Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/IIIIIII/18 - 24 Februari 1978
   
Kota

Dari Kali Mas Ke Simomulyo

Sebagian penduduk yang tergusur oleh proyek normalisasi kali mas, menempati perumnas di kelurahan simo mulyo. tetapi karena penyediaan tanah yang terbatas, maka normalisasi sungai juga agak terhambat. (kt)

DENGAN penduduk sekitar 1 « juta jiwa, perumahan termasuk soal
yang mendesak bagi Kota Surabaya. Perusahaan-perusahaan
pembangunan rumah real estate) sejak beberapa waktu lalu muncul
di mana-mana. Namun hasilnya tak banyak menolong, terutama bagi
warga kota yang berpenghasilan rendah, di kampung-kampung.

Karena itu rencana Perumnas untuk mendirikan 1.700 unit rumah di
kini hampir menjadi bahan perebutan. Mengambil tempat di
Kelurahan Simomulyo, Kecamatan Tandes di atas tanah 27 hektar,
akhir tahun ini diharapkan rumah-rumah itu sudah selesai
seluruhnya. Malahan sejak Oktober tahun lalu sebanyak 336 kepala
keluarga (KK) telah mendiami rumah-rumah tipe D20 yang ada di
sana. Mereka terdiri dari penduduk yang tergusur sehubungan
dengan Proyek Normalisasi Kali Mas yang dikerjakan Proyek
Brantas Hilir.

Tanah

Tentu saja warga baru di Simomulyo itu merasa "seperti baru
keluar dari ruang sempit" -- seperti diucapkan seorang penduduk.
Mereka yang sebelumnya tinggal di rumah-rumah setengah liar,
gubuk dan bahkan kotor dan tergenang air di musim hujan. Namun
karena kepindahan mereka agak tergesa-gesa, beberapa sarana di
tempat baru itu belum mereka rasakan. Terutama listrik yang
kabarnya masih tawar menawar soal standar biaya antara pihak PLN
dengan Perumnas.

Untung bahwa air bersih PAM dan jalan telah memasuki wilayah
perumahan baru itu. Dari pihak Kotamadya Surabaya juga rupanya
sudah jauh hari menambah jalur angkutan bemo ke Simomulyo. Namun
masalah berat satu-satunya dihadapi pihak Perumnas sendiri.
Yaitu "kurang cepatnya penyediaan tanah" seperti dituturkan R.
Setiadjid Imam Kepala Perumnas Surabaya. Maksudnya untuk
menampung penduduk yang tergusur dari Kali Mas saja sebenarnya
diperlukan tanah paling tidak 40 hektar. Hingga sebanyak 2.500
kk yang ada di sana dapat tertampung seluruhnya. Tapi menurut
Setiadjid ternyata hal itu tak mungkin, karena persediaan tanah
juga terbatas. Akibatnya bukan saja penduduk di kawasan Kali Mas
lainnya masih harus menunggu, tapi juga normalisasi sungai
itu agak terhambat.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data