Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 37/IIIIII/13 - 19 November 1976
   
Pendidikan

Si Nelayan Dan Minat Baca

11 kecamatan di kabupaten sukabumi dijadikan proyek perpustakaan taraf desa. biaya dari p & k rp 22 juta. minat baca petani dan nelayan rendah sekali. kehabisan waktu untuk mencari nafkah. (pdk)

LETIH dan setengah mengantuk, Ajat, nelayan di Pelabuhan Ratu,
Sukabumi, pagi 4 Nopember kemarin, baru tiba di pantai.
Membenahi jaring sambil menghitung hasil penjualan ikannya,
nelayan setengah baya itu mengaku tak pernah pinjam buku di
perpustakaan desa. "Teu aya waktosna" (tidak ada waktunya),
ucapnya dalam bahasa Sunda. Ajat bukan tidak tahu, sebagaimana
sekolah, perpustakaan lewat buku-bukunya bisa menambah
pengetahuan. Namun dia merasakan waktu untuk membaca buku hampir
tak pernah ada, tersita oleh waktu untuk cari makan. Tentang
sekolah? Ayah yang salah seorang anaknya duduk di kelas I SD
itu, kecewa. Bukan hanya mesti bayar Rp 150 per bulannya tapi
keharusan anaknya untuk membawa beras per kotak korek-api
seharinya ke sekolah -- di daerah ini pemberian itu disebut,
perelek -- membuat si ayah yang bermuka suram itu semakin
kelihatan tua. "Lihat SD itu", katanya dengan suara pelan "itu
kan bantuan Presiden, kenapa kita mesti bayar". Ajat yang jalan
pikirannya polos itu memang tidak tahu, kalau bantuan itu hanya
berupa gedung, tidak berarti sekolah gratis. Sehingga ketika
dibilang tahun depan SPP kelas I sampai III akan dihapus, Ajat
tidak percaya. "Ah, wadul hungkul" (Ah, bohong doang), katanya
pendek.

Tentu saja, Ajat hanya salah seorang dari sekian penduduk
Kabupaten Sukabumi yang dua kecamatannya dijadikan Proyek
Perpustakaan Taraf Desa sejak Pebruari tahun ini. Percobaan yang
ditangani Pusat Pembinaan Perpustakaan P&K dengan biaya
seluruhnya Rp 22 juta itu meliputi ll desa di Kecamatan Cibadak
dan Kecamatan Pelabuhan Ratu. Dalam umurnya yang baru 8 bulan
ini, proyek yang bertujuan agar (terutama) orang-orang dewasa di
desa-desa dapat memelihara, meningkatkan dan mengembangkan
pengetahuan dan ketrampilannya itu -- selanjutnya diharapkan
bisa meningkatkan taraf hidupnya -- agaknya masih butuh waktu
yang panjang. Dari rata-rata jumlah penduduk 9 sampai 10 ribu
per desanya, masing-masing baru terdaftar sebagai anggota
perpustakaan sebanyak 300 sampai 800 orang. Itu pun ternyata
rata-rata 75% anggotanya adalah pelajar. Sisanya, terdiri dari
guru, pegawai negeri dan yang paling sedikit datang dari
kelompok petani atau nelayan. Kelompok seperti Ajat itulah, yang
bukan tidak mungkin justru merupakan kelompok terbanyak di
masyarakat pedesaan.

Pengantar Filsafat

Dibangun dengan semacarn sistim dana imbalan (buku dan mebeler
dari Proyek, tempat dan personil dari Pemda Sukabumi),
perpustakaan desa itu rata-rata menyimpan buku sebanyak 1500
buah. Dengan pembagian 60% buku fiksi, 40% buku-buku non-fiksi
(meliputi bidang-bidang umum, seperti agama, pengetahuan sosial,
pengetahuan teknologi) perpustakaan yang juga menyediakan harian
dan majalah itu, tidak memungut bayaran kepada anggota maupun
peminjam. "Pada prinsipnya memang tak boleh dipungut bayaran,
karena di mana pun tak ada pengetahuan yang dipajaki", ucap A.S.
Nasution, Kepala Pusat Pembinaan Perpustakaan P & K.

Meskipun begitu, dengan jumlah peminat yang masih sedikit itu,
perpustakaan desa nampaknya masih perlu penelitian. Misalnya
selain minat baca juga jenis buku yang disesuaikan dengan selera
pembaca. Beberapa buku, seperti Pengantar Filsafat Hukum karya
Roscoe Pound, Ilmu Tanah karya Dr. Ir. Tan Kim Hong, ternyata
belum pernah disentuh pembaca. "Terlalu tinggi", ujar seorang
petugas perpustakaan. Sementara buku-buku non-fiksi yang banyak
dipinjam terutama yang mengenai agama misalnya karya Hamka, dan
bukubuku fiksi terutama karangan Karl May.

Dengan jumlan buku yang dipinjam per harinya rata-rata 20 sampai
50 buah, perpustakaan yang dibuka rata-rata mulai jam 8 pagi
sampai jam 4 sore setiap hari kerja (bahkan ada yang buka pada
hari Minggu), untuk taraf desa memang sudah lumayan. Meskipun
10% dari buku-buku itu hilang. Tapi, "kehilangan sebesar itu di
dunua perpustakaan biasanya dianggap wajar", ucap Suratman,
Kepala Proyek Perpustakaan di Sukabumi itu. Sementara
perpustakaan keliling (menggunakan pick up Datsun) yang termasuk
eksperimen yang tengah dijalankan di daerah itu, dengan jumlah
buku yang dibawa sebanyak lebih 2600 buah, rata-rata per posnya
dipinjam pembaca sampai 500 buku. "Kita memang sedang
menyelidiki selera pembaca", ucap Nasution lagi.

Bisa berhasilkah proyek perpustakaan ini? Pada tahun 1950-an
pemerintah pernah melakukanhal yang sama dengan membuat
perpustakaan umum di sekitar 15 ribu desa."Perpustakaan itu
sekarang, sulit dicari bekasnya", ucap Nasution. Dulu, proyek
itu segalanya termasuk gedung dan personil dibiayai pemerintah.
"Ternyata segala sesuatu yang disediakan oleh Pusat, gagal",
tambah Kepala Pusat Pembinaan Perpustakaan itu. Itulah sebabnya
proyek yang sekarang, meskipun imbalan yang diberikan Pemda
belum memadai (misalnya tempat perpustakaan yang selain masih
nebeng di kantor Kepala Desa, dengan ruangan rata-rata hanya 4x4
meter dan personil yang digaji Pemda masih dianggap kecil),
diharapkan tidak akan bernasib sama dengan perpustakaan yang
sudah-sudah. Karena perpustakaan desa yang kini sedang dalam
taraf percobaan itu, pada akhirnya pihak Pemdalah yang
mengelolanya, bukan pemerintah pusat.

Cara yang kini sedang ditempuh, memang belum tentu berhasil.
Soalnya masih menyangkut hal paling dasar yang nampaknya masih
menjadi masalah: minat baca. Karena bagaimana bisa diharapkan
buku akan menjadi alat untuk menambah pengetahuan bila minat
baca itu sendiri belum tumbuh? Belum banyaknya jumlah anggota
perpustakaan, rasanya karena bersumber dari minat baca yang
belum ada-terutama dari petani atau nelayan, kelompok masyaraka
tterbanyak yang sebenarnya jadi sasaran proyek perpustakaan
tersebut. Tapi mengambil langkah untuk mencoba menumbuhkan minat
baca, berarti bagaimana membuat buku yang menarik, baik isi
maupun bentuknya. Justru buku-buku serupa itulah yang boleh
dibilang tak ada di pasaran. Bahkan dengan buku yang ada
sekarang, proyek perpustakaan hanya berhasil membeli 50%, dari
target yang direncanakan. Karena persediaan tidak ada. Akhirnya
proyek perpustakaan yang mestinya bertujuan
baik itu, mesti berjalan pada tempat yang tidak licin. "Namun
baik mina baca maupun niat untuk menambah pengetahuan
masyarakat, diharapkan bisa dituju oleh proyek perpustakaan
ini",ujar Nasution. Tentang hasilnya, hata Nasution lagi, memang
tidak dapat dilihat segera. "Ini pekerjaan prosais", katanya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data