Hasan Tawil, Lintah Biru Dan ... Hasal Tawil menceritakan pengalamannya selama enam hari di hutan mencari bantuan. Selain diguyur hujan ia bersama kopilot masykur dan haji Salim Midu, diserang lintah. (nas) |
ORANGNYA kecil dengan rambut yang disisir lurus ke belakang.
Matanya besar dan selalu memandang tajam. Dengan mulut yang
lebar dan tampak selalu mau terbuka, calon Golkar nomor 13 untuk
daerah Sulawesi Tengah ini memang orang yang pandai bercerita.
Orang-orang yang mendengarkan ceritanya mengatakan bahwa
bagian-bagian dari cerita bertambah dan berubah dalam tiap
kesempatan.
Hasan Tawil, 42 tahun, adalah juga Ketua Kwartir Daerah Gerakan
Pramuka Sulawesi Tengah. Latihan kepramukaan mungkin banyak
menolongnya dalam menemukan jalan keluar dari reruntuhan
pesawat. Dia sahabat kental almarhum Husni Alatas. Pada tahun
1951 mereka pernah bersama-sama berangkat ke Jakara untuk ambil
bagian dalam jamboree nasional ketika itu.
Ia juga yang menceritakan Husni hanya terjepit kakinya dan masih
hidup ketika dia tinggalkan. Ceritanyalah yang membuat keluarga
besar Alatas di Toli-Toli dan Ujungpandang yakin akan
keselamatan putera mereka.
Harapan itu kemudian padam ketika korban yang bertahan hidup,
Ham Sek Lae sampai ke Toli-Toli pada tanggal 13 April. Lae yang
mengenal baik Husni menceritakan kepada salah seorang anggota
keluarga yang berhasil menyusup masuk ke pembaringan Lae di
rumahsakit, bahwa Husni telah meninggal pada hari pertama. Mulai
saat itu suasana jadi muram di rumah Abdul Rachman Alatas, orang
tua Husni, yang terletak di seberang lapangan Haji Hayun
Toli-Toli.
Mungkin: Hasul Tawil hanya ingin memberi semangat pada keluarga
yang ditinggalkan. Mungkin pula ia sendiri tak pasti. Betapapun
jua, dialah yang berjasa menunjukkan tempat kecelakaan secara
garis besar kepada khalayak ramai.
"Saya masih ingat beberapa saat sebelum pesawat menurun
menghindari kabut dan tiba-tiba membelok ke kiri, Husni Alatas
mengatakan kepada saya sambil melihat jam-tangannya: 'Sudah
setengah jam kita terbang. Sebenarnya saya tak suka naik pesawat
kecil seperti ini", kata Hasan Tawil kepada wartawan TEMPO
ketika dia ditemui di rumahnya yang terletak di seberang
lapangan Haji Hayun, Toli-Toli:
Berikut ini rekaman wawancara dengan laki-laki yang berhasil
mencapai daerah transmigran Ongka Malino setelah berjalan kaki 6
hari lamanya:
Begitu saya sadar, badan saya sudah kuyup disiram hujan. Saya
terlempar ke luar sejauh 7 meter dari pesawat. Ketika saya lihat
ke sekeliling saya menemukan Haji Salim Midun dan isteri Husni
Alatas. Saya dengar Husni merintih minta tolong. "Husni, di mana
kau?" sahut isterinya yang mencoba merangkak mendapatkan
suaminya dekat pintu pesawat. Isteri Husni meminta pertolongan
saya, karena kaki kirinya patah. Saya papah dia mendekati Husni
yang terjepit dekat pintu pesawat, persis pada bagian badan
pesawat yang patah. Saya pungutkan kepingan badan pesawat dan
saya tudungkan ke atas isteri Husni supaya dia tak kehujanan. Di
sebelah Husni saya melihat Pak Harsoyo yang belum sadarkan diri.
Kira-kira dua jam kemudian baru saya berangkat meninggalkan
pesawat bersama ko pilot Masykur. Haji Salim Midun kami ajak
juga untuk pergi meminta bantuan. Tapi karena luka di lututnya
dia tak bisa ikut serta. Begitu kami berdiri di tempat yang
pohon-pohonnya telah tumbang oleh benturan pesawat, saya melihat
kampung dan mesjid yang terletak tak jauh di bawah. Dekat
sekali. Mengapa tak minta bantuan ke sana, kata saya dalam hati.
Dengan berbekal sebuah apel kami berjalan selama 5 jam untuk
mencari kampung bermesjid itu. Tapi yang kami temukan hanya
sungai. Kami menginap semalam di tepi sungai yang deras itu.
Kami berdua saling berangkulan selama tidur di atas batu, supaya
tubuh kami hangat.
KEESOKAN harinya ketika kami meninggalkan sungai itu, matahari
sudah tak bisa kelihatan. Sungai yang kecil itu ditutup daun
pepohonan yang tinggi. Empat hari lamanya kami tak pernah
melihat matahari. Tanah berlumut dan lintah bukan main besarnya.
Sebesar batang sapu lidi. Satu kali Masykur yang selalu
mengikuti saya dari belakang bilang: "Pak, saya kok selalu
melihat ada gunung hitam di depan". Heran, saya berbalik ke
belakang. Saya lihat ternyata di mata ko-pilot itu seekor lintah
yang sudah kenyang. Cepat saya pegang dan lepaskan dari pelupuk
matanya.
Dalam perjalanan, ko-pilot sering membantah pandangan mata saya
pada hari pertama. Saya ada melihat kampung, tapi katanya dia
tidak melihat. Saya katakan sudahlah ikuti saya, saya melihat
kampung di situ. Sepanjang jalan Masykur berteriak-teriak minta
tolong terus. Saya katakan tak ada gunanya minta tolong di
tengah hujan begini. Di sini tak ada orang. Bikin habis tenaga
saja.
Dari reruntuhan pesawat kami memang membawa permen sebagai bekal
dalam perjalanan, tapi pada hari kedua permen dan roti yang kami
bawa, tak sempat dimakan. Air sungai sangat deras. Dan kami
harus menyeberang. Roti yang saya lemparkan kepada Masykur
ternyata tak bisa ditangkapnya di seberang. Roti itu jatuh ke
sungai dan mulut sungai itulah yang memakannya. Bukan mulut
kami.
Ketika sampai di seberang, permen yang saya simpan di kantong
sudah habis mencair selama berusaha menyeberangi sungai yang
deras itu. Sisa makanan lainnya begitu pula: sudah habis dibawa
sungai. Masih untung saya bisa selamat sampai ke seberang. Kalau
tak ada tonggak di tengah sungai itu dan kalau saya tak bisa
menangkapnya, saya kira saya sudah tak ada sekarang. Dan
untunglah Masykur membawa pelampung dari pesawat. Dengan
pelampung itu saya bisa mencapai tepian sungai.
Hutan yang kami lalui itu belum pernah dijamah manusia. Tak ada
pohon kayu yang terpotong. Dan lintah - yang berwarna biru -
kadang-kadang seperti terbang menghinggapi kami. Kaki, tangan
dan pinggang penuh lintah. Kami biarkan saja. Kalau mereka sudah
terasa terlalu banyak yang mengusap darah, baru kami turun ke
sungai dan lintah itu lepas dengan sendirinya. Satu kali
hidung juga hampir dimasuki lintah. Lantas saya perintahkan ko
pilot untuk menutup kuping dengan kertas colognette yang saya
temukan di saku baju saya. Kertas itu mengandung alkohol hingga
lintah tak berani dekat.
Lapar hanya hari pertama yang kami rasakan. Sesudah itu cuma
haus. Kami mencoba memakan daun-daunan tapi semuanya terasa
pahit. Karena sudah terlalu banyak daun yang kami coba akhirnya
kami tak ingin. Fikiran hanya terpusat pada kampung yang pada
hari pertama tampak dengan jelas. Satu hari kami menemukan
monyet yang berkerumun di atas pohon. "E . . . kera Pak", kata
ko pilot Masykur. "Di Jawa tak ada kera begini", sambungnya
lagi. "Ya di Jawa memang tak ada. Tapi di sini kalau kera ini
mengeroyok, kita bisa mati. Jangan ganggu kera itu, sama-sama
cari makan", kata saya. Saya berdiri di bawah pohon tempat kera
itu makan, dengan harapan ada buah yang jatuh. Lama ditunggu,
tak ada yang jatuh. Kera pun tak mau menolong kami, kata saya
dalam hati.
Saban hari kami hanya bisa berjalan selama 6 jam. Mulai jam 7
dan berhenti jam satu siang. Saban hari hujan. Selain itu
setelah jam satu, hari sudah mulai gelap. Untuk mengatasi haus
tidak sukar, karena kami terus menyusuri sungai. Cuma herannya
meneguk air cuma seteguk rasanya tak cukup. Dua teguk baru
cukup. Kalau tiga bisa muntah.
Pada hari keempat, pada pertemuan sebuah sungai, kami berdua
berjumpa dengan Haji Salim Midu. Ko pilot yang mula-mula melihat
orang itu. "Tolong!" teriaknya, sambil menunjuk ke arah orang
itu. Begitu mendekat ternyata yang kami jumpai itu adalah teman
senasib. Kami berpelukan di pinggir sungai itu. Perjalanan kami
teruskan menyusuri sungai dan kalau sudah tiba waktu tidur kami
tidur di gua-gua batu yang terletak di tepi sungai. Selama tidur
kami saling bersentuhan. Kalau tak begitu kami tak tahu di mana
teman kami berada. Kalau sudah malam jarak setengah meter teman
tak kelihatan. Kalau seorang mau memiringkan badannya dia harus
memberitahu, supaya dua teman yang lain siap-siap menyesuaikan
gerakan tubuhnya.
Pinggir sungai itu selalu kami cari sebagai tempat menginap,
dengan alasan kalau ada binatang buas, kami bisa langsung
menghindar ke dalam sungai. Satu malam ketika akan tidur saya
menjemurkan baju saya di atas batu, dengan harapan besok paginya
bisa kering. Tapi begitu bangun esoknya pakaian itu sudah dibawa
hanyut oleh arus sungai yang rupanya pasang waktu malam.
Ketika berjalan bertiga dengan Haji Salim Midu kami mulai lagi
mencoba makan daun-daunan, meskipun tak pernah ada yang bisa
dimakan. Satu hari pak Midu menemukan pisang hutan. "Bongkol
pisang ini bisa dimakan", katanya. "Jangan-jangan gatal di
perut", jawab saya. Akhirnya pisang itu tak jadi disentuh. Satu
kali saya menemukan kembang berwarna putih. Saya suruh pak Midu
mencobanya. "Enak", ujar orang tua itu. Lantas saya mencari
kembang itu lagi dan membawanya dalam jumlah yang banyak. Mereka
berdua mencobanya. Mula-mula kata mereka enak, tapi setelah
beberapa lamanya ditelan, leher terasa pahit. Saya sendiri tak
pernah mencobanya.
Pada hari kelima barulah kami melihat batang-batang pohon
dipotong orang. Dan pada hari Minggu besoknya kira-kira jam 11
siang kami berjumpa dengan setumpuk rotan. Saya ambil sebatang
dan saya lihat rotan itu baru ditebang. Saya jadi yakin kampung
yang saya lihat hari pertama sudah dekat. Hari ini sungai yang
kami susuri sudah melebar. Kami duduk di atas rotan itu menunggu
kalau-kalau yang punya datang. Lama rasanya kami tunggu akhirnya
kami teruskan perjalanan.
Perjalanan mendekati sebidang tanah perladangan. Kami melihat
seorang perempuan yang sedang bekerja di situ. Kami minta
tolong. Perempuan itu melihat kami sebentar, lantas dia pergi.
Waktu dia lari muncullah dua orang laki-laki. Saya bertanya
sambil berteriak: "Ini kampung pa?".
"Ini Ongka", jawab mereka. Kalau begitu ini sudah daerah
Donggala, saya fikir. Kami berkenalan, dan dari perkenalan itu
saya tahu orang tadi berasal dari Jawa. Kemudian saya minta
Masykur untuk bicara dengan mereka. Mereka berbicara dalam
bahasa Jawa, di mana ko pilot itu mengatakan dia dan saya serta
pak Midu adalah korban pesawat yang jatuh. Dari tempat itu kami
harus berjalan dua kilometer lagi, barulah kami berjumpa dengan
mantri dan pakaian kami yang basah diganti. Kami disuguhi
jagung. Tapi mulut kami tak bisa mengunyah. Besok, hari Senin
pagi, baru kami diberi susu. Tapi mundah muntah. Satu-satunya
yang bisa kami nikmati adalah air-tebu. Sesudah itu baru kami
bisa makan bubur.
Hari Senin pagi sekitar jam 11.00 saya sudah sampai di
Toli-Toli. Naik heli. Saya takut bukan main. Pinggang, saya ikat
kencang-kencang. Sekejap pun saya tak mau melihat keluar. Begitu
heli mendarat saya melihat orang yang berduyun-duyun mengitari
pesawat, menyaksikan saya yang keluar dengan jaket Golkar dan
surat Yasin yang tetap selamat selama perjalanan.
|