Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 27/IIIIIII/03 - 9 September 1977
   
Ekonomi dan Bisnis

Kapan lagi, bogasari

Setelah semen cibinong membuka pasar modal, pt boga sari merasa tidak enak diri. badan pelaksana pasar modal siap menunggu, mendorong menjual saham via bursa modal bogasari sebesar rp 5 milyar. (eb)

MENKEU Ali Wardhana setengah bercanda pada Sudwikatmono, Presdir
PT Bogasari: "Ayo dong, ikut go public. " Ketika itu Badan
Pelaksana Pasar Modal (Bapepam) sudah siap menunggu, tapi
aplikasi perusahaan tak kunjung masuk. Maka berbagai pejabat
tinggi pun berusaha mendorong-(lorong siapa saja yang
dianggapnya pantas untuk melamar ke Bapepam.

"Ayo kapan lagi. Mulai dong," berkata pula kemudian Barli Halim,
ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), kepada
Sudwikatmono. Tapi Presdir PT Bogasari itu berpikir bahwa
perusahaannya tidak memerlukan tambahan kapital. Jadi, untuk
mempublik menjual saham via bursa, bukanlah urusannya. Jika
modal diperlukannya, tentu PT Bogasari bisa gampang meminjam
dari sumber lain.

Tapi sesudah Presiden Soeharto membuka resmi Pasar Modal (10
Agustus) dengan PT Semen Cibinong sebagai perintis mempublik, PT
Bogasari kabarnya merasa tak enak diri. Apalagi ini adalah suatu
proyek kesenangan Presiden, sedang Bogasari sudah sepantasnya
menunjukkan partisipasinya.

Bukankah Bogasari jadi jaya karena fasilitas pemerintah? Maka
"Ayo dong" dari Menkeu akhirnya ditanggapi serius. Sudwikatmono
pun menyampaikan pesan tersebut kepada Sudono Salim (d/h) Lim
Swie Liong), pemegang saham terbesar (50%).

"Jika disuruh, apa boleh buat, saya akan go public, " begitu
seorang anggota DPR mengutip Lim. Kalau Salim ini sudah bilang
okay, selebihnya gampang diatur. Bayangkan, Salim senior
memegang 50%, sedang isteri, anak dan adiknya memiliki 25%.
Sisanya untuk Sudwikatmono (12«%) dan Ibrahim Risyad (12«%).

Bogasari mulai beroperasi bulan Desember 1971, dan mempunyai
pabrik pengolahan gandum di Tg. Priok dan Tg. Perak, Surabaya.
Pabriknya di Priok itu, sesudah berkali-kali diperluas, bekerja
penuh menghasilkan 500. 000 ton terigu setahun. Di Perak,
pabriknya sedang diperluas untuk berproduksi sebanyak di Priok.
Sudah dimilikinya satu kapal bulk yang menjemput pembelian
gandum curahan dari Australia, Amerika dan Eropah. Satu lagi
kapal semacam itu sedang dibikin di galangan Jepang untuk
Bogasari.

Pemasaran terigunya sangat dijamin oleh Bulog. Perusahaan ini
pasti beruntung dan "empuk" bagi underwriters (penjamin) manapun
untuk dibawa mempublik.

Modal Bogasari sekarang berjumlah Rp 5 milyar. Nilai nominal
sahamnya adalah Rp 500.000 per lembar. Pasti jauh di atas itu
nilai perusahaan ini, ji ka diadakan revaluasi.

Tapi saham yang akan dijualnya kepada masyarakat cuma sekitar
10%, menurut Sudwikatmono. "Kami cuma ikut meramaikan," katanya
kepada TEMPO. Bila menjumpai saham sebesar itu, PT Danareksa,
yang diduga akan turut menjamin, akan memecahnya menjadi
sertifikat Rp 10.000 pula.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data