Pokoknya Komisi Seniman bali merasa diperas oleh art shops yang menaruh harga karya mereka. koperasi tempat penampungan pengrajin jarang dikunjungi turis, karena kalah promosi oleh art shops. (eb) |
BERKEMBANGNYA pariwisata di Bali terang melibatkan seniman
pengrajin. Entah ia pemahat, pematung, pelukis, dan usaha
kerajinan lainnya. Ini diimbangi dengan menjamurnya pelbagai
toko kesenian seperti art shop, art gallery, kios lukisan, kios
patung dan sebagainya. Sebagai pemilik modal, toko-toko inilah
penampung karya para seniman Bali itu, kemudian menjajakannya
pada para turis.
Bungalow
Para seniman yang umumnya butuh duit cepat merasa dicekek oleh
juragan toko yang membeli hasil karyanya dengan harga serendah
mungkin. Kebebasan berkreasi bagi seniman pengrajin pun makin
menyempit. Pemilik toko lebih suka musim-musiman. Kalau patung.
Garuda lagi laku, itu saja dibuat berbulan-bulan lamanya. Bahkan
bertahun-tahun (tapi turis yang umumnya tidak berulang kali ke
Bali toh tidak tahu membedakan yang baik & yang buruk). Hingga
lahirlah penurunan drastis mutu barang kerajinan Bali yang mulai
ramai sejak 1970.
Untunglah bapak pengasuh para pengrajin, Dirjen Perindustrian
Ringan & Kerjinan Rakyat tidak bersikap apa boleh buat. Melalui
Proyek Pusat Pengembangan Kerajinan Rakyat didirikanlah sebuah
bangunan di Tohpati -- jalur wisata paling ramai antara
Denpasar-Gianyar -- di atas tanah seluas 4 ribu m2 dengan biaya
Rp 50,5 juta. Bangunan itu dimaksudkan sebagai tempat penjualan
karya para pengrajin yang tidak mau diperas oleh art shops yang
semena-mena menaruh harga. Maka berbondong-bondonglah para
pelukis dan pemahat menitipkan karya mereka di bangunan
berbentuk bungalow itu. Harganya mereka tentukan sendiri. Staf
manajemen proyek terdiri dari orang-orang swasta yang diangkat
oleh pimpinan proyek, I Gusti Alit Raka. Manajernya seorang
wanita, Nyonya Putu Ramba Dewi.
Startnya cukup baik. Seperti diterangkan I Gusti Alit Raka yang
juga orang Kantor Wilayah Perindustrian. "manajemen
bertanggungjawab kepada Proyek dan tidak boleh memasukkan
barang-barang kerajinan. Hanya seniman berhak menitipkan
karyanya". Tapi sejak April 1975, tiba-tiba proyek Ditjen
Perinkra itu dialihkan menjadi koperasi. Nama barunya --
Koperasi Kerajinan Sanggraha Kriya Asta. Risikonya: biaya
operasionil dari pemerintah tidak ada lagi karena koperasi harus
dapat berdiri sendiri. Alit Raka yang pegawai Perindustrian itu
otomatis menjadi ketua koperasi yang beranggotakan
seniman-seniman swasta. Bagaimana prosedur perubahan status itu,
dan apa latar belakangnya, masih kabur.
Keuntungan Tipis
Dalam rapat tahunan anggota yang dihadiri 61 orang seniman
pertengahan bulan lalu, Alit Raka melaporkan bahwa keuntungan
bersih koperasi dari April s/d Desember 1975 hanya Rp 1 juta
lebih sedikit. Padahal omset penjualan Rp 43 juta dengan
keuntungan kotor Rp 10,9 juta. Tapi karena biaya operasionil
cukup besar -- Rp 9,8 juta -- keuntungan jadi tipis sekali.
Menurut Alit Raka, kecilnya keuntungan itu pertama-tama karena
75% nilai jual barang diterima oleh seniman pendukungnya yang
sudah berjumlah 180 orang sampai Maret lalu. "Ini sesuai dengan
ide semula proyek didirikan", ujar Alit Raka menyelingi
laporannya. Sebab kedua saling berkaitan. Omset penjualan yang
Rp 43 juta itu merosot dibandingkan dengan omset proyek sebelum
menjadi koperasi yang mencapai Rp 60,8 juta (74/75) dengan
untung bersih Rp 2 juta lebih.
Mengapa omset merosot ? "Kita kalah promosi dan sepi-sepi saja",
kata orang perindustrian itu. Sambil menoleh kepada Kepala
Diparda Bali Merta Pastime, dia menjelaskan bahwa koperasi yang
dipimpinnya hanya mampu memberikan komisi sebesar 5-7% kepada
guide (pandu wisata). Komisi ini sangat kecil dan tak ada
artinya dibandingkan dengan komisi 30 - 40 % yang diberikan oleh
toko kerajinan. Diantar ke rumah lagi plus kiriman lain seperti
baju. Promosi proyek itu sebenarnya telah dibantu oleh
brosur-brosur yang diterbitkan oleh Departemen Perindustrian.
Namun turis berbelanja bukan lantaran tertarik oleh promosi,
tapi karena rayuan pandu wisatanya. Sedang si pandu tak peduli
mutu & harga barang, asal komisi besar.
"Harga barang di koperasi ini setengah dari harga art shop. Art
shop menjual patung Garuda misalnya setinggi Rp 200 ribu, sedang
kami hanya Rp 50 ribu dengan mutu lebih baik", ujar ketua
koperasi yang bukan seniman atau saudagar itu. Celakanya lagi
tamu-tamu resmi pemerintah jarang mampir ke Sanggraha Kriya
Asta. Tamu-tamu asing itu lebih banyak menuju toko kerajinan
terkenal di Gianyar.
|