Dari rawabelong sampai ampiun Perdagangan bunga anggrek potongan sejak thn 1968 berpusat di rawabelong, palmerah. para perantara membeli dari petani. tengkulak menyalurkan ke toko bunga atau keluar kota.
(eb) |
PAGI itu lalulintas di Jakarta Barat masih sepi. Tapi di
Rwabelong, Palmerah sudah tampak ramai dengan pedagang dan
petani anggrek. Mereka setiap pagi datang ke sana dengan
menggenjot sepeda, sepeda motor dan Vespa membawa bunga dari
Pasar Jumat Ciputat seputar Kebayoran Lama Jatipetamburan dan
Kebon Jeruk. Begitu sampai para tengkulak dan pedagang siap
menerima bawaan mereka. Untuk dijual ke luar kota dan diecer ke
kios-kios kemabg di Gang Ampiun Cikini, depan Kathedral
Lapangan Banteng dari pusat-pusat bunga lainnya di Jakarta.
"Mulai 1968 pasar ini baru ramai" kata Sidik pedagang dan
petani anggrek asal Kebon Jeruk. Konon dimulai ketika seorang
petani menitipkan seikat kembang di warung nasi Pak Asmat.
Ternyata langkah itu diikuti para tengkulak kembang yang
keliling membeli anggrek di kebun-kebun petani kemudian
menjualnya di Rawabelong kepada pedagang atau tengkulak lain
yang bermodal lebih besar. Tapi sejak dulu sampai kini keadaan
Rawabelong nyaris tak berubah. Tanpa ada kios-kios maupun los.
Dan tidak pernah diresmikan sebagai bursa kembang. Semua
transaksi terjadi di pinggir jalan atau di depan warung nasi Pak
Asmat yang kini sudah haji itu. Meskipun demikian kini
Rawabelong bukan saja merupakan pangkalan perdagangan bunga
anggrek potongan di Indonesia. Tapi juga menjadi barometer
harga yang menentukan.
Menurut Sidik dan kawan-kawan, setiap harinya tidak kurang
40-50 pembeli yang beroperasi di Rawabelong. Sebaliknya penjual
yang terdiri dari para petani maupun tengkulak kecil berjumlah
sekitar 100 orang. Dia tidak tahu pasti berapa besar perputaran
uang yang terjadi setiap pagi. Diperkirakan rata-rata modal
kerja pedagang kecil sekitar Rp 25.000 seorang. Sedangkan yang
masuk kelas menengah hanya 10 orang dengan modal rata-rata
ratusan ribu rupiah seorang. Mereka tidak hanya menjual di
Jakarta, "tapi mengirim bunganya ke Bandung, Medan, Surabaya,
bahkan ke luar negeri" sambung Rabin pemilik Toko Kembang
"Rashida" di Kebayoran Baru. Rabin yang berdagang anggrek sejak
zaman Jepang punya langganan orang gedongan dan bintang film.
Tapi pagi itu, seperti beberapa rekannya yang lain, dia tidak
banyak mendapatkan bunga. Sebab petani banyak yang menahan
kembang, berhubung Natal, dan Tahun Baru. Akibatnya harga naik.
Sekuntum anggrek jenis vanda Dauglas, bulan Nopember lalu
berharga Rp 15, medio Desember yang baru lalu naik menjadi Rp
22,50 -- Rp 30 per kuntum. Miss Dinger Macan dari Rp 10 menjadi
Rp 20 per kuntum. Apple Blossom Putih Rp 75 sampai Rp 100 per
tangkai. Sedangkan Nellie Morley yang di kebun petani Rp 15 per
kuntum di Rawabelong laku Rp 22,50 per kuntum. Dan harga yang
berlaku di sini 30-60% di bawah harga eceran di pasar kembang
Gang Ampiun. Kecuali bagi yang punya langganan, bagi petani
anggrek yang mau menjual langsung ke Gang Ampiun tidak mudah.
"Kalaupun diterima harganya ditekan dan pembayarannya bisa
menunggu satu-dua minggu" keluh Ketua Koperasi Petani Anggrek
Jakarta, Sudardjo.
Tahi Kuda
Rupanya ada suatu jaringan pemasaran yang sukar ditembus. "Kita
bagi rezeki" ujar Sidik yang mengaku punya saudara di kios
kembang Ampiun. Sementara itu Caca pedagang bunga di los
"Chacha" Pasar Ampiun menuturkan "para pedagang bunga di Cikini
mendapatkan bunga dari perantara bukan langsung dari petani. Si
Caca bersama kurang lebih 16 penjual bunga lainnya di Ampiun tak
dapat berhubungan langsung dengan petani. "Ini memang lumrah.
Kita mesti bagi-bagi rezeki" ucap Caca yang membuka los bersama
sanak keluarga sendiri. Menurut Caca para petanilah biasanya
yang merubah-rubah harga. Misalnya pada hari-hari raya Natal dan
Tahun Baru mereka menaikkan harga antara 50-100%.
Tapi berapa untungnya? Kalau jual-beli di sini maksudnya di
Rawabelong seorang pedagang mengambil keuntungan rata-rata Rp 5
per kuntum. Setiap pedagang dapat membe]i 500-1000 kuntum sehari
katanya. Alias bisa untung di tempat antara Rp 2.500-Rp 5.000
per jam karena pasar Rawabelong cuma buka dari jam 05.30 subuh
sampai jam 06.30 pagi. Jam 7 sudah tutup.
Dan Djailani seorang petani anggrek 3 generasi dari
Jatipetamburan mengeluh melihat situasi perdagangan anggrek
dewasa ini. Di tengah BPEN mencanangkan penggalakan produksi dan
ekspor, malah impor bunga potongan membanjiri Jakarta. "Umumnya
dimasukkan sebagai barang kiriman dan terdiri dari aneka ragam
anggrek" katanya. "Biasanya masuk dari Singapura dan Bangkok".
Impor itu terjadi pada bulan Oktober 1975, menjelang Idul Fitri
lalu. Akibatnya harga bunga di Jakarta bukan lagi jatuh "tapi
ambruk" keluhnya yang disambut anggukan oleh para pedagang di
Rawabelong. Dan ada tengkulak yang menjual sepeda motornya dan
kalung emas isterinya. Untuk pembayar bunga yang dibeli secara
kredit dari para petani.
Tampaknya hingga kini tak ada jalan lain bagi petani kecil
kecuali harus meliwati Pasar Bunga Rawabelong. Anehnya tidak
terdapat perbedaan harga yang menyolok di antara sesama pedagang
di sana. Seakan mereka sepakat mengatur naik-turunnya harga.
Tapi Pak Muhasim petani anggrek yang memiliki 2.000 pohon di
Kebayoran Lama nampaknya kurang puas ketika menerima pembayaran
Rp 12.000 untuk 100 tangkai Apple Blossom putih dan 300 tangkai
vanda Kwarter. "Ini hasil selama seminggu" ujar Muhasim.
"Sebulan tak sampai Rp 40.000 dan kadang-kadang cuma mendapat Rp
15-20 ribu sebulan". Sebagaimana petani lainnya Muhasim
mengharapkan harga lebih baik. Masuk akal. Harga-harga
kebutuhan pokok sehari-hari sudah naik lebih dulu. Dengan
sendirinya harga pupuk dan sarana produksi lainnya untuk tanaman
bunga juga ikut naik. "Tahi kuda saja sekarang sudah 4.000 perak
segerobak" katanya.
|