Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/IIIIIII/02 - 8 April 1977
   
Film

Mohammad Di AS (Dan Anthony ...)

Film Mohammad Messenger Of God bikin heboh. Orang hitam AS penganut Islam menyandera 100 orang lebih di Washington,menuntut agar pemutaran film itu di hentikan, karena memberi gambaran salah tentang Islam.

FILM Mohammad Messenger Of God dihebohkan di mana-mana. Juga di
Amerika Serikat. Akibat penyanderaan Muslim Hanafi terhadap
sejumlah orang di pusat kota Washington (TEMPO, 19 Maret), film
tersebut terhenti pemutarannya dibeberapa kota. Ini
mengakibatkan tertujunya perhatian kepada film buatan sutradara
Amerika kelahiran Suria, Mustapha Akkad, itu. Berbagai
komentar muncul di koran, majalah maupun siaran-siaran radio di
Amerika Serikat. Pembantu TEMPO di Washington melaporkan
heboh sekitar film tersebut di Amerika Serikat. Berikut ini
laporannya.

SEKELOMPOK orang hitam Amerika penganut Islam mazhab Hanafi di
Washington D.C., beberapa waktu yang lalu menyandera
seratus-sekian orang di tiga gedung, termasuk kantor Pusat Islam
Washington. Di antara tuntutannya adalah: larang itu film
Mohammad Messenger Of God beredar di Amerika, karena film itu,
menurut pendapat mereka, "mempermainkan agama Islam, terutama
Nabi Muhammad dan memberi gambaran yang salah terhadap agama
Islam". Sehari saja film itu dihentikan di tengah permainan, di
New York, di Los Angeles dan di kota-kota lain. Setelah
peristiwa penyanderaan selesai, film itu diputar lagi.

Bukannya tanpa tentangan. Jurubicara Islam mazhab Hanafi di
Amerika berjanji akan mengobarkan kerusuhan yang lebih hebat di
mana-mana di Amerika jika film itu nekat diputar. Juga walikota
Washington yang kebetulan namanya Washington juga, (orang
hitam). mengatakan film itu sebaiknya tidak diputar, terutama di
kotanya, karena "membahayakan jiwa manusia".

Film Besih

Orang awam Amerika yang sudah melihat menyatakan film itu
"baik", bersifat mendidik. Kata mereka: "Yang harus dilarang kan
justru -film-film porno yang bertebaran di mana-mana. Film ini
film bersih pertama yang dapat dinikmati orang-orang Amerika
setelah sekian tahun". Sebuah angket pendapat umum yang
dilakukan radio setempat melalui tilpon, menunjukkan 60%, ingin
film itu tidak diputar karena adanya risiko yang membahayakan
jiwa manusia, 40%. lainnya sebaiknya diputar, alasannya: "kita
hendaknya tidak tunduk kepada ancaman siapapun yang ingin
menentukan apa yang boleh kita tonton apa yang tidak. Kita di
negara merdeka, nih!"

Pendapat media pers Amerika pada umumnya senada, film itu,
tehnis tidak begitu bagus, meskipun ceritanya sendiri mengandung
unsur-unsur yang bisa membuat film itu bagus. Berbeda dengan
keberatan pemuka-pemuka Islam penimbang film harian New York
Times justru merasa heran: "Film mengenai Nabi Muhammad kok
tidak ada Nabi Muhammadnya, ini kan sama dengan Concerto piano
Tchnaikovsky tanpa piano". Tapi harian itu mengakui ada juga
bagian yang menarik dari film itu, yaitu bagian-bagian terakhir,
ketika terjadi adegan-adegan perang. Dan keindahan film itu,
menurut harian itu adalah ketika Bilal (yang dimainkan oleh
Johnny Sekka, bintang fihn Afrika) mengumandangkan azannya.
Penimbang film yang bukan Islam ini mengaku berdiri bulu
kuduknya, sembari mengatakan. "Sekali ini sajalah sebagian
kekuatan dan keindahan agama besar ini terungkapkan".

Mingguan masalah-masalah hiburan berpengaruh, Varie menyalahkan
sutradara produser film itu, orang Amerika asal Suriah: Mustapha
Akkad, karena "terlalu mengalah terhadap perasaan-perasaan ummat
Islam" sehingga ia tidak bebas. Harian Chicago Daily News
mengeluh "terlalu banyak dialog yang kedengarannya seperti
pelajaran agama Islam mengenai sikap agama itu terhadap
rasialisme, kedudukan wanita dan sebagainya".

Pendapat organisasi-organisasi Islam Amerika seperti yang
tergabung dalam Moslem World League di New York memang
menunjukkan keberatan, tetapi dari segi lain: isinya. Dawud
Assad ketua organisasi itu mengatakan film itu mengutip
ayat-ayat Qur'an secara tidak benar dan tidak mencerminkan
kebenaran agama Islam. Tidak dijelaskan secara mendetail mana
yang tidak benar itu, sehingga mengundang tantangan dari
sutradara film itu: "Hayo, tunjukkan mana yang tidak tepat, baik
dari segi sejarah maupun agama, kalau mereka memang bisa
menunjukkan, saya bersedia menghancurkan film itu", kata Akkad.
Dan ia lalu mengeluh: wakil-wakil dari organisasi Islam di New
York itu tidak ada yang datang ketika diminta ikut menyensor
film tersebut tempo hari.

Mereka yang sudah menonton, terutama orang orang Islam Amerika
hitam yang dulu bernama Nation of Islam dan sekarang menyebut
World Community of Islam in the West, senang dengan film itu.
Termasuk petinju Muhammad Ali.

Jago tinju ini, katanya, hampir saja memerankan Bilal dalam film
itu kalau saja ia tidak kalah bersaing dengan bintang film
Gambia yang akhirnya diserahi memainkan peranan sebagai muazzin
hitam tersebut. Muhammad Ali, usai melihat pertunjukan film
tersebut di Hollywood, mendatangi bintang film itu: "Johnny,
anda membuat saya begitu bangga. Saya pernah nonton Srperfly
dan film-film lain di mana orang-orang hitam memegang peran
utama. Saya tidak pernah lihat orang hitam memainkan peranan
demikian agung seperti anda dalam film ini".

Pemabuk

Dan Anthony Quinn. Orang yang diserahi memerankan Hamzah, paman
Nabi ini memang pernah dipublisir di merika sehagai memerankan
Nabi Muhammad. Entah karena publikasi ini, entahkarena
desas-desus belum-belum orang sudah marah padanya: "Bagaimana
bisa dimengerti, orang yang suka mabuk-mabukan seperti dia
memerankan tokoh agung seperti Nabi Muhammad", kata sarjana
Universitas Al Azhar Sheikh Ibrahim Battawi.

Quinn yang segera dihubungi oleh wartawan Washington Post di
kota Meksiko, berkenan menyatakan ibanya atas semua tanggapan
itu. "Saya merasa apa yang saya lakukan dengan jujur, apa yang
saya lakukan dengan segenap hati dan jiwa saya dengan harapan
ada manfaatnya, telah ditangkap orang secara salah", katanya.

Masih kata bintang dari film Guns of Navaronne, Huncbback of
Notre Dame ini: "Tidak ada sedikitpun maksud dari siapapun untuk
menghina dalam pembuatan film ini. Kami merasa masih banyak
sekali orang salah mengerti terhadap agama yang mempengaruhi
8.000 juta orang di dunia ini".

Sebenarnyalah niat Akkad membuat film ini cukup agung. "Saya
ingin menunjukkan kepada dunia kesulitan-kesulitan yang dihadapi
Nabi, masalah-masalah yang nampaknya tidak dapat tetapi ternyata
kemudian dapat diatasinya dan menyadarkan dunia akan segi-segi
baik dari Islam", katanya.

Sutradara tamatan Universitas California di Los Angeles itu juga
tidak sembarangan ketika mempersiapkan pembuatan film tersebut.
Ia mengaku telah mendapat persetujuan dari beberapa negara
Islam, tetapi tidak dari Arab Saudi, yang menganggap pembuatan
film demikian sebagai "usaha mengeksploitir Nabi". Naskah film
yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab telah pula disetujui
oleh Universitas Al-Azhar "halaman demi halaman".

Tetapi Dr. Abdurrauf, direktur Pusat Islam yang juga ikut jadi
sandera beberapa minggu yang lalu, sekarang mengatakan kepada
wartawan TV yang meawancarainya "Syekhul Azhar telah menyatakan
keberatan terhadap film itu". Tidak dijelaskan apakah keberatan
itu diberikan sesudah mereka melihat film tersebut, juga apakah
ia sendiri telah menontonnya. Tetapi Sheikh Ibrahim Battawi,
seperti dikatakan oleh sebuah mingguan berita Amerika, memang
mengatakan "inti film itu menggambarkan Muhammad sebagai seorang
pembaharu sosial dengan dasar agama dan bukan sebagai seorang
yang kami percayai sebagai penerima wahyu Allah".

Tak Mau Jahiliyah

Pembuatan film itupun bukannya tidak mengalami
kesulitan-kesulitan. Ketika Akkad mengadakan konsultasi dengan
pejabat-pejabat Pakistan menjelang pembuatan film itu,
tersebarlah desas-desus yang mengatakan bahwa Charlton Heston
akan memainkan peranan sebagai Nabi Muhammad. Dan ini telah
menimbulkan kerusuhan di jalan-jalan. Bahkan di Libya, Akkad
menghadapi kesulitan dengan 8000 orang Islam yang main sebagai
ekstra dalam adegan-adegan perang. Tidak ada seorang pun yang
bersedia main sebagai orang-orang jahiliah. Kemudian, ketika
sesuai dengan sejarah, ummat Islam harus mengundurkan diri
setelah satu pertempuran, tak seorang pun mau mundur.

Walhasil film Mohammad, Messenger of God ini merupakan film
kontroversiil, juga di Amerika. Film yang menurut para
penimbang film akan cepat dilupakan penonton-penonton film
Amerika karena tidak menarik itu, setelah Peristiwa Muslim
Hanafi tersebut, sekarang diperkirakan akan menjadi instant hit
(laku keras). Peristiwa itu telah menjadi propaganda penting dan
luar biasa, yang dikatakan oleh beberapa kalangan, belum pernah
terjadi sepanjang sejarah perfilman di AS. Tidak saja orang jadi
ingin lihat film itu, tetapi juga ingin mengetahui lebih banyak
mengenai Islam sendiri.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data