Lengan Siapa Lagi Di Wina 6 orang bersenjata, grup lengan revolusi arab menyandera 60 orang pejabat OPEC yang bersidang di wina. Kelompok palestina tidak kenal dengan teroris ini dan menuduh zionisme & AS yang mendalangi. (ln) |
SENSASI politik terbesar akhir tahun 1975 ini berakhir dengan
tenang hari Selasa pekan silam di Aljir. Di sana sejumlah
menteri perminyakan Arab dan pembesar dari Iran, Afrika serta
Amerika Latin dibebaskan setelah puluhan jam menjadi sandera
sekelompok gerilyawan pro Palestina. Para pembajak yang menyekap
mereka sejak hari Minggu pagi 21 Desember lalu di Wina, Austria,
kabarnya berniat mengantarkan para pembesar Arab itu ke negeri
masing-masing seandainya Libya bersedia memberikan pesawat
terbang pengganti DC-9 milik Austria yang mereka pakai sejak
dari Wina hari Senin. Entah dengan pertimbangan apa, pemerintah
Libya menolak memenuhi tuntutan kawanan pembajak yang mengaku
tergolong dalam grup "Lengan Revolusi Arab". Maka mereka pun
kembali ke Aljir untuk membebaskan semua sandera, setelah sehari
sebelumnya telah pula membebaskan sejumlah sandera yang tidak
berkebangsaan Arab.
Drama ini bermula ketika para pembesar OPEC bersidang di markas
besar mereka di pagi yang dingin di pusat kota Wina. Penjagaan
yang biasanya ketat, hari Minggu itu nampaknya tidak sesempurna
hari-hari sebelumnya. Kesempatan inilah yang dipergunakan oleh 6
orang bersenjata -- seorang wanita untuk menyerbu para pembesar
minyak yang lagi bersidang. Ketika dengan tenang orang-orang
bersenjata itu menaiki tangga ke tingkat dua gedung markas OPEC
dengan tas olahraga merek Adidas di tangan masing-masing,
seorang wartawan yang lagi menanti hasil sidang secara bergurau
berkata kepada temannya: "Orang-orang ini tentu delegasi dari
Angola". Tapi beberapa detik kemudian, rentetan tembakan
terdengar. Korban-korban yang jatuh: seorang polisi, seorang
anggota delegasi Irak, seorang anggota delegasi Libya kemudian
juga ditemukan mati. Yang luka-luka dan tidak sampai mati adalah
seorang petugas keamanan OPEC dan seorang penyerbu yang
tertembak perutnya.
Tujuan Aksi
Para wartawan yang menanti di tingkat satu gedung persidangan
itu dengan segera menghubungi polisi yang kontan datang dengan
pasukan dan mobil ambulans. Tapi mereka terlambat. Para penyerbu
sudah menguasai lantai dua beserta sekitar 60 orang sandera.
Dunia dengan segera terkejut. Ini adalah pembajakan pertama
dengan sandera sejumlah menteri dan pejabat penting dari semua
negara minyak yang tergabung dalam OPEC. Selain Menteri
Perminyakan Arab Saudi, Ahmad Zaki Yamani yang terkenal itu, di
dalam kekuasaan para penyerbu ada pula, Belaid Abdessalam
(Menteri Ketenagaan Aljazair) Jaimes Duenes (Menteri Sumber Alam
Equador), Edouard Alexis (Menteri Pertambangan Gabon), Jamshid
Amouegar (Menteri Daam Negeri/Pertambangan Iran), Tayeh Abdul
Karim (Menteri Perminyakan Irak), Ezeddin Mabruk (Menteri
Perminyakan Libya), Mofia Tonjo Akobo (Komisaris Perminyakan
Nigeria), Valentin Hernandez (Menteri Pertambangan Venezuela)
dan Dr Sanger, pejabat tinggi Pertamina yang mewakili Dr Ibnu
Sutowo, serta sejumlah pejabat senior perminyakan dari berbagai
negara anggota OPEC.
Usaha pemerintah Austria untuk memulai pendekatan dengan para
pembajak itu tidak dengan segera berhasil. Mereka ingin ditemui
oleh Duta Besar Libya yang saat itu kebetulan berada di Praha.
Tapi kemudian terjadi juga kontak dengan dunia luar via seorang
sandera wanita yang sengaja dibebaskn oleh kelompok penyerbu.
Sambil meminta maaf kepada pemerintah Austria pihak penyerbu
itu menuntut dibacakannya pernyataan mereka di radio dan
televisi Austria setiap dua jam -- meminta bis untuk mengangkut
mereka serta para sandera dan pesawat terbang lengkap dengan
awak dan bahan bakar untuk suatu tujuan yang belum mereka
umumkan. Komunikasi kemudian menjadi lebih lancar ketika Belaid
Abdessalam dipercayai oleh para penyerbu untuk memainkan peranan
sebagai perantara dalam perundingan.
Dari deklarasi politik para penyerbu yang terdiri dari 7 halaman
dan tersiar dalam bahasa Perancis dan Inggeris itu diketahui
bahwa tujuan aksi mereka adalah untuk "memperingatkan
rezim-rezim reaksioner yang telah kehilangan harapan di dunia
Arab agar jangan sampai terjerumus terlalu dalam ke komplotan
rezim-rezim reaksioner dan pengkhianat yang telah patah semangat
dan makin khawatir dengan bertumbuhnya gerakan-gerakan rakyat
Palestina". Lewat pernyataan itu pula disebutnya nama Presiden
Anwar Sadat sebagai "pengkhianat terkemuka" serta Iran sebagai
alat imperialis yang aktif." Juga kegiatan sejumlah negara Arab
dalam membantu Amerika Serikat serta "berusaha memberikan
legalitas terhadap Zionisme" merupakan sasaran kecaman deklarasi
politik tersebut.
The Jackal
Kanselir Austria. Dr Bruno Kreisky, yang menangani sendiri
pembajakan gedung pusat OPEC itu memang tidak bisa berbuat lain
kecuali memenuhi tuntutan para pembajak. Ini adalah pekerjaan
gawat berurusan dengan para pembajak pro Palestina yang kedua
kalinya yang harus diselesaikan oleh Kreisky. Beberapa waktu
lalu berhasil menyelamatkan jiwa 4 sandera Yahudi Rusia di
Austria. Maka setelah memperoleh persetujuan Menlu Aljazair,
Abdel Aziz Bouteilika, (waktu itu berada di Paris), bagi
penerbangan ke Aljir, pemerintah Austria pun menyiapkan bis dan
pesawat terbang dengan 3 pilot sukarela. Sebelum terbang,
sejumlah sandera sempat dibebaskan, anggota pembajak yang luka
parah terpaksa diikut-sertakan. Seorang dokter berkebangsaan
Kurdi secara suka rela ikut terbang untuk menyelamatkan jiwa
Hardy, gerilyawan tertembak, yang diduga keras berkebangsaan
Jerman.
Hari Senin siangnya mereka mendarat di Aljir. Kecuali sandera
berkebangsaan Arab, semua yang mereka terbangkan dari Wina
dibebaskan di lapangan terbang Aljir. Tapi sehari kemudian
setelah gagal mendapatkan pesawat yang lebih besar -- sisa
sandera akhirnya dibebaskan pula di tempat yang sama. Beberapa
pembesar minyak terpaksa kembali ke Wina untuk merampungkan
persidangan mereka, tapi lainnya terpaksa pulang dulu ke negeri
mereka.
Ketika pembajakan masih berlangsung komentar dari berbagai
penjuru dunia memenuhi halaman muka koran-koran Di Eropa
Barat, yang menarik perhatian adalah disebutnya nama Carlos
sebagai pemimpin pembajakan tersebut. Carlos Martinez adalah
orang Amerika Latin, putera seorang pengacara, seorang pembunuh
profesional yang dikenal amat bersimpati kepada perjuangan
Palestina. menjadi buronan polisi Perancis lantaran tindakannya
membunuh dua orang detektif Paris serta informannya seorang
berkebangsaan Libanon awal tahun ini. Ia juga dicari di
London, sebab di flatnya ditemukan beberapa pucuk senjata serta
sejumlah bahan peledak. "Tapi tidak ada tanda positif bahwa
Carlos yang di kantor OPEC ini adalah Carlos Martinez, buronan
yang dikenal dengan julukan The Jackal itu", kata Kanselir
Bruno.
Tidak kurang menariknya, terutama di dunia Arab, adalah kelompok
yang melancarkan aksi itu. Di Beirut, juru bicara kelompok
Palestina mengaku tidak tahu menahu mengenai gerilyawan yang
menyekap sandera di Wina itu Abu Nedal, juru bicara markas PLO
di Kairo, hari Senin pekan silam dengan tegas berkata: "Tidak
ada nama Lengan Revolusi Arab di kalangan Palestina". Ia bahkan
berkata: "Tidak disangsikan lagi bahwa Zionisme dan imperialisme
Amerika tentu berada di balik operasi ini".
Senada dengan Abu Nedal, adalah koran-koran Kairo. Meskipun
tidak seorang Mesir yang jadi sandera, Kairo dengan tegas
menyatakan kutukannya kepada aksi teroris di Wina itu.
Suratkabar Al Ghomhouria menulis: "Teroris itu pastilah
orang-orang Israel yang menggunakan nama nama Arab". Harian
terkemuka Mesir, Al Ahram, menulis dalam tajuknya: "Tindakan
teroris ini sama sekali tidak beralasan dan merupakan suatu
agresi. Tindakan ini menunjulakan bahwa ada kelompok Arab yang
sungguh tidak sadar akan kekeliruan yang sedang mereka perbuat.
Sikap bahkan tidak menyadari peranan minyak Arab dalam
perjuangan melawan Israel".
|