Ada Apa Di Tembagapura ? Tambang tembaga pt. freeport indonesia di tembagapura diganggu
penduduk setempat: perusakan pipa minyak & kabel telepon,
blokade di jalan & peledakan instalasi karena belum
terpenuhinya ganti rugi. (dh) |
TAMBANG tembaga PT Freeport Indonesia di selatan pegunungan
Sudirman, beberapa bulan terakhir ramai disorot pers Australia
(dan Irian Jaya) karena gangguan keamanan di sana. Paling akhir,
mingguan Australia The Bulletin 11 Januari memberitakan
tertombaknya seorang polisi Indonesia yang sedang patroli.
Untung nyawa anggota Polri itu, 2 tahun, masill dapat
diselamatkan.
Sebelumnya, ada usaha meledakkan jalur kabel pengangkut bijih
tembaga dari tambang rtsberg di ketinggian 3000 meter ke
pelabuhan Amamapare di tepi Laut Arafuru. Menurut majalah
Australia itu, pemimpin OPM, Jakob Prai, menyatakan
bertanggungjawab atas tindakan "sabotase" itu. Namun hal itu
diragukan oleh seorang pegawai Freeport di Sydney. Katanya,
gangguan keamanan datangnya dari penduduk sekitar "yang hanya
bersenjata panah." Sementara peledakan jalur kabel hanya di
lakukan "dengan dinamit dari gudang tambang sendiri."
Berbagai gangguan keamanan itu juga diungkapkan harian Sydney
Morning Herald, September lalu. Katanya, ada telex direksi
Freeport Indonesia ke markas besarnya di New York, yang
melaporkan tentang pemotongan kabel telepon, gangguan terhadap
pipa minyak dan jalur kabel, blokade di jalan logistik serta
peledakan instalasi tambang di Tembagapura itu.
Ada Yang Merasa Dirugikan
Presdir PT Freeport Indonesia, Ali Budiardjo SH tak bersedia
menanggapi berita pers Australia tersebut. "Itu wewenang aksus,
Kowilhan, atau langsung tanya ke Hankam saja," katanya di
kantornya di tingkat 26 Wisma Nusantara, Jakarta.
Sementara itu, Brigjen Daryono, Kapuspen Hankam mengakui ada
"semacam gangguan dari penduduk sekitar tambang." Tapi, katanya,
hal seperti itu bisa saja terjadi di mana-mana, sebab ada
sebagian masyarakat merasa dirugikan oleh proyek tersebut.
Gangguan penduduk sekitar Tembagapura itu,"lebih-lebih karena
keprimitifan penduduk sana, dengan kebiasaan perang antar
sukunya." Sementara motifnya, menurut Daryono, "hanya sosial
ekonomis."
Keterangan Kapuspen Hankam hampir senada dengan apa yang pernah
dibeberkan koran Tifa Irian di Jayapura 4 Nopember lalu. Tahun
1974, suku Amungme yang berdiam di sekitar tambang menuntut
Freeport membayar ganti rugi kepada mereka sehubungan dengan
pembabatan hutan perburuan suku itu. Freeport menyanggupi
tuntutan itu, yang dituangkan dalam January Agre ment 1974.
Namun pertengahan tahun lalu, gejolak sosial timbul lagi.
Soalnya, suku Amungme merasa "janji-janji itu belum dipenuhi
seluruhnya oleh Freeport," kata M. Pogolamun B.S.W., seorang
putera Amungme dari Kecamatan Akimuga, Kabupaten Fakfak.
Tuturnya lagi kepada Tifa: "Janji-janji yang kemudian tak
dipenuhi, tingkah laku petugas tertentu yang melukai hati
rakyat, semuanya membuat mereka berfikir. Mereka juga ingin
hidup, mereka juga ingin sabun, ingin celana." Secara tak
langsung, tuntutan itu juga membuktikan "bahwa mereka ingin
maju." Karena kecewa. rakyat setempat kadang-kadang menolak
berpartisipasi dalam proyek pemerintah bila tak mendapat imbalan
sabun. rokok, atau tembakau. Sebab mereka tahu, dana untuk itu
tersedia. Inilah yang menurut Pogolamun menyebabkan pembangunan
jalan Kiliarma-Aramsoiki serta Puskesmas di Amungun terlantar.
Daerah itu juga masih sangat terisolir. Pesawat Merpati jarang
singgah ke Mimika. Kapal yang bukan untuk keperluan Freeport,
juga jarang merapat ke Amamapare. Dan berbeda dengan daerah
minyak di Kepala Burung di mana penduduknya lebih beragam dan
terbuka, Freeport bekerja di pegunungan di mana penduduknya
masih lebih tertutup. Karena itu seorang pegawai Freeport sampai
heran, bagaimana petani suku Amungme dalam waktu 5 tahun
berhasil "meloncat dari ekonomi barter ke ekonomi uang."
Freeport yang tadinya dikecam karena mengimpor seluruh bahan
pangannya lewat udara dari Australia, kini telah bersedia
membeli sebagian sayur-mayur dari petani Irian dan Kei di sana.
Uang hasil penjualan sayur itu, dapat dibelanjakan di Toko
Freeport. mungkin hal itulah yang menimbulkan lonjakan tingkat
konsumsi serta tuntutan penduduk setempat. Sementara itu di situ
berdiam pula satu koloni masyarakat Sulawesi, yang sewaktu-waktu
ikut protes apabila lowongan kerja atau order tambang lebih
banyak jatuh pada orang asing atau orang-orang dari Jawa dan
Sumatera.
Berbagai faktor itulah melahirkan usul di kalangan anggota DPRD,
agar di selatan Irian Jaya dibentuk kabupaten baru yang
beribukota di Timika kira-kira 90 Km dari Tembagapura. Anggaran
belanjanya, diharapkan dari pemerintah.
Mungkin juga Freeport akan diminta. Sebuah sumber mengatakan
tambang Ertsberg itu menelorkan 2/3 keuntungan maskapai Freeport
Copper yang berpusat di New York. Tapi keuntungan sekitar 45
juta dollar AS setahun itu tak akan abadi. sebab menurut
perkiraan konon endapan bijih tembaga itu sudah akan habis dalam
10 tahun lagi.
|