Kucing dan penyair Pengarang: sutardji calzoum bachri jakarta: ykkpkj, 1977
resensi oleh : abdul hadi wm. (bk) |
AMUK
sajak-saja k Srrdji Calzoum Bachri Penerit: YKKPKJ TIM,
Jakarta 1977 Kulit muka: Syaiful Anwar Foto: Ed Zoelverdi Tebal:
43 halaman
PENYAIR bier ini lebih suka menyebut dirinya sebagai penyair
karier. Sebab boleh dibilang hidup semata-mata dari puisi dan
pembacaan puisinya di samping kerja sampingan yang tak tentu.
Dalam sajaknya dia mengaiakan: "aku bukan penyair sekedar, aku
depan. depan yang memburu, membebaskan kata." Namun boleh
dibilang juga sebagai penyair kucing karena tiga sajaknya yang
kesohor mengenai kucing.
Yang pertama Ngiau terdapat dalarn kumpulan pertamanya 'O'
(1973). Dan laim1ya dalam humpulan kedua ini, sebuah buku puisi
yang dicelak mewah dengan huruf segede gajah, cukup tebal
meskipun isinya cuman 16 sajak. Yang terpanjang berjudul Amuk
memakan tempat 3 halaman sedang yang terpendek Luka dan
Kalian hanya terdiri dari satu kata: "ha ha" dan "pun".
Improvisasi
Demikian Sutardji (lahir 1941) bisa jadi penyair yang sangat
hemat di samping royal. Dua sajak pendeknya ini memberi kesan
main-main, tapi tak ayal juga dimaksudkan sebagai sinisme atau
ejekan. Entah terhadap hidupnya sendiri, dunia sekelilingnya dan
dunia persajakan di Indonesia. Kesan main main timbul karena
Sutardji menulis sajaknya bertolak dari improvisasi, bukan dari
ethos kata-kata seperti Chairil Anwar dan penyair Indonesia
lain. Dia tak mengandalkan kekuatan kalimat dan vokabuler
kata-kata, melainkan pada kekuatan makna dan gaya saran
magisnya.
Misalnya sajak ini:
sejak kapan sungai dipanggil sungai
sejak kapan tanah dipanggil tanah
sejak kapal derai dipanggil derai
(Sejak, 38)
Atau ini:
ping di atas pong
pong di atas ping
ping ping bilang pong
pong pong bilang ping
(Shahghai, 32)
Pola demikian dominan dalam penulisan Sutardji. Tampak ini hanya
sekedar penilainan kata-kata yang tak mengandung arti. Memang
betul. Yang penting dengan hadirnya kata dalam puisi semacam itu
fantasi kita jalan, karena ia memang tak menuntut rasio
semata-mata.
Sajak Sutardji memang bersuasana mantra dekat pada sihir, tapi
mengenai keresahan manusia modern. Lewat sajak yang kata-katanya
tampil dengan daya saran magus-irrasionil penyair menyatakan
dirinya. Kadang-kadang sajaknya dekat pada prosa-puisi, misalnya
Sndah Waktu (30) dan Tik (36). Suasana sajak tersebut
impressionistis dan surrealis. dengan latar yang menunjuk pada
kesepian dan duka.
Dekatnya pada mantra terasa pada perulangan dan penggunaan kata
yang anti rasionalisasi. Mengembalikan pada daya saran
magisnya, hingga fantasi kita lebih bebas jalan. Satu-satunya
nilai dalarn sajak Sutardji adalah keragu-raguan dan duka. Dalam
sajaknya Amuk dia melukiskan bagaimana perjalanan manusia atau
aku mencari Tuhannya yang tak pernah jumpa. Penyair
mengidentifikasikan obsessinya pada Tuhan dengan kucing yang
lagi geram. Imaji atau simbol kucing ini menarik sekali.
Kucing adalah gambaran dari penyair yang , geram gelisah
mencari dirinya, tidak puas dengan dunia sekitarnya dan merasa
sia-sia.
Jejak Tuhan
Katanya: "kucing meronta dalam darahku meraung merambah barah
darahku dia lapar O alangkah lapar nian berapa juta hari dia
tak makan " (hal 7). Ini introduksinya. Keraguan tampak dalam
baris ini: "tuhan mencinta kucingku tanpa mauku dan sekarang
dia mencari Mu dia lapar jangan beri daging jangan beri nasi
tuhan menciptanya tanpa setahuku dan kini dia minta tuhan
sejemput saja untuk tenang sehari. . . "
Dalam sajaknya ini penyiar menghadapkan penderitaan manusia
dalam sejarahnya dengan hilangnya jejak Tuhan berabad-abad
lainnya. Bila dia mengatakan "lebih tua dari niniveh lebih tua
dari spinx" penyair menunjukkan bahwa penderitaan manusia dan
usaha pencaharian Tuhan sudah lama.
Sajak lainnya Mesin Kawin menarik karena berisi pemberontakan
penyair terhadap usaha teknologi sex. Seperti penyair lain: Amiy
Hamzah, Chairil Anwar, Sitor dan Goenawan Mohamad, kesadaran
sejarah/solidaritas sejarah Sutardji besar sekali terhadap
penderitaan manusia. Kesadaran ini mengantarkan penyair pada
pengertian hakekat kehadiran dirinya di tengah-tengah kebudayaan
dan peradaban besar. Di satu pihak hanya titik kecil yang tak
ada artinya. tanpa identitas. Tapi di lain pihak ia/manusia
tetap merupakan bagian dari Tuham Dengan referensi sejarah yang
dihayatinya penyair mengajak kita berkaca pada Babilon Musa atau
Socrates, lambang-lambang nasib, usaha dan kejatuhan manusia
dalam mencari keagungan dan kebenaran itu.
Tapj mengapa ia pilih kucing sebagai tokoh sajaknya? Mungkin
karena kucing merupakan binatang yang akrab dengan manusia
karena ia lebih banyak tinggal di rumah dan dalam jiwa manusia.
Kemanjaan dan kebuasan kucing sangat akrab, lebih dari binatang
buas lainnya. Kucing binatang yang menyenangkan lincah suka
merengek, tapi kalau geram minta ampun ribut dan ganasnya.
Kucing akrab karena ia binatang yang menyenangkan dan
menjengkelkan sekaligus. Begitu pula puisi Sutardji hadir kepada
kita.
Abdul Hadi W.M
|