Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/IIIIIII/26 Maret - 01 April 1977
   
Kota

Sempit Dan Makin Padat

Kepadatan lalu lintas di kota Mataram semakin ramai pengendara banyak yang kurang disiplin. Akibatnya, angka kecelakaan meningkat.

JUMLAH kendaraan bermotor di dalam kota Mataram, ibukota
propinsi NTB yang sedang bersiap-siap menjadi kota administratif
itu, semakin bertambah saja. Agaknya karena akhir-akhir ini
orang-orang berduit di sini lebih suka memanfaatkan uangnya
dengan membeli kendaraan, baik berupa sepeda motor, bemo maupun
colt. Ketiga-tiganya toh dapat dikomersiilkan, bahkan sepeda
motor tak sedikit peminat untuk menyewanya secara harian,
mingguan atau bulanan.

Tapi keadaan serupa itu semakin merisaukan Letkol (Pol) I Nengah
Wedha, Komandan Resort Kepolisian Lombok Barat. Ini tentu karena
melihat angka kecelakaan tahun 1976 lalu cukup melonjak
dibanding tahun-tahun sebelumnya. Angka itu demikian: 31
meninggal, 71 luka berat, 158 orang luka ringan. Sepeda motor,
bemo (dalam kota) dan colt merupakan jenis kendaraan paling
banyak terlibat dalam kecelakaan-kecelakaan itu.

Oknum

Menurut catatan I Nengah Wedha per 1 Januari 1977 di seluruh
propinsi Nusa Tenggara Barat terdapat 8.000 buah kendaraan
bermotor. Sepeda motor menduduki angka teratas sedang bemo
menyusul di bawahnya. Lebih seperdua dari jumlah tadi numpuk di
Lombok Barat dan hilir mudik memadati jalur-jalur jalan kota
Mataram dan sekitarnya yang rata-rata sempit. Tapi di samping
jumlah kendaraan dan jalan sempit, Nengah Wedha juga menunjuk
disiplin pengendara yang masih rendah sebagai penyebab angka
kecelakaan meninggi. "Bahkan banyak dari para pengendara itu
yang tak punya SIM", tambah Nengah.

Menangkap para pelanggar lalu-lintas di sana ternyata tak mudah.
I Nengah Wedha mengungkapkan dalam soal melarikan kendaraan
terlampau kencang misalnya tak hanya dilakukan supir-supir
kendaraan umum, tapi juga banyak pejabat dengan kendaraan
dinasnya. Bahkan belum lama ini dua orang anggota DLLAJR jadi
almarhum karena dengan berboncengan melarikan sepeda motor
terlampau kencang dan terkapar di bawah kolong sebuah truk yang
juga sedang dikebut supirnya.

Terhadap mereka yang tak punya SIM, dengan merazia lalu menahan
kendaraan mereka, juga kurang mempan. Golongan ini umumnya
terdiri dari anak-anak muda, bahkan tak sedikit yang di bawah
umur. Mereka ini selalu mengerahkan oknum-oknum untuk
membebaskan mereka dari tuntutan karena pelanggaran. Karena itu
ketika melantik 9 orang anggota Kamra (Keamanan Rakyat) sebagai
pembantu polisi lalulintas baru-baru ini Letkol Wedha berpesan
agar "selalu supel, tapi tegas tanpa pandang bulu". Begitu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data