Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 41/IIIIII/11 - 17 Desember 1976
   
Fokus Kita

Bahasa komunikasi

MUNGKIN kita memang perlu mempelajari gramatikanya kebisuan.
Mungkin sesuatu tengah terjadi bila kata-kata berhenti darl
keadaan berdiam diri tiba-tiba menengahi suatu dialog. Pada saat
itu kita mungkin lengah atau tak peduli untuk menangkap
maknanya. Atau kita cukup peka.

Komunikasi memang tidak selamanya terjadi hanya karena dua mulut
menerocos bersahut-sahutan. Ada sesuatu yang disebut oleh Ivan
Illich sebagai "the eloquency of silence". Yakni, kefasihan dari
diam. "Kata-kata dan kalimat terdiri atas diam yang lebih
bermakna daripada bunyi", tulisnya dalam Celebration of
Awareness.

Tak banyak pemikir yang bisa melukiskan pengertian seperti itu
dengan jelas, lebin jelas daripada Illich Baginya, bahasa adalah
ibarat seutas tali kebisuan, bunyi hanya menjadi
simpul-simpulnya. Bahasa adalah ibarat sebuah roda: yang menjadi
pusat adalah kata-kata yang terucapkan - tapi yang membentuk
roda adalah justru ruang-ruang kosong di antara itu.
"Pause-pause yang penuh arti, antara hunyi dan ucapan", kata
Illich pula, "menjadi titik-titik bercahaya dalam sebuah ruang
hampa yang menakjubkan: bagaikan elektron dalam atom, seperti
planet-planet dalam sistem tata surya".

Sayangnya, tak selamanya kita berhasil mengangguk kepada diam.
Bahkan kita mencoba menggantikan bahasa dengan cara-cara yang
lebih riuh - misalnya kegemaran kita pada pengeras suara. Kita
bukan saja telah tidak acuh kepada diam dan kebisuan, kita
bahkan telah tidak begitu yakin bahwa kata-kata bisa bergerak
sendiri dengan lirih. Seringkali kita mengagumi Trio Bimbo yang
membikin lagu atas sajak-sajak religius Tauflq Ismail. Tapi
seringkali pula menyelinap dalam perasaan kita suatu rasa kurang
enak, kata-kata puisi yang sebenarnya bisa berbisik sendiri itu
telah berubah, dalam lagu yang disiarkan itu, menjadi kata-kata
sebuah khotbah. Sang puisi tak lagi merupakan catatan kekaguman
pada Tuhan, keindahan dan lain-lain yang sifatnya "pribadi" -
melainkan jadi terdengar seperti suara pengajar khalayak ramai.

Sebenarnya, bila kata-kata adalah bagian dari keberdiam-dirian,
yang terdengar bukanlah "ajaran" atau "kuliah". Sebagai bagian
dari kebisuan? kata-kata merupakan bagian dari proses batin.
Dengan demikian mereka merupakan bagian dari seluruh sejaran
kepribadian kita. Kata-kata itu tak cuma menempel di bibir kita,
dan karenanya tak kita harapkan akan bisa begitu saja menempel
pada diri orang lain. Sebab mereka adalah bagian integral dari
laku.

Manusia memang bukan kaset.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data