Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/IIIIII/08 - 14 Januari 1977
   
Seni

Pameran Besar Ke-II

Pameran besar seni lukis Indonesia ke-II, 1976 di TIM diikuti 61 pelukis. Dapat dilihat perkembangan/ kemacetannya. Ada diskusi dengan pembicara jim supangkat dan oesman effendi.

SERATUS sembilan-belas lukisan dari 61 pelukis berjejer di Ruang
Pameran TIM, dilanjutkan di Galeri Baru Lantai III Teater Besar.
Dalam Pameran Besar Senilukis Indonesia ke-II 1976 itu 16 s/d 30
Desember -- hadir nama-nama yang sudah kawakan seperti:
Sudjojono, Agus Djaya, Oesman Effendi, disambung dengan
tokoh-tokoh ternama pada masa ini seperti Srihadi, Achmad
Sadali, Zaini, Mochtar Apin, Lian Sahar, Pirous, sampai
tokoh-tokoh muda seperti Sukamto, Jim Supangkat, Muryoto
Hartoyo, Lesmana, Ronald Manulang dan pada akhirnya para
pelukis yang seakan-akan berusaha mewakili beberapa daerah
seperti: Amang Rachman, Mohamad Daryono, Krisna Mustadjab
(Surabaya), Alimin Tamin, Sutan Chaidir, Rusli Hakim (Bali),
Wisran Hadi, Upita Agustine (Sumatera Barat). Cakupan yang
terakhir ini benar-benar terasa diseleksi bukan atas dasar
kwalitas tertentu, tetapi kehadiran mereka di daerah. Seperti
diterangkan dalam folder: "Fungsinya kiranya jelas. Terutama
bila kita sepakat, bahwa suatu rekaman periodik sama-sama
dibutuhkan untuk menyaksikan perkembangan - ataupun kemacetan
senirupa Indonesia mutakhir".

Seharusnyalah segera kita dapat bicara soal perkembangan atau
kemacetan itu, setelah menyaksikan isi pameran seandainya
pameran ini menampilkan seluruh wakil. Tetapi para pelukis dari
ASRI Yogya misalnya, atau pelukis-pelukis mutakhir dalam gaya
tradisionil seperti tmpad, Ida Bagus Made dari Bali. tidak
muncul. Juga lukisan Batik yang kendati selalu dipertengkarkan
-apa bisa dianggap sebagai senilukis atau harang kerajinan - toh
sudah dijadikan salah satu cap Indonesia oleh umumnya kalangan
luar. Mungkin juga oleh fihak pameran hal ini belum
terselesaikan sebagai masalah. Sehingga lebih gampang rasanya
untuk melihat saja hasil-hasil ke 61 pelukis yang termasuk dalam
Pameran Besar kali ini.

Ada cukup kegetolan dari beberapa tokot untuk melawan
kemandegan mereka sendiri. Dunia yang mereka ketengahkan cukup
beragam, kendati kita tidak melihat faktor lingkungan yang kuat
yang menyebabkan lukisan-lukisan itu membersitkan berbagai
warna. Nada yang tertangkap dari semuanya adalah keasikan untuk
membicarakan secara emosionil, perjalanan batin mereka
sendiri-sendiri. Kita bukan hanya tidak melihat kecenderungan
mengetengahkan problem sosial. Tetapi juga, semua lukisan tidak
melontarkan bayangan pencaharian dari berbagai kemungkinan yang
masih pantas dicoba. Maka yang muncul kemudian hal-hal elementer
seperti komposisi, misalnya. Seluruh pameran rasanya tidak
menjadi kaya, kendatipun begitu banyak nama.

Ada beberapa hal yang terasa berkesan memang - dari Sadali,
Pirous, Lian Sahar, Mochtar Apin dan Sukamto yang melukis tanpa
dihambat beban teknis. Dan kemudian beberapa tokoh dari daerah
yang melukis sebaliknya. Tetapi pertentangan ini tidak
mengangkat problem bahwa di satu fihak senilukis kita menjadi
santapan kaum intelektuil dan di fihak lain masih tetap usaha
menaklukkan kanvas dan warna. Karena semuanya terjadi bukan
dalam proses aksi dan reaksi yang barangkali menjadi ciri
kesenian Barat yang melahirkan ismeisme. Melainkan karena faktor
komunikasi serta lingkungan yang berbeda. Dengan kata lain,
perbedaan di antara lukisan-lukisan tersebut tidak disebabkan
jarak alam fikiran, tetapi perbedaan kesempatan. Dengan kata
lain lagi, dengan kesempatan yang sama mungkin sekali senilukis
kita sampai pada corak yang sama.

Sebagai bagian dari kegiatan pameran juga dilangsungkan diskusi,
dengan pembicara utama Jim Supangkat dan Oesman Effendie. Jim
yang berbicara pada hari Minggu - 26 Desember -- sempat membuat
pertemuan yang dihadiri banyak peminat itu cukup ramai.
Topiknya: "Masalah identitas, sejarah dan memajukan seni rupa
kita". Kendatipun banyak yang merasakan persoalan identitas
sudah lapuk sejak dia dikemukakan dengan cukup menghebohkan oleh
Oesman Effendi, toh Jim sempat melemparkan kertas kerja yang
cukup menarik. Di sana ia menetapkan identitas senirupa
Indonesia adalah "mencari", katanya. Dikutipnya juga sebuah
tulisan dari Unesco Couner edisi bulan Maret 1973 yang pada
pokoknya memberi kesimpulan tentang apa yang terjadi setelah
kesenian lokal bersentuhan dengan kesenian Barat.

Dan kemudian, meskipun tidak sempat mengikutkan seluruh
kalangan, Pameran Besar ini pada akhirnya memilih pula beberapa
orang pelukis untuk mengantongi hadiah. Mereka adalah: Sadali,
Pirous, OE, Lian Sahar dan Zaini. Selamat.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data