Ramai Berlomba Ekspor rotan dari jambi 1.621 ton tahun 1976/1977. diharapkan
meningkat 100% tahun berikutnya. penebangan rotan memasuki
areal hph. untuk kelestarian, penebangan rotan muda perlu di
cegah. (eb) |
DI Jambi, bisnis rotan sedang menarik. Jika pada 1976/77 ekspor
rotan dari daerah itu sebanyak 1.621 ton, diharapkan angkanya
meningkat 1007c pada tahun anggaran berikutnya. Gejala meningkat
itu terasa deras terutama sejak Januari yang lalu. Sebagian
besar rotan Jambi dikapalkan ke Singapura, Taiwan dan Hongkong.
Dan ada pula diangkut orang rotan Jambi itu ke propinsi tetangga
- Sumbar dan Sumsel.
Jika begini terus, kata pengusaha R. Abdullah kepada pembantu
TEMPO di Jambi, "tidak mustahil 10 atau 15 tahun lagi" akan
sulit orang memperoleh rotan di Jambi. Rupanya orang berlomba
membabat rotan, hingga kelestariannya dikuatirkan.
Para penebang rotan - umumnya petani - menjual kepada pengusaha
seharga Rp 85.000 per ton basah atau Rp 150.000 dalam keadaan
kering. Untuk rotan manau, dijual mereka Rp 270 per batang basah
yang berukuran 4 meter, dan Rp 320 bila sudah kering.
Mereka menebang rotan sampai-sampai memasuki areal (HPH) kayu.
Para pemegang HPH, kecuali kalau ada izin khusus, tidak boleh
mengusahakan rotan. Ternyata para petani bukan hanya menebang di
lokasi HPH, tapi juga mengangkut rotan mereka dengan kendaraan
milik pehgusaha kayu. Manajer Afandi dari PT Tanjung Jati, satu
perusahaan kayu di Jambi, berkata, "Kalau kami tidak mau
membawanya, (kami) bisa berabe."
Direktur Yosep Rizal dari CV Putra Dewa, satu-satunya perusahaan
pribumi yang mengekspor rotan dari daerah itu, nampaknya
berusaha supaya para penebang tidak serampangan. "Kami tidak
akan membeli rotan yang muda," kata Rizal. Kalau para eksportir
lainnya bersikap sama, kelestarian rotan Jambi agaknya bisa
dipelihara.
|