Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/IIIIII/08 - 14 Januari 1977
   
Pokok dan Tokoh

Jembatan KA Yang Roboh

Jembatan KA antara talog-kretek roboh. Berkat pertolongan penduduk seluruh penumpang kereta jaya selamat. 6 orang diangkat jadi pahlawan, mendapat hadiah dari menteri perhubungan dan presiden.

18 Maret 1972. Petang itu alam tidak bergembira. Langit berwarna
pekat, hujan tumpah ke bumi dan petir saling bersambaran. Desa
Ranca Kalong di sepanjang kali Keruh di daerah Brebes, Jawa
Tengah sebelah barat, seakan kena sirep. Keadaan desa jadi mati.

Ada sebuah warung kecil yang letaknya dekat jembatan kereta-api,
kali Keruh dan jalan desa tersebut. Pemilik warung, Dasori,
sambil berselimut sarung duduk tenang ditemani oleh isterinya.

Tidak ada pembeli di hari hujan lebat tersebut. Tapi Dasori yang
sedikit terkantuk-kantuk, kaget ketika isterinya berteriak:
"Pak, delengen! Bruge rubuh!" ("Pak lihatlah! Jembatan
rubuh!"). Dasori bangkit dari duduknya dan memang dilihatnya
bahwa satu dari kaki-kaki jembatan rubuh. Rel kereta api tampak
menggelantung nyaris mencium air sungai yang lagi meluap. "Wa,
berabeh! Kiye tah grigoni. Sedela maning ana sepur liwat",
(Wah celaka! Ini sih menakutkan. Sebentar lagi keretaapi lewat")
ujar Dasori. Kereta Jaya Surabaya-Jakarta, sebentar lagi memang
akan lewat.

Dasori bingung. "Cepet, Pak! Laporan nganah!", tegur isterinya
karena dilihatnya Dasori masih termangu-mangu. "Lha laporan
ngendi wong udan kaya kiye" ("Mau lapor ke mana hujan
begini") kata Dasori lagi. "Ya maring setapsiun" ("Ya ke
setasiun") sahut sang isteri.

Dasori yang hanya mengenakan celana kolor kemudian menerabas
hujan lari ke setasiun kecil Talog. Dia tidak berani masuk
kantor karena basah. Jadi dia hanya berteriak saja dan
mengabarkan bahwa jembatan rubuh.

Petugas setasiun mengetahui hal itu, panik. Dicobanya menelpon
setasiun Kretek, dengan harapan Jaya barangkali masih di situ.
Tapi telpon tidak bekerja. Kepala setasiun Kretek cepat lari ke
jalan besar (Talog-Kretek adalah setasiun kecil yang letaknya
antara Cirebon-Purwokerto, orang menamakan rel k.a. lewat
selatan) dan menyetop bis yang kebetulan lewat.

Sementara itu Dasori dengan beberapa orang lainnya
"membangunkan" penduduk desa Ardasana yang letaknya di seberang
rel kereta-api desa Ranca Kalong untuk ramai-ramai menyetop
kereta-api yang sebentar lagi lewat. Kebetulan rumah lurah
Ardasana dekat dengan rel kereta dan tidak terhalang apa-apa.

Di kelurahan situ ada carik desa Ardasana Chaerudin dan pegawai
kelurahan lainnya seperti Ramli (bau desa), Tjatam (lebai).
Rakub (pesuruh) dan Rais (polisi desa) yang sedang menanti
hujan reda. Mereka mendengar teriakan Dasori dan juga melihat
jembatan rubuh.

Chaerudin dan Tjataml mengerahkan penduduk desa Ardasana. Mereka
berlarian ke rel. Menit-menit kereta-api lewat pun mendekat.
"Brug rubuh! Brug rubuh! Setop, setop)!", teriak orang-orang
yang berdiri di tengah rel kereta-api.

Kereta Jaya terhenyak berhenti. Masinis termangu tidak bisa
omong sepatah katapun. Mata masinis tergenang airmata dan
barulah dia sadar setelah penduduk desa berceloteh bahwa
sebaiknya kereta-api langsir ke setasiun Kretek. Masinis
memundurkan keretanya dan seluruh penumpang selamat.

Kini di desa Ardasana telah berdiri sebuah SD. Ada juga patung
Pak Tani yang membawa obor, sebagai lambang kepahlawanan
penduduk desa di situ. Semua sumbangan dari PJKA. Enam orang
yang diangkat pahlawan, mendapat hadiah uang masing-masing Rp
30.000, ditambah lagi dengan radio, jam, pakaian dan hadiah
kecil-kecil lainnya lagi. Ditambah dengan hadiah ini: mereka
boleh naik kereta-api kelas utama ke mana saja, selama enam
bulan. Hadiah diberikan oleh Frans Seda yang waktu itu menjabat
Menteri Perhubungan, beberapa bulan setelah 18 Maret 1972.

Beberapa orang yang waktu itu diangkat jadi pahlawan kini masih
ada dan hidupnya ada yang sudah berobah. Chaerudin, kini tidak
tinggal di Ardasana lagi. "Dari dulu saya memang bercita-cita
kepengin-kerja di PJKA", ujar Chaerudin. Umurnya kini 38 tahun,
masih segar dan ayah dari 8 orang anak. Waktu jadi carik desa,
dia tidak menerima gaji tapi tanah bengkok (tanah yang karena
jabatan diberi hak untuk mengolah) dan padi 2 kwintal setiap
bulan. Biarpun dia belum resmi diangkat sebagai pegawai negeri,
gajinya Rp 15.000 sebulan dan tinggal di perumahan PJKA.

"Saya tidak mengira perhatian PJKA begitu besar terhadap kami",
ujar Chaerudin. Ketika dia melamar, Chaerudin cukup menunjukkan
surat penghargaan Menteri Perhubungan pada pejabat PJKA. Selama
dua tahun ini, dia jadi pegawai di Eksploitasi 4 di bagian
Urusan Penduduk Dia mengaku agak canggung waktu tinggal di kota
untuk pertamakali. Maklum, rumah berlistrik. Kini dia merupakan
tokoh penghubung PJKA dengan penduduk desanya. Artinya: setiap
kali ada pemuda desa Ardasana ingin bekerja sebagai pegawai
KA, dialah satu-satunya orang tumpuan.

Apa yang sedang diusahakan Chaerudin sekarang ialah memohon pada
Menteri Perhubungan agar SD hadiah di Ardasana diberi
pembiayaan tetap. "Sebab kalau mengandalkan pembiayaan penduduk
desa, akan terbengkalai. Maklumlah, desa kami itu desa minus".
Kerbau hadiah Presiden Soeharto telah dijualnya. Uagnya dia
bagi-bagikan pada penduduk desa. "Karena merekalah yang menyetop
dan paling berjasa". ujarnya.

Ramli Tjatam. Rakub masih tetap di Ardasana. Rais, si polisi,
telah meninggal. Dasori satu-satunya penghuni Ranca Kalong yang
mendapat penghargaan. juga masih di desanya. Umurnya kini 50
tahun. Rumahnya, untuk ukuran desa itu paling bagus. Kaca nako
tembok bercat biru. Rumah ini bukan didapatnya dari hadiah PJKA,
tapi dari hasil sawahnya (dia memiliki 1.5 bau tanah sawah dan
kebun) dan karena menabung sedikit demi sedikit. "Tapi saya
belum bisa beli perabotan", ujarnya, karena di ruang tamunya
cuma ada sebuah kursi usang. Di dinding terpampang gambar Oma
Irama dan Elvi Sukaesih.

Warungnya masih ada. Cuma sekarang warung tidak lagi menghadap
ke sungai, melainkan ke jalan besar. Isterinya yang mengurus
warung tersebut dan hasil rata-rata sehari dari warung berkisar
500-1000 rupiah. Anaknya 11 orang, tapi yang hidup cuma 8. Cucu
ada 14 orang. Dasori juga mempergunakan kesempatan surat
penghargaannya untuk memasukkan anaknya yang tamat SD jadi
pegawai PJKA.

Sama seperti Chaerudin, dia juga dapat hadiah kerbau dari
Presiden. Tapi sudah dijualnya dengan harga Rp 26.000. "Wong
maesane taksih gudel tur mboten purun mangan. Dados tek dol"
("Sebab binatang itu masih kecil dan tidak mau makan. Jadi saya
jual") ujar Dasori, yang memang tidak bisa berbahasa Indonesia.
Dasori sendiri sebetulnya adalah seorang penjual kambing.

Ketika Pak Harto ke Kebasen, desa di dekat desanya, Dasori juga
turut ke sana. Ia, gembira sekali bisa duduk berdekatan dengan
Soeharto. "Mung kulo sing caketan kalih Pak Harto Mestine Pak
Harto ngertos nek kulo sing nomer setunggal nglapor. Lha Pak
Harto tuli sekti" ("Cuma saya yang berdekatan dengan Pak Harto.
Seharusnya Pak Harto mengerti kalau sayalah yang pertama kali
melapor. Lha Pak Harto kan sakti").

Di Kebasen itulah, Pak Harto memberinya hadiah karakan, kalung
kerbau dengan bel. "mBok wektu niku kulo deg-degan sanget. Kulo
kinten niku emas, ee, bareng ek deleng, jebule kuningan
prunggu" ("Waktu itu saya berdebar-debar sekali. Saya kira itu
emas, ee ternyata kuningan").

Mulai saat dia diberi hadiah karakan itulah, banyak
tetangga-tetangganya yang menyesalkan kelakuannya. Orang
menganggapnya bodoh karena ketika dekat dengan Presiden dia
tidak minta rumah gedung, tapi cuma mendapat kalung sapi dari
kuningan. Dan Dasori hanya menjawab menimpali: "Lha wong diwehi
kok meksa. Tuli isin. Apa pawewehe bae lah" ("Diberi kok maksa
lagi. Kan malu. Apa pemberiannya sajalah").


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
26/XXXVII/18 - 24 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Zuma untuk Gwen Stefani - 22 Ags 2008 | 10:55 WIB
Sepatu Kasual nan Gaya - 22 Ags 2008 | 10:55 WIB
Presiden : Banyak Unjuk Rasa di Daerah Salah Alamat - 22 Ags 2008 | 10:53 WIB
Pemerintah Dinilai Gagal Mengerem Pemekaran Daerah - 22 Ags 2008 | 10:44 WIB
Batal Tes DNA di Indonesia, WNI Korban Spanair ke Spanyol - 22 Ags 2008 | 10:43 WIB
DPD: Masyarakat Jenuh dengan Pilkada - 22 Ags 2008 | 10:37 WIB
Koalisi Akan Bahas Krisis Pakistan - 22 Ags 2008 | 10:29 WIB
Pagi Ini, Rusia Angkat Kaki dari Georgia - 22 Ags 2008 | 10:09 WIB
Saham di Bursaa Jepang Sesi Pagi Turun 0,67 Persen - 22 Ags 2008 | 10:04 WIB
Bush Tuntut Rusia Segera Keluar dari Georgia - 22 Ags 2008 | 10:03 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data