Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 32/IIIIIII/08 - 14 Oktober 1977
   
Daerah

Kisah Anak Bertuah

Harun zain memimpin sumbar selama 11 thn. pada awal jabatannya pisimistis karena tak begitu dekat dengan masyarakat minang. orang memberi julukan anak bertuah, terhindar dari maut semasa perjuangan.

DALAM usia 50 tahun sekarang, dengan rambut yang sudah putih
rata (tapi dicat biar tetap hitam) Harun Zain gelar Dt. Sinaro
toh makin lancar berbicara. Bahkan untllk berpidato beberapa
tahun belakangan ini ia lebih suka tanpa teks. "Otak saya sering
lebih cepat dari pada harus membaca," katanya.

Harun Zain memang telah ditempa selama 11 tahun duduk di kursi
Gubernur Sumatera Barat. Paling tidak ia telah menggugurkan
anggapan "putera daerah tak bisa memerintah di daerah ini." Ini
dulu banyak dikatakan orang dan disampaikan pula padanya. Malah
ada lagi yang lebih bersifat pribadi: Harun Zain itu tau apa?
"Tapi ini pula mungkin yang menerbitkan kekerasan hati saya,
karena ada tantangan," katanya bersemangat, "nah, manusia kalau
ditantang, faktor X-nya keluar." "Saya sebenarllya tidak siap
untuk memikul jabatan Gubernur Sumatera Barat," begitu kata
Harun Zain secara terbuka di awal masa jabatannya dulu. Ketidak
siapan itu dilatar-belakangi oleh kenyataan bahwa ia tak begitu
dekat dengan masyarakat Minang. Sebagian besar dari usianya
habis di Jawa Timur, dan Jakarta. Lagi pula ia tak pernah
mempersiapkan diri untuk menjadi pamong.

Orang tuanya berasal dari kampung Jawi-Jawi, Pariaman, tapi ia
lahir di Gang Paseban, Jakarta (1 Maret 1927). Pendidikan dasar
juga diselesaikannya di Jakarta. Kemudian menjelang akil baligh
ia mengikuti ayahnya yang diangkat sebagai Direktur Sekolah
Menengah Tinggi di Surabaya. Pada masa remaja itu ia terlibat
dalam barisan TP di Jawa Timur. Ia mengenal segala lekak-liku
wilayah Jawa Timur, ketika tergabung dalam Brigade-17 (Kompi 1)
di bawah pimpinan Kapten Pratomo.

Ketika Westerling melancarkan teror sekitar tahun 1950, Harun
Zain terpilih diterbangkan dengan satu pasukan ke Jakarta. Tugas
satuannya itu antara lain menumpas pengacauan dan menjaga
keamanan kepala negara di Istana Merdeka. Di antara
rekan-rekannya Harun sudah terlihat cerdas. Perawakannya yang
pendek membuat ia nampak istimewa dalam pasukan dan ia lalu
diberi tugas istimewa pula: menjadi liaison officer. Maka Harun
pun banyak terlibat dalam serangkaian pembicaraan dengan para
opsir Belanda.

Pelajar Sekolah Menengan Tinggi di Surabaya memang termasuk di
antara pelopor barisan tentara pelajar di Jawa Timur. Harun dan
pasukannya setelah pertempuran besar Surabaya bergerak di front
Mojokerto, Sidoarjo, Madiun, Blitar, Jember, Bojonegoro dan
Malang. Buat Harun Zain sebagai diakuinya, pengalaman di zaman
perjuangan itu, "menjadi modal besar untuk mengabdi pada tugas
berikutnya."

Selesai revolusi Harun Zain kembali ke Jakarta. Mulanya masih
ingin bergerilya, tapi kalangan keluarganya menganjurkan agar ia
melanjutkan sekolah. Tahun 1951 ia masuk FE-UI dan selesai tujuh
tahun kemudian. Karena ia ex pejuang, ia memperoleh kesempatan
tugas belajar ke Amerika. Dua tahun di sana. Berarti sampai usia
33 tahun Harun Zain belum lagi mengenal Sumatera Barat lebih
dekat. Malahan dalam usia itu ia belum pernah menginjak tanah
Minang.

Harun Zain memang berasal dari satu keluarga yang berpendidikan.
Ayahnya, Sutan Muhammad Zain (salah seorang tokoh pendidik dan
pergerakan nasional tahun 1928) banyak menentukan pembentukan
watak sang anak.

Muhammad Zain pernah memimpin Jong Sumatera, dan sekitar tahun
1924 menjadi asisten guru dalam Bahasa Melayu di Negeri Belanda.
Tak heran bila sehari-hari di rumah mereka bercakap-cakap dalam
bahasa Belanda. Anaknya 7, dan Harun adalah nomor 6. Yang tertua
Zairin Zain SH (almarhum) pernah menjabat Dubes RI di Amerika,
Jerman Barat, dan Swiss. Basir Zain SH -- almarhum pula, yang
pernah menempuh pendidikan di Universitas Leidem Azis Zain,
meninggal zaman Jepang ketika masih mahasiswa kedokteran. Rustam
Zain (Kolonel AD meninggal ketika revolusi fisik tahu 1947.
Satu-satunya wanita dari 7 bersaudara itu adalah Yetty Zain,
dokter gigi yang terkenal sebagai Ny. Yetty Rizali Noor, seorang
tokoh wanita Indonesia yang kini menjadi anggota DPR-RI. Setelah
itu baru Harun Zain. Terakhir yang bungsu Malik Zain, seorang
insinyur yang pernah menjabat Kepala PN Panca Niaga di Tokyo dan
meninggal beberapa tahun yang silam. Jadi kini yang tinggal
adalah Yetty dan Harun.

Cerita sang maut nyaris menghampirinya, secara beruntun
dialaminya sejak di Surabaya. Masih sekolah ketika sedang
berbaris, tiba-tiba ada pesawat udara sekutu. Mungkin menyangka
barisan anak sekolah itu sebagai barisan serdadu, lalu pesawat
itu menjatuhkan bom. Meleset sedikit hampir mengenai Harun Zain.
Tapi alhamdulillah, ia selamat. Begitu pula ketika menjadi
anggota TRIP pimpinan Mas Isman, Harun mengalami cedera berat di
hutan. Mujur masih bisa diraih, ia tertolong. Namun ia belum
jera juga. Dan pada suatu hari ia naas rupanya. Di antara Lawang
dan Malang pasukannya kena erangkap. Akan halnya Harun moncong
pistol sudah menancap di pelipisnya. Harun pun sudah tak berdaya
kecuali menyebut nama Tuhan dan ajaib: ia tersungkur ke jurang
melalui tanah merah yang terban. Kabarnya sampai tiga jam
dicari-cari, tentara pelajar itu akhirnya lolos dari lobang
jarum.

Latar belakang kehidupan pribadinya itu -- yang membuat ia dalam
keluarga dijuluki "anak bertuah," kelak membawa kesadaran
tersendiri pada dirinya, seperti diakuinya kepada TEMPO. Dan itu
pulalah salah satu dorongannya menunaikan ibadah haji tahun yang
lalu.

Di masa Harun sedang lajang tanggung, sekitar tahun 1950 sudah
berdiam di Jakarta lagi. Keponakan ayahnya, Ratna Sari - yang
kelak melljadi isterinya, tinggal bersama-sama Harun. Seperti
umumnya orang Minang, anak dipangku kemenakan dibimbing juKa
satu hal biasa bagi Sutan Muhammad Zain. Tapi meski Ratna
(sehari-hari dipanggil Opet) juga mengurus makanan dan minuman
di rumah itu, Harun toh menemui pakaian sendiri. Tapi sejak
1953, Ratna Sari menjadi Nyonya Harun Zaim.

Dari perkawinan ini mereka dikaruniai tiga anak. Semua wanita.
Yang sulung Hermawaty, 23, kini kuliah di UI. Yuliati Indralona,
15, SMA di Padang dan yang kecil Yunia Veranita, 11, masih SD di
Padang.

Ny. Ratna yang kini berusia 40 tahun turut membina banyak
sekolah terlantar, mengumpul dana untuk panti-panti asuhan, dan
mengurus para penderita tunanetra. "Patut diakui bahwa berkat
kepeloporan Ny. Elarln Zain, dapat dibangun asrama dan
pendidikan anak-anak Mentawai di Padang," ujar seorang tokoh
wanita di Sumatera Barat.
Upayanya itu rupanya tak sia-sia dan ia beroleh penghargaan
pemerintah. Menteri Sosial Mintareja telah menyematkan
Satyalencana Kebaktian Sosial di dada Ny. Ratna Sari Harun Zain
awal tahun ini.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data