Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/IIIIII/24 - 30 Juli 1976
   
Kota

Setelah Ada LNG

Lhokseumawe menjadi ramai setelah ada lng. pencari kerja, kalangan usaha berdatangan ke kota itu. bupati kemudian membenahi kotanya dengan tidak berdasarkan perencanaan kota yang baik.

BEGITU gas alam yang kemudian dikenal sebagai LNG ( Liquid
Natural Gas) muncrat di Arun, Kabupaten Aceh Utara, Lhok
Seumawe mendadak jadi perhatian orapg. Apalagi setelah
perusahaan asing bernama Bechtel menggarap proyeknya di tahun
1974. Padahal sebelumnya, bahkan pada waktu perusahaan Mobil Oil
di tahun 1970-an sibuk mengendusi kawasan kabupaten Aceh Utara
ada atau tidak minyak -- atau gas di sana, ibukota kabupaten
tersebut bagaikan tak dikenal dalam peta Indonesia.

Sekarang ini dari berbagai penjuru Aceh, pencari kerja
berdatangan ke sana. Sudah tentu, juga para kalangan bidang
usaha dalam negeri dan lebih-lebih dari mancanegara. Kini lebih
20 kontraktor membuka kantor cabangnya di Lhok Seumawe. Dan
karena memang tak pernah bersiap-siap buat menampung para
pendatang itu, maka hotel yang ada kena serbu. Hingga pernah ada
yang tak kebagian kamar.

Tenfu saja Bupati Aceh Utara Abdullah Yacob jadi berbinar-binar
matanya. Kegirangan. Maka repotlah ia membenahi kotanya.
Bangunan-bangunan yang semula terbuat dari papan dan kayu
kropos, dirombak jadi bangunan beton dan bertingkat pula. Sebuah
terminal bis dibangunnya pula. Kenapa terminal bis lebih dulu?
"Pokoknya. asal buat saja", ujar seorang pegawai Kantor Bupati.
Bisa dimaklumi, bila itu terminal hasilnya asal jadi. Terutama
WC-nya. Selain terletak di luar kompleks terminal, juga terbuat
dari papan bekas bangunan. Padahal biaya yang dilahap itu
terminal tak kurang dari Rp 15.337.000. Wallahu'alam-lah.

Yang jelas Gubernur Dl Aceh, A. Muzakkir Walad dalam
instruksinya memperingatkan sang Bupati "agar pembangunan kota
Lhok Seumawe jangan bergantung pada selera pejabat". Berarti,
pembangunan Lhok Seumawe sekarang, seperti diakui pejabat kantor
Bupati tadi, "tak berdasarkan rencana yang matang". Padahal
kota tersebut, seperti juga Langsa di Aceh Timur dan Meulaboh di
Aceh Barat/Selatan, (TEMPO,10 Juli 1976) dipersiapkan Muzakkir
Walad sebagai pusat pengembangan regional, kawasan Aceh Utara.
Siapkah Lhok Seumawe? Tampaknya belum. Sementara yang dengan
gesit memanfaatkan perkembangan Lhok Seumawe ialah warung
remang-remang gaya Medan, lengkap dengan hostes yang konon
didatangkan dari Medan pula. Seperti restoran terapung di Jalan
Pase yang digunjingkan hostesnya bertugas rangkap. Warung
remang-remang yang memang hostesnya kesohor demikian, ramai oleh
pengunjung.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data