Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/V/28 Februari - 05 Maret 1976
   
Fokus Kita

Nasib pengamen amerika

Karena faktor ekonomi, banyak musisi amerika terjun ke jalanan. harga diri jadi kempes. di as persaingan untuk bisa menonjol tak semudah di indonesia. (fk)

SEKALI-SEKALI, boleh juga mendengar cerita dari New York. Bila
orang berjalan sepanjang Fifth Avenue sejak sekitar dua tahunan
ini, akan terdengar musik berganti-ganti, bagaikan dari sejumlah
toko radio. New York kini menumbuhkan para pengamen. Obo,
klarinet, akordeon, harmonika listrik. bahkan juga harpa dan....
piano -- dengan serius atau tak serius dimainkan di bawah udara
musim panas atau semi. Ada band Appalachian, duet klasik,
kwartet jazz, kwintet Baroque. Ada musik New England, Amerika
Latin, suara tradisionil Irlandia, Afrika, Italia. Puerto Rico
dan entah apa lagi. Yang belum ada barangkali cuma permainan
kecapi untuk mengiringi Kembang Breum atau Dandanggula Turu
Lare, gitar di sela-sela seruan A Sing Sing So atau gendang buat
lagu Bergadang

Keadaan perekonomian Amerika yang lagi prihatin tercermin di
situ. Para musisi bokek. Tapi mereka berharap ada para pejalan
kaki yang punya sisa uang receh yang lebih. Mereka berharap hati
para orang lewat lagi dermawan, dan cuaca cukup kooperatif.
Hasilnya memang tak selalu begitu. Kebanyakan pengamen
mendapatkan $ 100 setiap minggu -- suatu jumlah yang rada
pas-pasan buat harga gaya New York di masa krisis ini.

Faktor lain, selain keadaan perekonomian mengembangkan gejala
ini. Orang mulai bertambah penghargaannya kepada kebudayaan
rakyat, kebudayaan orang biasa yang bertautan dengan hidup
sehari-hari -- berkat gerakan hippie di masa lalu. Dan jalanan
dianggap jadi salah satu pusat kebudayaan itu. Dan para musisi
tak canggung lagi terjun ke sana. Seorang pemain biola berumur
26 tahun, James Graseck, yang menggesek biola selama 15 tahun
mengumpulkan hasil ngamennya sejak tahun lalu buat membiayai
konsernya di Carnegie Hall, Pebruari barusan.

Namun tak semua musisi ikhlas memilik pertunjukan di jalanan
itu. Jalanan, seperti kata seorang pemain gitar, adalah pentas
paling bengis di dunia. Dan keluh yang lain: "Di sini harga diri
saya kempes betul-betul". Tapi apa daya? Di AS, persaingan untuk
bisa menonjol tak semudah di Indonesia. Kini persaingan itu
makin menyempit arenanya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data