk buku
Sedjarah Mesjid yang disusun H. Abdoebakar dengan sebuah
pertanyaan: "Kapan mesjid Istiqlal terlaksana?" Hampir
seperempat abad kemudian, pekan lalu, kepala negara yang
menggantikannya, Presiden Soeharto, seolah-olah menjawab: 22
Pebruari 1978. Di hari itu ia meresmikan penggunaan mesjid besar
yang bisa menampung 100.000 orang itu.
Sebenarnya mesjid itu belum sepenuhnya selesai. Arsiteknya, F.
Silaban, kini 67 tahun, yang ketika mulai membagun Istiqlal
masih berumur di bawah 50 tahun, juga belum tahu kapan mesjid
secara final selesai. "Biayanya 'kan besar," kata Silabam ia
menambahkan bahwa biaya penyelesaiannya akan jauh lebih besar
dari yang sudah dikeluarkan selama ini. Secara terperinci biaya
yang sudah keluar disebut sebesar Rp 12.447. 003.655,36 uang
lama dan Rp 18.353. 992.221,72 uang baru.
Mencium Kaki Pak Harto
Tapi Silaban, yang membuat perencanaan komplit sampai ke seluruh
bagian dalam, bukan orang yang takut pada biaya raksasa. Ia
bersikeras menolak untuk menggunakan kayu --seperti yang
diusulkan sementara pejabat kepadanya--di mana ia bertekad untuk
memakai stainless steel (baja tak berkarat). "Ini bukan
kegenitan," katanya, "tapi sebab sudah ada janji kepada rakyat
bahwa bangunan ini akan tahan seribu tahun."
Juga dalam bahan mtuk kubah ia tak mau ditawar-tawar: bagian
luarnya harus dibuat dari keramik asal Jerman yang sangat mahal
tapi bagus dan tahan api. "Saya meminta kepada Presiden Soeharto
agar dalam soal kubah itu keinginan saya tidak ditawar-tawar,"
katanya pula kepada wartawan TEMPO Klarawijaya. "Kalau itu
dilaksanakan, saya akan mencium kaki Pak Harto." Dan menurut
ceritanya sendiri, ia memang menunaikan janjinya itu waktu
menghadap Presiden di Bina Graha. "Jangan kultus individu," kata
Presiden--tapi Silaban langsung saja berlutut di lantai dan
mencium kaki Kepala Negara di bawah meja.
Menjelang upacara peresmiannya, Silaban sendiri jatuh sakit
karena terlalu keras bekerja menyiapkan hari itu. Tapi bangunan
kebanggaannya--yang selama dalam proses pernah nyaris gagal oleh
korupsi--sejak pekan lalu rasanya makin yakin akan tak
terganggu.
Berbeda dengan mesjid-mesjid yang lain, Istiqlal lebih merupakan
jajaran tiang yang amat akrab dengan udara luar. Seluruh
dindingnya bolong, sehingga angin leluasa menggelinding
menerobos dari semua sisi. Ini tidak saja membuat sistim
pengaturan udara sehat, tetapi juga menambah kesan seakan-akan
gedung itu tak selesai. Tapi justru ini merupakan imbangan yang
bagus sekali terhadap kesan kemewahan yang tadinya hampir muncul
akibat besarnya bangunan. Dan kalau boleh dicari-cari terasa ada
semacam keterbukaan, sehingga bangunan ini biarpun minta ampun
besar dan kuatnya tapi tidak kehilangan keakraban.
Gedung Induk luasnya 1 hektar, bertingkat 5 dengan kubah
bergaris tengah 45 meter. Di pucuknya dipasang bulan bintang
dengan garis tengah 3 meter. Di dalamnya terdapat 12 buah tiang
besar dan tinggi yang benar-benar memberikan rasa kecil.
Sementara bagian dalam kubah yang cekung berwarna abu-abu hitam
dengan ornamen yang dingin, selalu terasa menekan, sehingga
setiap orang yang berada di dalam ruangan selalu ingin melihat
tengadah. Hampir menyerupai suasana stadion yang seperti sebuah
nol besar, tempat berkumpul dan tempat orang tidak bedanya
dengan orang lain.
Tidak ada ornamen-ornamen yang spesifik Islam - kecuali selembar
kain di mimbar yang berisi tulisan Arab. Mungkin ini menjadikan
bangunan seperti netral, kurang wama ke-Islam-annya. Kadangkala
kita merasa seperti berada dalam sebuah katedral, kadangkala
seperti dalam sebuah kuil Budhis, atau airport untuk ke angkasa
luar. Entah kenapa berbagai rasa bersatu dalam ruang ciptaan
Silaban itu.
Sang Bedug
Gedung Pendahuluan sebaliknya dengan kubah tandingan yang
bergaya Arab kelihatan amat molek. Di sini ada tangga-tangga
yang bisa mengantarkan ke segala tingkat Gedung Induk. Bangunan
ini benar-benar memberikan karakter yang khas Islam. Ia sama
sekali tidak tenggelam oleh kubah raksasa yang mengingatkan kita
pada Gedung Putih itu. Ia juga tidak kalah dengan bangunan
"Menara" yang meruncing ke atas setinggi 100 meter dengan garis
tengah 5 meter. Tentulah ini usaha Friedrich Silaban yang
Kristen Protestan itu untuk tetap memberikan ciri khas Islam
pada karyanya.
Badan menara yang lancip seperti hendak menembus langit itu juga
berlubang-lubang. Lantai untuk azan berada pada ketinggian 66,6
meter. Ia seperti paruh yang mengacung ke udara siap
menyemburkan seruan. Di samping cantik ia memany sempat
memberikan suasana relegius, sebagai imbangan dari bangunan
induk, yang watak relegiusnya agak samar.
Tapi yang mengganggu ialah bahwa di samping pantat menara itu
diletakkan sebuah bedug raksasa yang digantung dalam cagak
setinggi 3,80 meter penuh dengan ukiran. Ukuran vital bedug ini
3x2 meter. Beratnya 2,30 ton, terbuat dari kayu meranti merah
yang berusia 300 tahun. Ia bisa mengesankan sebagai hanya barang
titipan di ruang itu. Temperamennya tak cocok dengan suasana
yang diciptakan Silaban. Seperti bedug yang tersesat - yang
lebih sesuai untuk mesjid gaya Jawa di dekat kraton. Tapi
mungkin ini sesuai dengan selera yang banyak terdapat di
rumah-rumah VIP dewasa ini: barang ukiran di antara macam-macam
corak modern.
Tapi cukup sekian soal bedug. Ada sungai melipat dari seluruh
sisi bangunan. Kemudian ada pula kolam seluas 3 hektar dengan
air mancur di tengahnya. Mesjid ini memiliki halaman yang cukup
lebar, sehingga ada ruang yang mendukung kehadirannya. Dengan
pengolahan pertamanan di kemudian hari dapat diharapkan ia akan
menjadi bertambah ramah lagi. Hanya vang mungkin akan jadi
persoalan adalah ruang yang tersedia untuk parkir. Kalau
sepersepuluh saja dari umat yang hadir membawa kendaraan, dapat
dibayangkan bagaimana akan tumpatnya daerah itu. Pasti akan
timbul masaalah bagai mana tehnik mengalirkannya keluar masuk
tanpa mengganggu lalu lintas.
Dengan arsitektur yang sedemikian rupa, Mesjid Istiqlal
seakan-akan berkata kepada kita, bahwa tempat ibadah tetap
hanyalah sebuah tempat. Yang penting adalah manusianya sendiri
selama ia menjalankan ibadah itu. Adakah ia benar-benar
melakukannya dengan keyakinan atau hanya sekedar ikut arus.
Karena kenetralannya, masjid ini terasa ramah kepada setiap
orang, tidak hanya kepada mereka yang beragama Islam. Kemudian
terasa pula bahwa ibadah adalah sesuatu yang sederhana dan
biasa, sesuatu yang sehari-hari dan dekat. Ia memiliki
nilai-nilai kemesraan dan keakraban yang tulus.
|