Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/IIIIIII/21 - 27 Januari 1978
   
Suka Duka

Dunia taluk, pantai kusamba

Pantai kusamba di kab. klungkung & karangasem. penduduknya menjadi petani garam dengan menjemur air asin di bedengan dari belahan batang pohon kelapa yang di sewanya. hasilnya dibagi dengan pemilik bedeng. (sd)

SEORANG gadis kecil melawan lapar di pantai Kusamba. Inilah
profil lain dari Pulau Bali yang sering tidak dilihat. Taluk, 11
tahun, bermata bulat cekung, bibirnya putih pucat, badannya
kerempeng sementara tangannya dengan gemetar ditadahkan: "Tiang
lapar, tiang belum makan!" Sejumlah anak-anak lain segera ikut
menadahkan tangan mereka seperti tari kecak.

Kusamba terletak di batas Kabupaten Klungkung dan Karangasem.
Perahu-perahu di Kusamba terkenal karena memiliki moncong
seperti ikan dengan warna-warni yang amat menggirangkan pelukis.
Tak jauh dari sana ada Gua Lawa, gua yang dihuni kelelawar dan
termasuk dalam peta para turis. Tapi Kampung Belatung, tanah
pijak Taluk dan saudara-saudaranya, tandus dan gersang. Dari
sana terlihat Pulau Nusa Penida samar-samar di kejauhan.
Pemandangan indah--tapi tak bisa dimakan.

Kaktus Berduri

Untuk mempertahankan hidup, pasir pantai sudah digarap. Hamparan
sepanjang 6 kilometer digunakan untuk lokasi membuat garam.
Puluhan bedeng tempat penyaringan dibangun. Sari air asin itu
dyemur di belahan batang pohon kelapa, supaya mengkristal jadi
garam. Taluk, seperti yang lain-lain, kemudian menyauk kristal
itu dari tempat penjemuran (lihat gambar). Bila matahari bagus,
setiap bedeng akan menghasilkan antara 10 sampai 25 Kg garam
kristal. Warnanya putih sekali, konon mutunya lebih bagus dari
garam tambak. Tapi kalau sudah musim hujan seperti sekarang,
semuanya terasa sia-sia.

Garam Kusamba tiap sore dipikul dijual di pasar Klungkung.
Hasilnya tidak sepenuhnya masuk kocek petani garam, tentu. Harus
dibagi dengan pemilik bedeng, pemilik- belahan alat penjemur.
Mereka sendiri bernafkah Rp 25 sampai Rp 100 sehari. Tak heran
kalau anak-anak mereka, masih di bawah umur, sudah keluar
kampung minta belas kasihan. Entah kenapa turis jarang sekali
menjamah Gua Lawa. Taluk pun sudah sering naik ke gunung untuk
mengumpulkan kayu bakar. Tapi bukit-bukit itu sudah mati, tak
ada lagi tumbuh pepohonan. Lereng-lerengnya menjadi liar, cocok
tanam mustahil. Ladang tak sanggup menghidupi ubi atau
kacang-kacangan. Yang ada hanya kaktus berduri, dan
wanita-wanita miskin yang toh masih sempat menyiapkan sesajen
untuk para dewa (lihat gambar).

"Taluk lapar, Taluk belum makan!" katanya kepada yang lewat.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data