|
|
| |
Edisi. 44/V/03 - 9 Januari 1976
|
Anggrek Dan Jemaah Haji Dunia Anggrek Indonesia cerah. sekarang ada orang yang rela meninggalkan pekerjaan pindah berkebun anggrek. sementara dari Arab Saudi diberitakan, 400 jemaah Indonesia meninggal dunia. |
"BILA anggrek mulai timbul, 'ku ingat padamu. Itulah lagu
keroncong Belanda yang aslinya bikinan komponis Ismail Marzuki
Als de orchideen bloeien. Mungkin karena rasa keindahan
semata-mata. Tapi tidak mustahil lagu itu ada hubungannya pula
dengan kebun-kebun anggrek Indonesia yang memang terkenal di
mana-mana. Itu sebelum Perang Dunia yang silam. Tapi semenjak
Jepang berkuasa di sini sampai tahun 1960-an. kegemaran
beranggrek menyusut sampai masuknya tahun 1970-an. Sekarang ini
pemasaran anggrek umumnya mempunyai beberapa sebab. Ada yang
terbuka matanya melihat peranggrekan menjelma sebagai bisnis
besar di Singapura Bangkok dan Hawaii. Ada pula yang karena
hobi atau "menyesuaikan diri." Maka banyak juga isteri pembesar
dan nyonya menteri tertarik ikut mengangkat dunia peranggrekan
di Jakarta. Lebih-lebih setelah Ny. Tien Soeharto dan Gubernur
Ali Sadikin memberi uluran tangan.
Namun hobi atau bisnis tidak sedikit yang kemudian begitu
terlibat hingga rela melepaskan pekerjaan atau profesi. Ada yang
berhenti jadi dosen. Ada yang meninggalkan bisnis sebagai
kontraktor. Ada pula seorang dokter yang tutup praktek sore
gara-gara berkebun anggrek. Mengapa? Ya karena cinta, ya karena
lain-lainnya. Tetapi kepada para petani kecil dan pengecer bunga
di kios-kios kesempatan baik itu juga ada mencipratkan rezeki.
Karena itu untuk mengetahui siapa saja yang main anggrek -- dan
berapa jauh bidang ini bisa memajukan petani bunga reporter
Yunus Kasim menghilang 3 hari. Kembali di kantor dia mulai
percaya bahwa wartawan pun bisa kaya karena anggrek. Saya jadi
mikir-mikir untuk menanamnya katanya. Laporan ini seluruhnya
dikerjakan Yunus dan turun di hari Natal setelah diedit oleh
Fikri Jufri.
***
HAJI kembali jadi sorotan. Selain musibah kebakaran di Mina
yang menelan banyak korban dari Indonesia yang meninggal karena
sakit juga tidak sedikit. Dalam suatu wawancara dengan Dirjen
Urusan Haji Indonesia Burham Tjokrohandoko di Mekah,
Hendrowiyono -- wartawan Kompas yang baru pulang haji
melaporkan ada 340 jemaah Indonesia yang meninggal karena
sebab-sebab lain". Dari jumlah ini 5 berasal Jawa Timur.
Keterangan dari beberapa jemaah yang baru pulang memperkirakan
ada 400 jemaah dari Indonesia yang meninggal. Dibandingkan
dengan tahun sebelumnya yang membawa korban kematian 500 orang
Indonesia jumlah yang sekarang memang lebih kecil. Tapi dari
segi persentasi lebih besar. Jemaah haji tahun ini dari Indonesa
dibatasi sampai 55.000 orang. Sedang tahun sebelumnya berjumlah
70.000 orang. Apa sebabnya sampai demikian banyak yang
meninggal? Syahrir Wahab dari TEMPO yang juga haji itu --
mencoba mengumpulkan keterangan dari beberapa jemaah yang
selamat kembali di tanah air, yang sayangnya keberatan dikutip
namanya.
Bersama ini pula kami mengucapkan Selamat Natal kepada yang
merayakannya dan Selamat Tahun Baru. Sudah beberapa waktu
berlalu namun semoga damai tetap berada minimal di tengah kita
tahun ini.
|
|
| |
|
|
| buatan Radja|endro |
Majalah
Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

|
|
| |
|
|
|
|