Moningka Bercerita Pesawat bouraq fokker 27 jatuh di dekat lapangan udara
banjarmasin awal nopember. 29 orang meninggal 8 orang luka
berat akibat gangguan kabut pada waktu akan mendarat. dua
orang luka ringan. (nas) |
SEHARI sebelum Presiden Suharto tiba di Banjarmasin, pesawat
Bouraq fokker 27 dengan nomer penerbangan 262 dari Balikpapan
jurusan Banjarmasin dan Semarang, jatuh dan hancur ketika hendak
melakukan pendaratan di Lanud Syamsudin Noor Banjarmasin. Ekor
pesawat dan bagian depan tertumpuk menjadi satu kurang lebih 200
M dari bibir landas an atau sekitar 25 M dari jalan raya A.Yani.
Kecelakaan yang terjadi pada jam 12.35 wit. Kamis pekan silam
itu, mengakibatkan 28 orang mati seketika termasuk Siharta
(pilot) dan Yunita (pramugari), 8 orang luka berat dan 2 orang
luka ringan. Sementara itu, Iskandar (co. pilot), Ris Handi
(engenering), dan Betty (pramugari) dan penumpang-penumpang lain
yang cidera hingga laporan ini dikirim dari Banjarmasin, masih
dalam keadaan kritis. Co-pilot Iskandar kemudian meninggal dunia
di R.S.
Sementara mencari keterangan resmi apa sebab musabab pesawat
Bouraq FKKFR dengan nomer stater type C 5104 itu jatuh, Sjachran
R dari TEMPO menemui Z.S. Moningka (44 tahun) satu-satunya
penumpang yang selamat dalam keadaan segar bugar (ia bisa keluar
sendiri dari reruntuhan pesawat) di samping Drs. Muali yang luka
ringan. Berikut ini adalah kisah Moningka:
Yunita (pramugari yang almarhum) baru saja mengucapkan selamat
berpisah untuk para penumpang yang akan turun di Banjarmasin,
keadaan cuaca masih cerah seperti halnya ketika berangkat dari
Balikpapan. Stasion dan menara tower sudah nampak, namun ketika
roda pesawat dikeluarkan dan nyaris menjamah landasan, tiba-tiba
kabut tebal menutupi kaca pesawat. Semua yang dilihat barusan
tak nampak lagi. "Saya merasakan pesawat membelok ke kiri dengan
posisi take off. Dan berhasil naik ke udara" tutur Moningka.
Sejenak kemudian kabut menipis dan landasan nampak kembali.
Percobaan mendarat yang kedua kalinya dilakukan lagi. Tapi
ketika roda pesawat hampir menjilat landasan, kabut kembali
tebal dan hujan turun sangat lebat sekali. "Semua gelap, semua
tak nampak. Pesawat terasa membelok ke kiri lagi dan naik
kemudian dengan kecepatan yang tinggi menukik ke bawah. Hanya
sampai di situ, saya tak tahu lagi apa yang terjadi, karena
semuanya terjadi begitu cepat", ujar Moningka kepada TEMPO.
Moningka melanjutkan kisahnya di RSU Ulin Banjarmasin. "Ketika
mata saya buka, saya sudah berada di antara reruntuhan pesawat.
Seakan bermimpi dan saya berdiri menuju jalan raya. Saat itulah
saya sadar, bahwa pesawat yang saya tumpangi hancur berantakan.
Hujan masih lebat. Di jalan raya sebuah mobil kecil singgah dan
bermaksud menolong saya. Saya ikut mobil itu ke Banjarmasin",
katanya. Moningka tidak langsung diantar ke Rumah Sakit,
melainkan terus ke Unlam. "Saya takut telat kuliah dan keadaan
bapak kan baik-baik saja. Biar saya dulu yang diantar untuk
kuliah nanti sopir saya yang mengantar bapak ke rumah sakit",
kutip Moningka yang ternyata dalam mobil itu ada seorang gadis
yang hendak kuliah setelah mengantarkan ibunya pergi Arisan di
Banjarbaru. "Anak pejabat barangkali yang menolong saya itu",
lanjut Moningka yang pada bagian tangannya terdapat lecet-lecet.
Adakah bapak punya firasat yang tidak enak misalnya, ketika naik
pesawat itu dari Balikpapan? "Wah, sebenarnya saya tidak percaya
yang tahyul-tahyul. Hati saya lapang saja, tapi kedua anak saya
menangis seakan tidak mau berpisah ketika hendak berangkat",
ujarnya terus menambahkan bahwa ia lari PT Asa Balikpapan yang
bermaksud membuka cabang usaha di Banjarmasin. Selain bermaksud
untuk menjajaki kemungkinan dibukanya cabang, juga bermaksud
menyampaikan salam dari teman-teman di Balikpapan untuk
teman-teman di Banjarmasin. Moningka yang baru 2 (dua) tahun
tinggal di Balikpapan, berasal dari Manado. "Barangkali karena
amanah harus menyampaikan salam itulah saya selamat", ujarnya.
Moningka sendiri mengaku baru ingat pada Tuhan setelah sadar
lepas dari jangkauan maut.
|