Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/IIIIIII/01 - 7 Oktober 1977
   
Ilmu dan Teknologi

Bumi Goncang Karena Bendungan ?

Bendungan kedungkancil, jateng, dikocok gempa akibat rembetan gempa tsunami di kepulauan nusa tenggara. air lebih mudah meneruskan getaran gempa dari pada tanah. hati-hati membangun bendungan raksasa. (ilt)

CARIK Brojol dari desa di Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen
(Jateng) waktu itu sedang memancing ikan di atas tembok yang
melingkari bendungan itu. Tiba-tiba, ia merasakan bumi
gonjang-ganjing. Air di balik bendungan itu seperti dikocok oleh
kekuatan raksasa. Gelombang air setinggi semeter menyibak ke
kiri-kanan bendungan sampai selebar 3 meter. Untunglah itu hanya
terjadi beberapa detik saja. Begitu hilang rasa kagetnya, sang
carik langsung melapor kepada atasannya.

Keesokan harinya, ir Fauzie, Kepala Urusan Irigasi, Sungai B
Rawa Kanwil PUTL Jawa Ten8ah lanRsung meninjau ke sana ditemani
oleh Inspektur Urusan Irigasi Surakarta, Rosyad B.E. Keduanya
menyaksikan empat retakan di bangunan bendung penutup. Ada
kebocoran kecil. Untuk mengurangi beban bendungan yang sudah
mulai bocor itu, orang-orang PUTL itu memerintahkan pembuangan
sejumlah air yang menggenang di depan bendungan.

Menurut taksiran harian Suara Merdeka yang terbit di Semarang,
14 September lalu, ada sekitar 1,5 juta m3 air dibuang dari
danau buatan yang luasnya sekitar 50 Ha itu. Menurut koran itu
juga, gempa yang menggoncang Bendung Kedungkancil itu - dan juga
Rempa yang terasa di Wonogiri beberapa waktu sebelumnya --
merupakan buntut gempa laut di selatan Nusa Tenggara, Agustus
lalu.

Pelatuk Gempa

Betulkah gempa yang dirasakan dan dilihat oleh Carik Brojol -
saksi mata satu-satunya -- ada hubungannya dengan gempa di Nusa
Tenggara?

Tak mustahil. Sebab baik Kepulauan Nusa Tenggara maupun Pulau
Jawa terletak pada lempeng benua yang sama: lempeng Eur-asia
yang 'menunggangi' lempeng Indo-Australia di bawah busur
pulau-pulau dari Sumatera sampai belokan Maluku enggaru.
Menurut teori para ahli, gempa tektonis memang bisa 'merambat'
sepanjang pinggiran lempeng benua yang sama.

Namun ada dua hal lagi yang perlu diperhatikan dalan- soal gempa
yang mengocok bendungan Kedungkancil itu. Yakni: air lebih mudah
meneruskan getaran buni ketimbang tanah yang padat. Makanya
tsunami yang disebabkan oleh gempa dangkal di dasar laut bisa
merambat dengan kecepatan pancar gas dari Amerika Selatan ke
Jepang, melintasi ribuan mil Lautan Pasifik. Juga, danaubuatan
manusia atau alam bisa 'memancing' pelepasan enerji potensiil di
daerah perbenturan lempeng-lempeng kerak bumi, sehingga timbul
gempa.

Kemampuan waduk menjadi 'pelatuk' timbulnya gempa bumi - induced
seismicity, kata para ahli -- sudah pernah disimposiumkan secara
internasional di Banff, Kanada, dua tahun lalu. Bahaya waduk air
itu, juga disinggung kembali oleh seorang ahli geofisika Kanada,
D.I. Gough dalam konferensi Unesco tentang peramalan dan
penanggulangan bencana gempa di Paris, Pebruari 197. Di sana
sang ahli mengemukakan 20 perkara peningkatan kegiatan seismik
akibat pembangunan bendungan dan waduk raksasa. Mulai dari gempa
bumi 'mini' sampai gempa gede:

Makin Banyak

"Kegiatan seismik yang berarti," begitu sang ahli dikutip oleh
maialah The Unesca Coufer, Mei 1976, "dapat terjadi di dekut
sehllah waduk apEbila tinggi bendunannya lebih dari 100 metor
dan volume airnya lebih dari I milyar meter kubik." Karena
sokarang dl seluruh dunia ada leblh darl 275 waduk dengan tinggi
bendungan di atas 100 meter, maka kans timbulnya gempa akibat
waduk buatan manusia paling kurang adalah 1: 14. Dan karena
sekitar 135 waduk raksasa sementara ini sedang dibangun atau
diusulkan, Gough meramalkan kemungkinan timbulnya 10 sampai 15
gempa akibat pancingan waduk dalam tahun-tahun mendatang.

Hubungan timbal-balik antara gempa bumi dan waduk raksasa pernah
memancing debat yang lampir membatalkan pembangunan waduk
raksasa di Lahore, Pakistan. Di Indonesia sendiri, beberapa ahli
geologi ITB pernah mengusulkan peninjauan kembali lokasi waduk
Cimanuk, Kabupaten Sumedang, setelah gempa bumi yang
menghancurkan puluhan rumah penduduk di Cibadak. Jawa Barat
(1975). Alasannya waduk yang baru direncanakan itu terletak di
daerah yang rawan gempa. Sehingga bisa memancing gempa di daerah
aliran sungai Cimanuk. Setidak-tidaknya, dapat melipatgandakan
efek gempa bumi yang sewaktu-waktu mungkin singgah di bumi
Priangan akibat lubernya jutaan meter kubik air yang
ditampungnya.

Sampai kini, belum terdengar kelanjulan proyek waduk Jatigede di
daerah aliran sungai Cimanuk itu. Namun sementara itu, ada waduk
lain yang juga direncanakan akan dibangun di daerah yang rawan
gempa. Yahli waduk Wonogiri, yang telah memindahkan ratusan
penduduk kabupaten di hulu Bengawan Solo yang tandus itu ke
Sitiung, Sumatera Barat.

Mungkin masih sulit juga meyakinkan hal ini, mengingat waduk
Jatilihur di Jawa Barat atau waduk Karangkates di Jawa Timur
belum terdengar dikocok (atau menggelitik?) gempa bumi. Tapi
bisakah kasus bendungan Kedungkancil di Sragen itu dapat
dianggap sebagai lampu kuning, agar lebih hati-hati membangun
waduk raksasa?


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data