Inas dan si melati dari pasar jati Pemasungan terhadap inas di kecamatan astambul, martapura dan
jahura (si melati dari pasar jati) di kabupaten
banjar, kalimantan selatan. dua korban dipasung karena
menderita sakit jiwa. |
AKHIRNYA, penduduklah yang jadi hakim. Di Kecamatan Astambul
dekat Martapura, tinggal seorang pemuda bernama Inas. Ketika
berusia 13 tahun, Inas lepas sekolah dasar. Dia kemudian
melanjutkan ke Madrasah Darussalam di Martapura. Belum tamat ia
belajar, pada suatu hari berkatalah sang ayah: "Tampulu abah
masih hidup, segeralah kawin." Artinya, mumpung sang ayah masih
hidup ia ingin melihat Inas berumahtangga. Memang Inas anak yang
manis dan penurut. Diapun setuju saja dinikahkan dengan saudara
sepupunya. Tapi naas bagi Inas, beberapa hari sebelum hari
pernikahannya tiba, sang ayah telah melepas nyawanya. Meninggal.
Kematian ayahnya bukan merupakan pukulan bagi Inas. Mungkin
karena kemudian dia beristeri dan beranak pula. Tapi tahun 1905.
lunturlah harapannya. Bukan karena peristiwa G-30-S, tapi isteri
Inas meninggal. Nah, sejak itulah jiwanya terganggu.
Matilah Dia
Keadaan Inas semakin parah. Ketika hari demi hari bertambah
juga, gejala penyakit jiwa Inas semakin tampak. Sehingga
tibalah suatu hari yang paling naas baginya. Yaitu ketika Harman
adik iparnya lewat di depannya. Bersama Harumah ada anak Inas
dalam gendongan. Inas bermaksud akan mengambil anaknya dari
gendongan si ipar. Haruman berfikir akan menyelamatkan
keponakannya dari sang ayah, yang sering ngamuk itu. Inas
kemudian mengejar Harumah. Disambarnya sepotong balok ulin dan
diadunya ke kepala Haliman. Tersungkur dan matilah dia. Masih
untung, anak Inas bisa diselamatkan oleh penduduk yang cuma bisa
menonton kejadian itu.
Inas sempat mendekam di kamar tahanan selama dua bulan. Dengan
dalih sakit ingatan, pengadilan Martapura akhirnya tidak bisa
menghukumnya. Inas dipulangkan ke kampungnya. Dan masyarakat
memonis lain: Inas harus dirantai agar penduduk tidak terganggu.
Agar tidak ada lagi pembunuhan dan agar kampung aman dan damai.
Kini sudah 10 tahun lebih Inas dirantai. Pergelangan kaki
kanannya seakan sudah menyatu dengan rantai besi yang mulai
karatan. Tubuhnya nyaris telanjang dan cuma selembar kain tanpa
rupa menutup auratnya.
Di emper rumah panggung itulah Inas menanti datang siang dan
malam. Selembar tikar, bantal lapuk dan kain jadi kelambu dan
selimut baginya. Barang yang terakhir ini mungkin baru saja
dipasang, setelah Inas diributkan orang. Inas sendiri, tetap
tidak peduli akan keadaan keliling. Kedua tangannya menopang
kepalanya. Seakan takut melihat kehidupan, matanya selalu
dikatupkan rapat-rapat. Tubuhnya selalu menggigil tanpa sebab.
Umurnya kini 35 tahun. Ayah dari tiga orang anak ini semasa
mudanya hafal mengaji Qur'an. Tapi penduduk berpendapat bahwa
ada "ilmu" lain yang dikajinya, sementara raga dan sukmanya
tidak bisa menerima "ilmu" baru tersebut.
"Anakku sudah 10 tanhun lebih dirantai," kata Haji Aminah.
ibunya. Saudara-saudara Inas sudah berumantangga dan cuma ibu
yang setengah pikun dan berusia 70 tahun yang mengurus Inas,
bagaikan bayi kembali. Rumah Haji Aminah sendiri berjauhan
dengan rumah lainnya. Ibu dan anak ini bagaikan terpisah dan
hidup di pulau terpencil. Cuma cinta seorang ibu itu sajalah
yang memenuhi rumah panggung yang telah rapuk pula.
Baru bulan kemarin, kasus Inas ini diketahui oleh seorang
dokter Inpres bernama Yusuf Alirida yang ditempatkan di
Kecamatan Astambul. Hal ini dilaporkan pula ke dr. Pandu
Setiawan, Kepala RS Jiwa Banjarmasin. Inas sekarang berada di
rumah sakit tersebut. Tidak jelas apakah ibunya turut serta tapi
soal pasung ini kian sering terdengar. Setelah peristiwa
Gustamar di akhir tahun lalu tersingkap di Sumatera Barat telah
ditemukan 122 orang yang dipasung puluhan tahun. Dari 122 orang,
baru 34 orang yang ditangani dokter dan kemudian dirawat di
rumah sakit. Kalau jumlahnya kian bertambah, sulit juga cara
menanggulanginya. Biaya pengobatan mtuk kasus pasung ini, tidak
termasuk anggaran rumah sakit. Kepada siapa beban ini dipikul?
Di Kalimantan, dari 6 kasus yang ditangani rumah sakit
Banjannasin, seorang dikabarkan telah sembuh.
Hampir bersamaan dengan Inas, telah ditemukan pula seorang
wanita yang dipasung. Kedua pergelangan kakinya telah dipasang
balok dan di situlah Jahura, perempuan berumur sekitar 50an,
tergeletak 15 tahun lamanya. Badannya kurus, mata cakung, tidak
pernah bertemu dengan matahari dan di situlah selama ini dia
tidur makan dan buang air. "Dia gila," kata Anang Djam, kakak
kandung Jahura.
Sebetulnya, Jahura tidak pernah mengganggu orang lain seperti
halnya Inas. Cuma membikin risau keluarga. "Dia suka lari ke
hutan atau ke sungai," tambah Anang Djam lagi. Dulu, kalau
sudah berada di sungai, Jahura tahan berendam diri berhari-hari
lamanya. Dari pada mati di air atau hilang di hutan, "kami
balok dia dan kami bisa tenteram bekerja," kata Anang. Dari
rambutnya yang sedikit berombak tapi telah putih semua ini, di
raut muka Jahura masih terlihat sisa-sisa kecantikannya. Tidak
ada secarik kain pun yang membungkus tubuhnya. Rumah keluarga
Jahura yang tidak besar ini dibuatkan sekatan dari kain kembang
untuk membedakan dunia Jahura dan dunia yang lebih luas untuk
keluarga Jahura.
Mahalnya Cinta
Melati dari desa Pasar Jati, Kecamatan Astambul ini dulu memang
terkenal karena kecantikannya. Banyak yang berkata bahwa Jahura
bukan saja melati dari Pasar Jati, bahkan dia bisa memenangkan
puteri kecantikan seandainya di kabupatennya, Banjar (Kalimantan
Selatan) diadakan perlombaan kecantikan. Gadis tersebut kemudian
bermain cinta dengan seorang pemuda dari Barabai yang bernama
Sukeri. Manisnya cinta biar pun ditambah dengan pahitnya perang
(pendudukan Jepang waktu itu) menikahlah keduanya dengan doa
restu dari kedua orangtua. Pernikahan berlangsung setahun
sebelum republik ini diproklamirkan.
Dua tahun setelah mereka menikah, Sukeri berniat untuk merantau.
Dengan alasan barangkali akan mendapat nasib yang lebih baik
untuk rumahtangga mereka. Dilepaslah Sukeri tanpa syarat dan
Sukeri tidak menyebutkan ke mana dia pergi. Jahura menunggu dan
menunggu dengan setianya, sampai tibalah jadwal waktu yang
menelan dua tahun. Saat itulah, Pasar Jati muncul dengan
berbagai desas-desus. Bahwa Sukeri telah melupakan Jahura,
Sukeri kawin lagi di perantauan, Sukeri dibunuh Jepang dan
banyak macam isyu lagi. Jahura tahu dan maklum akan desas-desus
itu, tapi dia tetap tabah dan tidak menanggapi. Yang ribut
justeru keluarganya.
Tidak enak menghadapi orang kampung dan tidak senang melihat
Jahura ditelantarkan, pihak keluarga Jahura kemudian memanggil
naif (penghulu). Kiblat hukum Islam pun diterapkan untuk soal
talaq dan cerai. Jatuhlah sudah keputusan naif dan jadi jandalah
Jahura tanpa kemauannya. Sejak itulah dia harus membayar mahal
cintanya. Jahura lebih suka termenung dan tak jarang mulai
menangis dan ketawa seorang diri.
Dia dianggap gila. Sejak itu pula, akan memasuki tahun 1950,
sudah berbagai dokter, dukun atau kiayi diusahakan untuk
mengobati Jahura. Tidak berhasil. "Tak terhitung sudah berapa
banyak uang kami habis," kata Anang, "untuk mengobati dia." Lalu
bagaimana dengan Sukeri? Ternyata dia tidak mati, tidak kawin
lagi dan dia kembali. Tapi apa lacur, naif sudah memutuskan lain
dan Jahura miliknya bukan lagi Jahura si kembang melati dari
Pasar Jati yang duIu. Isterinya telah dicerai talaq tiga dan
sudah gila pula. Sebentar dia mencoba mengobati bekas isterinya
ini tapi harapannya sia-sia. Anang kemudian berkata bahwa Jahura
bukan saja dibalok sejak 15 tahun yang lalu, tapi sejak sekitar
1950. Saat itu, sesekali dilepas. Tapi begitu balok dibuka,
Jahura bagai kuda lepas dari kandang. Dia terus berlari tanpa
arah. Mungkin gembira akan kemerdekaan yang didapatnya, tapi
keluarganya terlalu kokoh untuk"mengurus"nya. "Dia kami balok,"
kata Anang sekali lagi, "agar kami bisa tenteram bekerja."
Jahura kini ada di rumah sakit Banjarmasin dan akan nasib
Sukeri, tidak ada seorang pun yang tahu. Dia pergi dan tidak
pernah kembali lagi ke kampungnya.
|