Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 49/V/07 - 13 Februari 1976
   
Kriminalitas

Berputar Dan Tak Berputar

Arena judi muncul di manado yang mengakibatkan ke ributan. izin, hanya sebagai arena ketangkasan, bedanya, pada judi, panah dilemparkan pada nomor-nomor yang bergerak/berputar. (krim)

MUNCULNYA arena judi di Manado sejak Nopember lalu (TEMPO 27
Desember), ternyata bikin ribut. Menjelang Natal, ada orang
ngamuk di harian Pahlawan Manado. Itu gara-gara tulisan mengenai
keretakan antar anggota sebuah organisasi pemuda, akibat
pembagian rejeki yang -- biasalah -- tidak merata. Berita itu
tidak cuma disiarkan di Manado saja, tetapi juga di Jakarta.
Anehnya, yang marah bukan anggota-anggota organisasi itu tetapi
justru Haji AK. Konon ia tersinggung lantaran ada kalimat yang
menyebut-nyebut soal agama, seolah-olah arena judi itu tidak
menghormati umat beragama yang sedang menghadapi Idulfitri dan
Natal.

Untuk "membereskan" pemberitaan itu, AK mengutus dua pembantunya
mencari pimpinan harian Pahlawan. Sial bagi Bakhtiar Koja,
karena ia angsung diseret untuk menemui Haji AK sebagai
pengganti pimpinan harian itu yang sedang tidak ada di tempat.
Setibanya di arena judi, yang kebetulan bertetangga dengan
kantor harian itu, Bakhtiar dipukul ramai-ramai oleh anak buah
AK. Sang haji sendiri tidak memukul. Cuma membentak-bentak
dengan mengacungkan senjata api.

Nampaknya AK ingin damai saja dalam perkara pemukulan ini.
Tetapi pihak harian Pahlawan punya sikap lain. Supaya
diselesaikan secara hukum dan laporan sudah disampaikan kepada
PWI Manado. Polisi juga sudah menerima laporan. Seorang pejabat
Kepolisian Manado berkata kepada TEMPO -- "cuma saja orang yang
kena pukul rupanya ingin diselesaikan secara damai". Sebaliknya
pimpinan koran itu secara resmi tidak meminta bantuan kepada
polisi, tetapi lewat PWI saja.

Arena judi ini dekat sekali letaknya dengan Kantor Sosial
Kotamadya Manado. Tetapi kantor ini "tidak tahu menahu dari mana
didapatnya izin penyelenggaraan rumah judi tersebut". Namun,
pihak Kepolisian mengatakan: "ada izin dari pihak keplisian
sebagai arena ketangkasan". Apa beda ketangkasan dan perjudian?
Pejabat polisi memberi contoh: panah yang berekor bulu ayam,
bila dilemparkan kepada nomor-nomor dalam lingkaran yang tidak
berputar, berarti ketangkasan. Namun bila lingkaran berisi nomor
itu berputar, nah itu dia yang namanya judi. Alasannya gampang.
Dengan lingkaran berputar berarti unsur untung-untungannya
terlalu besar. Persis rolet. Sedang, kata polisi, "yang ada di
Manado sepanjang izin yang diberikan, adalah tidak bergerak".

Polisi belum tahu berapa jauh pengaruh judi, yang berkedok
ketangkasan, terhadap masyarakat. "Sebab belum ada data yang
mengarah ke sana". Alasan lain pun ada. Yang sering datang ke
arena ketangkasan inl terbatas orang yang mampu saja. Namun
polisi juga sudah siap bila ada pengaruh buruk. "Kalau tokh
menimbulkan ketidaktertiban di masyarakat, tidak sulit untuk
menutupnya", begitu perwira polisi Manado. Cukup jelas.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data