Menolak Ke Panas Bumi Konsumsi minyak bumi di dalam negeri meningkat. indonesia
mulai menggali sumber energi non minyak, dengan membangun
tenaga geothermal (sumber panas bumi) indonesia dapat
mengekspor lebih banyak. |
KRISIS enerji yang mengharu-biru dunia di tahun 1973 ternyata
telah tidak mendoron orang supaya berhemat. Pemakaian minyak
malah makin meningkat di mana-mana. Presiden Carter dalam
konperensi persnya minggu lalu gusar sekali melihat fakta
Amerika Serikat mengimpor minyak sebanyak enam kali jumlah
produksi dalam negerinya, atau melebihi impor semua negara
Eropah. Kegusaran itu menggema pula di Jakarta ketika
berlangsung konperensi ASCOPE (lihat box).
Usaha mencari sumber enerji non minyak, yang dulu disepelekan,
kelihatan mendapat prioritas ASCOPE (Dewan Perminyakan ASEAN).
Terutama Indonesia makin keras menyuarakan bagaimana pentingnya
supaya produksi minyak bisa terus diekspor. Tapi ekspor minyak
Indonesia, yang tahun ini akan mencapai $ 6,35 milyar,
dibayangkan akan terancam pada tahun 1980-an berhubung makin
meningkatnya konsumsi dalam negeri (kini 11-13% setiap tahun).
Indonesia kini sudah terpaksa mengimpor bahan bakar tertentu,
seperti Avtur, premium, oli diesel industri, minyak tanah
(kerosene) dan solar yang dikilang di luar negeri, supaya
menghemat minyak mentah kita guna keperluan ekspor. Bahkan kini
ada pula rencana mendesak untuk membangun kilang minyak baru di
pulau Batam, dengan a.l. investasi Kuwait, yang bertujuan
melayani kebutuhan bahan bakar yang meningkat di dalam negeri
terutama sekali.
Dengan besarnya ekspor minyak, Indonesia mampu mencicil hutang.
Menteri EKUIN Widjojo Nitisastro pernah mengingatkan bahwa
Indonesia masih perlu meningkatkan ekspor non-minyak supaya
perbandingan 1:20 (perimbangan cicilan hutang dan jumlah ekspor)
jangan dilampaui. Bisakah itu, mengingat besarnya cicilan makin
tinggi?
Paling Rendah
Produksi minyak Indonesia selama semester pertama tahun anggaran
ini 1,69 juta barrel/hari, dibanding 1,5 juta barrel/hari dalam
periode sama tahun lalu. Naik sedikit saja dan kenaikannya akan
pelan sekali, terutama mengingat usaha eksplorasi mandeg tahun
lalu. Namun ada sedikit menggembirakan, menurut Dir-Ut Pertamina
Piet Harjono minggu lalu, karena usaha eksplorasi itu mulai
berjalan lagi sehingga jumlah sumur yang dibor sekarang mencapai
80, dibanding cuma 40 tahun lalu.
Dibanding negara ASEAN lainnya, konsumsi enerji per kapita di
Indonesia per tahun paling rendah: 0,8 barrel. Bandingkan,
berdasar laporan Bank Dunia tahun 1973, dengan: Singapura 11
barrel Malaysia Barat 2,7 Pilipina 1,8 dan Muangthai 1,6.
Dengan derap pembangunan ini, Indonesia tidak akan mengekang,
melainkan sebaliknya harus mempertinggi konsumsi enerji itu.
Pemerintah RI, dengan mempertahankan subsidinya, nampak
membiarkan konsumsi meningkat. Tapi sementara itu mulai
sungguh-sungguh menggali sumber enerji non-minyak.
Maka kini ada pemikiran supaya batubara dipakai lagi sebagai
pengganti minyak untuk mesin pembangkit tenaga listrik. Apalagi
tambang batubara di Sumatera Selatan sedang digalakkan dengan
investasi perusahaan minyak Shell. Tapi lebih serius lagi ialah
usaha pemerintah membangun tenaga geothermal (sumber panas
bumi).
Pertamina sekarang membor di Kemojang (Jawa Barat yan diharap
akan menghasilkan tenaga listrik sebesar 150 MW di akhir 1980,
dan di Sikidang (Dieng, Jawa Tengah) yang diharapkan
membangkitkan sekitar 100 MW dalam 5-7 tahun lagi. Betapa
besarnya tenaga geothermal, coba bayangkan waduk Jatiluhur yang
besar itu menghasilkan 125 MW.
"Jika sumber panas bumi ini bisa dimanfaatkan," kata Dir-Ut Piet
Harjono, "lebih banyak minyak yang dapat dijual Indonesia ke
luar negeri." Soalnya apakah Pertamina, yang baru mulai sembuh
dari kejutan hutang dan salah-urus itu, mempunyai modal? "Kita
mengundang partisipasi modal asing," kata Dir-Ut Pertamina itu.
Rupanya kontrak bagihasil sedang ditawarkan Pertamina pula untuk
tenaga geothermal ini sebagaimana halnya untuk mencari minyak.
Tapi PLN tetap akan diikutsertakannya untuk mendistribusi tenaga
itu.
Di kalangan ASEAN, Indonesia memang paling maju di bidang
minyak. Tapi di bidang geothermal, Indonesia telah jauh
ditinggalkan oleh Pilipina. Dari 25 pusat vulkanis yang
ditemukan di Pilipina, lima telah dikembangkannya dan mulai
tahun depan tenaga geothermalnya akan menghasilkan 168 MW, yang
diharap meningkat lagi ke 500 MW pada tahun 1979. Kemiskinan
Pilipina akan minyak telah mendorong negeri itu cepat-cepat
memanfaatkan sumber panas bumi ini.
Indonesia juga, seperti Pilipina, terletak di atas apa yang
disebut geothermal belt, kaya dengan panas bumi karena barisan
gunung berapinya.
|