Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 32/IIIIIII/08 - 14 Oktober 1977
   
Kesehatan

Sejemput Garam Ke Tanah Suci

Di saudi arabia berjangkit wabah kolera. para jemaah haji indonesia dibekali sebungkus garam diare, untuk pencegahan. para jemaah agar menguatkan hati, menjaga kebersihan setiap makan dan minum.

SUATU hari, Khalifah Umar bin Khaththab keluar dari Ibukota
Madinah menuju Syam (Suria, Yordan dan Palestina sekarang). Di
tengah jalan, panglima daerah setempat, Abu Ubaidah ibnul
Jarrah, mencegat rombongan untuk memberitakan bahwa: di negeri
yang akan dituju sedang berjangkit wabah kolera. Padahal
peraturan yang dulu dikeluarkan Nabi berbunyi: bila penyakit
menular berjangkit di satu tempat, tak seorang penduduk pun
dibolehkan keluar dari sana - sebaliknya siapa saja tak holeh
masuk ke situ, kecuali ahli pengobatan.

Rombongan bermalam. Dan dari hasil perundingan, keluarlah
keputusan: kembali ke Ibukota. Maka bertanyalah sang Pangdam
kepada Khalifah setengah meledek: "Anda takut kepada kolera?
Anda mau menghindari takdir Tuhan?". Jawab Umar: "Benar. Kita
menghindari satu bentuk takdir Tuhan untuk masuk ke dalam bentuk
takdir Tuhan yang lain" . . .

Dan salah-satu bentuk takdir Tuhan itu kini sedang menampakkan
dirinya di sekitar Tanah Suci. Hari-hari ini lebih satu juta
orang Islam dari seluruh penjuru bumi sedang bergerak dalam
perjalanan suci menuju Makkah dan Madinah. Setengah juga lagi,
orang Saudi Arabia sendiri, akan berbaur men jadi satu untuk
menjalankan ibadah haji. Dunia Islam memanjatkan doa kepada
Allah untuk menghindari umat yang taat ini dari serangan wabah
kolera yang sedang berjangkit di sekitar tanah suci itu.

Dalam sebulan, dari pertengahan Agustus sampai September saja,
sudah ditemukan 17 kasus penderita di Saudi Arabia. Jumlah itu
termaktub dalam laporan kementerian kesehatan negara tersebut,
yang disampaikan secara resmi ke Organisasi Kesehatan Dunia.
Kolera yang sekarang sedang merayap di negara-negara Timur
Tengah itu bermula di Suria. Di negara ini sejak pertengahan
Agustus sampai menjelang akhir September ditemukan 71 korban
yang meninggal di antara 2352 penderita. Kematian yang paling
gawat terjadi pada minggu ketiga September: 57 orang.

Penyakit yang berasal dari kuman yang hidup di air kotor ini,
dengan cepat mengambil korban di Yordania Libanon, Iran,
Kuwait, Mesir, Saudi Arabia dan dataran tinggi Gaza. Bertepatan
dengan makin dekatnya musimhaji, Pemerintah Saudi Arabia-lah
yang paling mencemaskan musibah ini. Merekalah yang mengundang
seluruh menteri kesehatan Liga Persatuan Arab untuk membicarakan
ancaman tersehut. Agaknya salahsatu keputusan penting dari
pertemuan itu ialah: kesediaan untuk membantu Suria yang sedang
kekurangan dana buat membeli vaksin dan kekurangan tenaga
kesehatan untuk mengatur pencegahan.

Dikarantinakan

Dari Israel sendiri tak terdengar kabar tentang ada tidaknya
serangan wabah. Mereka diam. Tetapi tanggal 16 September di
pantai barat Sungai Yordan yang dikuasai Israel, ditemukan kasus
penderita kolera yang ketiga. Tentara Israel sedang menyelidiki
apakah korban berusia 72 tahun tersebut baru bepergian ke
salahsatu negara tetangga Arabnya. Timbul pertanyaan: masakan
wabah telah melangkahi Israel? Sebab Turki dan Iran sudah
terserang. Seorang warganegara Turki yang sedang bepergian ke
Negeri Belanda, terpaksa menginap beberapa hari di rumahsakit
Nijmegen. Orang yang sudah berusia 60 tahun itu begitu turun
dari pesawat langsung dikarantinakan, karena ada tanda-tanda
mengidap kolera.

Suria sendiri, yang dianggap sebagai pangkalan penyebar 'mau
hitam' ini, tidak mencoba mengelak atau membuat sesuatu tuduhan.
Tuduh-menuduh mengenai asal mula penyakit kolera sering terjadi
antar negara, bukan? Yang terakhir adalah Jepang yang menudwh
Pilipina sebagai penyebab kolera yang telah mengambil korban
beberapa waktu yang lalu. Orang Jepang mendakwa, kuman penyakit
itu datang menumpang buah pisan kiriman Pilipina. Tuduhan itu
dibantah dengan dalih "kuman kolera hanya berumur lima hari,
sedan pisang Filipina baru sampai ke Jepang dalam tujuh hari
..."

Namun perubahan memang terjadi di negara-negara Timur Tengah,
dalam wabah kolera yang terburuk sejak 1970 ini. Pedagang
makanan di tepi jalan dilarang berjualan. Kebiasaan bertandang
dihentikan. Dan larangan paling keras menimpa penduduk di daerah
subur SungaiYordan: mereka dilarang memintasi Ibukota dalam
perjalanan suci menuju Makkah. Pejabat Yordania dan Saudi Arabia
rupanya ingin membatasi amukan wabah hanya pada daerah yang
terletak di sepanjang jawan YordaniaSaudi Arabia.

Sekalipun epidemi yang sekarang jelas datang dari Suria, Asia
sebagai rumah-tua penyakit kolera ini tak urung jadi sasaran
pula. Israel misalnya, menggolongkan Singapura sebagai negara
yang tercemar kolera dan mewajibkan orang yang datang dari sana
diperiksa dan disuntik. Sementara itu di Mesir 300 penumpang
yang berdatangan dari luar Kairo terpaksa masuk karantina,
pertengahan September lalu, karena tidak membawa kartu-kuning
tanda sudah divaksinasi.

Tindakan ketat terhadap pendatang, terutarna dalam musim haji
ini, memang cukup beralasan. Indonesia baru terserang. Singapura
juga: 6 orang terkena. Begitu juga Pilipina. Sedang
Bangladesh mencatat jumlah korban paling besar: 356 orang mati.
Negara-negara itu merupakan rumah terbesar bagi jemaah haji.
Itulah sebabnya Saudi Arabia ulengambil langkah ketat, seperti
yang dikatakan Direktur Jenderal Haji Departemen Agama, HA
Burhani Tjokrohandoko. "Begitu sampai di Jeddah ada jemaah yang
sakit kontan disuruh pulang. Padahal ketentuan seperti itu tak
ada tahun lalu." Maklum.

Bugis, Madura

Bekal jemaah haji Indonesia tahun ini jadi bertambah--untuk
menghindari serangan kolera. Departemen Kesehatan membekali
mereka sebungkus garam diare, yang sudah dikenal sebagai bahan
minuman kalau terserang muntahberak . Yakni untuh menghindari
hilangnya cairan dari tubuh sebagai akibat keganasan penyakit,
di samping ke tubuh mereka sendiri sudah disarangkan vaksin anti
kolera dan tipus.

Untuk 32.000 Jemaah tahun ini, disertakan pula tim kesehatan
yang jauh lebih banyak. Ada 20 dokter dan 80 tenaga kesehatan
laim1ya. "Ada pula tim kesehatan khusus yang akan bergerak kalau
terjadi keadaan darurat," ujar Daud dari Direktorat Jenderal
Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular, yang menangani
bidang kesehatan keberangkatan jemaah haji. Asal mereka bekerja
dengan baik dan terkoordinir saja.

Sehubungan dengan itu Direktorat Jenderal P3M juga menyelipkan
ke kantong para jemaah sebuah seruan untuk lebih menguatkan hati
para pejalan-suci itu. "Saudara tak perlu khawatir, karena
penyakit ini dapat dicegah," kata seruan. Kemudian dijelaskan
satu per satu ikhtiar menghindari penyakit dalam perjalanan.
Mulai dari menyimpan makanan dan minuman sampai kepa mencuci
tangan dengan sabun sesudah membuang air besar. Menurut rencana,
seruan itu akan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa daerah
supaya lebih dekat lagi pada para jemaah. Antara lain ke
Bahasabahasa Sunda, Jawa, Madura, dan Bugis. Maksudnya supaya
tidak usah "menghindari satu bentuk takdir Tuhan"


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data