Utusan Maut Lucy szekely, wartawan The New York Times, melaporkan ciri-ciri teroris yang memasuki gedung OPEC. Diantaranya membawa tas olah raga. Ketika terdengar tembakan, para reporter lari, lapor polisi. (ln) |
Wartawan New York Times, Lucy Szekely, adalah
seorang yang bertugas melaporkan sidang OPEC di Wina ketika
pembajakan itu terjadi. Berikut ini adalah laporan pandangan
mata Szekely yang tersiar di surat kabarnya 22 Desember lalu.
SAYA adalah orang pertama yang diajak bicara oleh teroris itu
kemarin ketika mereka memasuki kantor OPEC untuk akhirnya
mengubah sidang para menteri itu menjadi sesuatu juga
tembak-menembak dan kematian yang amat mengerikan. Saat itu
menjelang waktu makan, dan para menteri yang bersidang di
tingkat dua sedang bersiap-siap mengakhiri perembukan mereka.
Bersama saya ada sebanyak 12 reporter dari sejumlah wartawan
yang menanti sejak pembukaan sidang hari Sabtu. Saat itulah
masuknya para teroris yang terdiri dari 5 lelaki dan seorang
wanita.
Aksen Berat
Tak seorang pun memperhatikan mereka. Berpakaian musim dingin
yang tebal. mereka rata-rata bertubuh pendek. Seorang berambut
pendek berwarna kemerah-merahan. Tapi semua mereka tidak tampak
muda lagi. Mereka berjalan ke arah kami secara tergesa-gesa
dengan gaya orang-orang yang punya pekerjaan yang tidak bisa
ditunda. Ketika sudah dekat, salah seorang bertanya pada saya
dalam bahasa Inggeris dengan aksen yang berat: "Apakah pertemuan
OPEC masih berlangsung?" Saya jawab dengan mengatakan bahwa para
menteri masih bersidang.
Dan kelompok itu meninggalkan kami dan mulai menaiki tangga ke
tingkat dua. Baru pada saat itulah saya sempat memperhatikan
bahwa beberapa di antara mereka membawa tas olahraga yang
besarnya lebih kurang sama dengan tas untuk bola bowling.
Semuanya dihiasi dengan lambang-lambang olah raga. Nampak aneh.
Tak seorang pun yang pernah melihat anggota delegasi datang, ke
pertemuan ini dengan tas olah raga.
Salah seorang reporter mencoba melucu. Katanya: "Tunggu saja
sampai mereka mengeluarkan senjata otomatis dari dalam tas
itu." Biasanya penjagaan di gedung ini selalu ketat, tapi di
Minggu pagi yang dingin ini, penjagaan tersebut menipis.
Tiba-tiba kami mendengar rentetan tembakan dari lantai dua. "Itu
suara tembakan." teriak seorang rekan. Dan kami pun menyerbu ke
tangga.
Sebelum tiba di lantai dua, salah seorang reporter berteriak:
"Saya melihat senjata". Maka kami berlarian kembali ke bawah.
Beberapa di antara kami melemparkan pakaian dinginnya dalam
keadaan panik. Pandangan ke arah tingkat dua tertumbuk pada
bayangan seorang bersenjata yang berdiri di balik pintu kaca.
Dan bau mesiu tercium dengan keras ketika kami semua memutuskan
untuk keluar ke udara terbuka dengan suhu dingin 15ø, untuk minta
pertolongan.
Seorang teman mengajak seorang polisi untuk mengikuti kami ke
restoran terdekat dari mana kami menilpon polisi. Dalam beberapa
menit, polisi tiba bersama ambulans. Dengan senjata yang siap,
merwka menuju gedung OPEC. Beberapa saat kemudian kami
menyaksikan seorang petugas keamanan yang terluka digotong
keluar. Orang ini menghembuskan nafas di rumah sakit. Kemudian
seorang teroris yang terluka, juga dibawa keluar. Dan
pengepungan pun terjadi.
|