Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/IIIIIII/18 - 24 Februari 1978
   
Kriminalitas

Cam Di Pantai Karawang

Di pantai ciparage, karawang telah terjadi penyelundupan oleh aparat desa. penduduk yang dipaksa membantu penyelundupan tidak berani melapor. polisi hanya menemukan sisa barang sebagai bukti. (krim)

SUDAH lebih 10 orang, terdiri daribeberapa pejabat desa, anggota
hansip, tentara sampai warga desa biasa ditangkap dan diperiksa.
Namun polisi, tampaknya, belum juga berhasil membereskan seluruh
urusan penyelundupan di pantai utara Karawang, Jawa Barat, yang
terjadi akhir Desember lalu. Sebab beberapa orang yang disangka
sebagai pentolan penyelundup, antara lain Wakil Kepala Kampung
Sumurgede dari Desa Cipagare (Karawang) sendiri, bernama Cam,
sudah keburu menghilang dari kampungnya.

Sejak awal Desember 1977 sebenarnya polisi sudah menerima info:
segerrmbolan penyelundup akan beroperasi di salah satu tempat
di pantai Karawang. Yaitu, beberapa perahu diduga akan
mengangkut barang gelap dari sebuah kapal yang tengah mencari
batu karang di tengah laut. Mereka akan merapat di salah satu
bagian pantai. Polisi segera melakukan patroli di pantai Satar,
Tengkolak dan Pasirputih dengan ketat.

Tapi pantai Ciparage, yang keadaannya sangat buruk pada musim
hujan Desember itu, memang tak terjangkau patroli. Itulah
sebabnya Letnan Kurniawan, Komandan Kepolisian Sektor Cilamaya,
sekali waktu pernah mengingatkan Kepala Desa Ciparage, Pembantu
Letnan II AR (anggota Koraml setempat) agar waspada. Pelda AK
ketika itu cuma mengangguki saja peringatan Dansek Kurniawan.
Maksudnya tak jelas tapi ketenangannya itu ternyata patut
dicurigai.

Terbukti dari info polisi berikutnya. Lewat pantai Ciparage yang
tak mungkin dicapai patroli polisi itulah, di bawah hidung
Kepala Desa AR, beberapa buah perahu - mungkin perahu
bermotor--masuk Kali Tempuran dan langsung mengikat tali di Desa
Sumurgede. Beberapa buah perahu pertama masuk lewat tengah
malam, Kamis 22 Desember. Menurut beberapa orang penduduk yang
dikerahkan Wakil Kepala Kampung Cam untuk membongkar dan
mengangkut isi perahu ke rumahnya atau ke rumah penduduk bernama
Al dengan upah tinggi, ada sekitar 40 karung yang masuk malam
itu. Di antaranya 30 karung berisi 5 buah radio-taperecorder.
Sisanya, 10 karung, masingmasing berisi 7 pis tekstil halus.

Di Mana?

Hari Selasa, 27 Desember berikutnya, kembali beberapa buah
perahu berhenti di Sumurgede dari Kali Tempuran. Sekali ini yang
dibongkar 46 dus yang masing-masing, menurut penduduk yang
memikulnya ke rumah Cam, berbobot 60 kg. Isinya tak begitu
jelas. Mungkin sejumlah jam tangan dan barang lain.

Dari rumah Cam atau Al, menurut yang diketahui polisi,
barang-barang selundupan itu diangkut ke luar desa entah ke mana
- dengan sebuah sedan dan pikup colt. Dari penduduk yang
mengetahui, polisi dapat mencatat nomor polisi kedua kendaraan
tersebut. Dua duanya, kalau tak palsu, kendaraan berasal dari
Jakarta.

Sebenarnya penduduk Sumurgede, terutama yang diajak Cam
membongkar barang dari perahu, sudah menaruh curiga pada kerja
Cam tengah malam itu. Tapi mereka enggan melapor kepada yang
berwajib. Sebab, pertama-tama, yang punya kerja pak Wakil Kepala
Kampung sendiri. Dan lagi, yang hadir malam itu, adalah
orang-orang yang mereka segani: beberapa pejabat desa, kepala
keamanan, hansip, bintara pembina desa alias babinsa yang
ditakuti itu serta .... Kepala Desa AR sendiri.

Belum lagi oknum berseragam yang berada dalam sedan dan pikup.
Mereka bersenjata api dengan laras sedang. Mungkin dari jenis
carrel gustav, thomson atau madson.

Polisi, yang baru bergerak awal Jaauari, hanya menemukan sisa
barang sebagai bukti. Misalnya beberapa radiotape recorder yang
disita dari rumah Al. Dan yang disita polisi Indramayu dari
tangan pemilik perahu.

Cam sendiri dan beberapa rekannya kabur. Polisi kini tengah
menjejaki mereka. Kedua mobil pengangkut tadi, jika tak bernomor
palsu masih mungkin diikuti jejaknya. Jejak Cam, sebenarnya,
walaupun samar-samar masih dapat pula diikuti. Hanya, sulitnya,
jika info ini benar: Cam berada di bawah perlindungan seorang
perwira di Curebon.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data