Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/IIIIIII/21 - 27 Mei 1977
   
Kota

Lalu Lintas Dan Sampah

Lalu lintas di Kota Medan masih semrawut. Perluasan daerah bebas beca memancing supir kebut-kebutan. Angka kecelakaan lalu lintas di Medan tetap tinggi.

MEDAN tetap kota berdebu dan bersampah. Meski telah ditetapkan
sebagai salah satu di antara 3 kota percontohan dalam
menanggulangi sampah di Indonesia. Tapi juga masih bergelut
dengan kesemrawutan lalulintas. Dengan volume jalan yang umumnya
sempit-sempit, sementara warga kota yang tak mengenal sopan
santun berlalulintas, kian bertambahnya kendaraan, membuat Medan
berantakan dalam hal yang satu ini.

Beberapa waktu lalu walikota dan pihak kepolisian di sana
berupaya mengurangi terjadinya kecelakaan lalulintas. Antara
lain dengan merubah beberapa jalur jalan yang ramai. Cara yang
dipilih yaitu membuka jalur satu jurusan. Juga dengan mengurangi
operasi beca-beca dalam kota, terutama yang masih didayung
manusia. Sedang beca bermesin hanya dibenarkan membawa penumpang
dalam kota. Tapi urusan pembagian rezeki itu tak seluruhnya jadi
monopoli supir-supir beca mesin. Pada batas dekat pinggiran kota
penumpang beca mesin harus turun dan harus meneruskan perjalanan
dengafl beca dayung. Hal ini bisa terjadi kalau mereka tak
senang menumpang oplet atau bus kota.

Tapi gara-gara jalan satu jurusan dan pembatasan operasi beca
dayung itu sempat terjadi keributan. Malah para penarik beca
dayung unjuk perasaan beramai-ramai. Untung kerusuhan ini segera
dapat dipadamkan. Maka berubahlah suasananya. Pada jam-jam
tertentu, antara jam 06.00 pagi sampai jam 18.00 beca dayung tak
dibenarkan beroperasi di dalam kota. Setelah jam-jam itu mereka
bebas berada di kota, sementara beca-beca bermesin boleh juga ke
kampung-kampung.

Saling Serempet

Adanya jalan satu jurusan dan dikurangi jam beroperasi beca-beca
dayung keadaan lalu lintas agak melegakan. Hanya ada yang
menafsirkan dengan adanya jalan satu jurusan itu supir atau
pembawa kendaraan roda dua bebas ngebut. Tingkah ngebut itu
umumnya ditandai oleh kesukaan sejumlah anak-anak muda. Sedang
bus kota Damri yang berplat merah dan mendapat jalur-jalur basah
untuk mengangkut penumpang (malah untuk daerah Kesawan yang
selama ini tak dibenarkan masuk bus kota toh Damri boleh)
kelihatan sering ngebut memburu trip. Berhenti di mana suka -
ada halte atau tidak malah sering sengaja saling serempet.

Tapi polantas bukan tidak memperhatikan kelakuan para supir.
Belum lama ini supir-supir itu mulai dijinakkan agar tahu adab
berlalulintas melalui penataran. "lni adalah sebagai salah satu
cara mengurangi kecelakaan lalu lintas", ucap Letkol. Pol. drs.
Poeloeng Soehartono, Kasi Lantasdak II. Poeloeng juga
berinisiatif menjinakkan pengebut-pengebut dalam kota. Dengan
restu Kadapol II/SU Brigjen Pol Moerjono beberapa waktu lalu
diadakan Bhayangkara Tour dati Medan, Brastagi, Pematang
Siantar, kemudian kembali ke Medan. Pesertanya adalah anak-anak
muda yang suka ngebut dengan sepeda motor.

Adakah grafik korban tubrukan di jalan berkurang? Kasi Lantas
Komtabes Medan dan Sekitarnya, Mayor Pol drs Gandhi mengakui,
"sejak adanya jalur satu jurusan kecelakaan relatif berkurang".
Tapi ucapan ini belum seluruhnya dapat dipegang. Apalagi kalau
sudah diadu dengan angka-angka sejak kwartal lalu. Dispendak
II/SU mengumumkan tentang kecelakaan lalulintas di Medan bulan
Januari lalu ada 112 kali. Pebruari meningkat sampai 127 kali.
Pada bulan Maret ada 106 kecelakaan. Hasil dari kecelakaan bulan
April lalu belum diumumkan. Tapi kota Medan masih tetap jempolan
dibanding daerah lain di propinsi itu dalam hal jumlah
kecelakaan lalulintas.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data