Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/IIIIII/02 - 8 Oktober 1976
   
Kota

Hari-Hari Yang Merah

Kebakaran beruntun di samarinda, gedung nasional & 24 rumah di jalan samosir. penyebabnya tidak jelas. di jalan diponegoro 34 rumah habis akibat kompor yang meledak. (kt)

TEORI domino tampaknya lebih cocok ditrapkan di Samarinda. Tentu
saja bunyinya perlu dirubah. Bukan lagi ada kaitannya dengan
komunis, tapi dalam hubungannya dengan soal kebakaran. Kalau
satu daerah dalam kota jatuh ke tangan api seakan-akan memberi
isyarat bahwa daerah lainnyapun akan ditimpa kebakaran pula.

Setidak-tidaknya begitulah yang terjadi akhir Agustus lalu.
Belum lagi pembicaraan mengenai terbakarnya gedung Nasional
dimulai, 29 Agustus lewat tengah hari 24 rumah di jalan Samosir
diamuk api. Hanya dalam waktu 1 jam bangsal yang di zaman Jepang
dipakai "Sekolah Arab" itu ludes. Ini rada mengherankan. Sebab
kawasan itu berada tidak lebih 150 meter dari markas pemadam
kebakaran. Tampaknya tiupan angin yang cukup kencang mempercepat
jatuhnya "kartu-kartu domino" yang terbuat dari kayu itu.

Sedang asyik-asyiknya orang mengerumuni malapetaka ini,
tiba-tiba orang dikejutkan dengan kebakaran di tempat lain yang
berjarak 0,5 Km dari kawasan itu. Untunglah korbannya hanya satu
rumah yang beratap daun rumbia. Penyebabnya ternyata percikan
api dari daerah kebakaran di jalan Samosir yang dibawa angin
hinggap di atap rumah yang malang itu. Akan hal kebakaran di
jalan Samosir, penyebabnya tidak jelas. Ada dua dugaan yang sama
kuat: kompor meledak atau aliran listrik yang salah urus.

Sementara polisi masih belum menemukan jawaban dari teka-teki
itu, keesokan harinya pada jam yang sama terjadi kebakaran lagi.
Kali ini menimpa bangunan-bangunan kayu di jalan Diponegoro. Ada
34 buah rumah yang rata dengan tanah. Kesulitan sumber air
tampaknya menyukarkan barisan pemadam kebakaran. Hampir saja
bioskop Garuda porak poranda. Berbeda dengan di jalan Samosir,
penyebab kebakaran di jalan Diponegoro ini segera diketahui.
Yakni gara-gara kompor meledak seperti yang dinyanyikan Benyamin
S itu. Rupanya setelah menyalakan kompor Ny. S. tertidur.
Maklumlah siang itu hari pertama puasa hingga menyebabkan banyak
mata terlena.

Akibat kebakaran beruntun ini, keesokan harinya orang
menunggu-nunggu dengan cemas daerah mana lagi yang terbakar.
Kira-kira lepas tengah hari sudah beredar kabar jalan
Cenderawasih kebakaran. Untunglah, kabar itu ternyata hanya isyu
yang mungkin bermula dari seloroh.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data