Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 44/V/03 - 9 Januari 1976
   
Ekonomi dan Bisnis

Memetik Bunga Di Anggrek Bisnis Anggrek

Meningkatnya bisnis bunga anggrek di Indonesia sempat mempopulerkan haji anggrek & merubah wajah rawabelong menjadi bursa anggrek. Prospek yang cerah belum mampu memenuhi pasaran luar negeri. (eb)

DULU ketika masih jadi Gubernur Bank Sentral, saya selalu
menganjurkan orang untuk membungakan uang di bank. Tapi
sekarang, setelah menjadi Menteri Perdagangan saya punya anjuran
begini: bungakanlah uangmu di bunga." Anjuran yang menarik itu
datang dari siapa lagi kalau bukan Menteri Radius Prawiro. Itu
diucapkan Menteri Perdagangan selesai menghadiri pembukaan Pekan
Industri Bungan yang dibuka oleh Ny. Tien Soeharto 4 Desember
lalu di pavilyun ekspor BPEN, Pekan Raya Jakarta. Kontan saja
Dr. Zainul Yasni yang menjadi koordinator dari pekan industri
itu manggut-manggut. Dan menyisipkan anjuran Menteri Radius itu
dalam kesimpulan seminar yang juga berlangsung pekan itu. Tentu
bukan maksud Menteri Perdagangan untuk membuat orang takut
menyimpan uang di bank. Tapi dari kacamata bisnis, anjuran
Menteri Radius yang setengah berkelakar itu banyak benarnya.
Sekalipun inflasi selama tahun 1975 yang baru liwat itu lebih
kecil ketimbang tahun 1974 yang mencapai 33%, beberapa pengamat
ekonomi memperkirakan tingkatnya mencapai sekitar 20% di
penghujung tahun anggaran ini (TEMPO, 27 Desember 1975). Lagi
pula zaman dimana kaum pemilik uang panas bisa bergoyang kaki
dengan mendepositokan uangnya di bank -- deposito berjangka
dengan tingkat bunga yang memikat -- sudah lama usai. Maka tidak
heran kalu anjuran untuk beranggrek-anggrek kontan disambut
keplok oleh para anggrekwan.

Anjuran Menteri Perdagangan agaknya bukan cuma didasarkan
laporan-laporan yang disodorkan anak buahnya, menunjukkan betapa
menariknya uang yang bisa dipetik dari bisnis bunga, khususnya
anggrek. Tapi agaknya juga berdasarkan pengalaman yang datang
dari rumah sendiri. Adalah ny. Radius Prawiro yang antara lain
memiliki kebun anggrek yang cukup luas di dekat Cibinong, di
samping 1.000 mÿFD di taman anggrek Ragunan yang dimilikinya
sebagai anggota koperasi anggrek. Kegiatan sang nyonya yang kini
asyik beranggrek itu tentunya tak terlepas dari kegiatan Ibu Negara
di bidang ini. Adalah Nyonya Tien Soeharto -- liwat Yayasan
Harapan Kita yang diketuainya -- yang beberapa tahun lalu mulai
melirik pada jenis flora yang kabarnya rewel dan manja ngurusnya
itu. Namun bisa menghasilkan untung yang lumayan besarnya.

Maka bagaikan epidemi, demam anggrek pun menjalar luas, terutama
di Jakarta. Di Indonesia, selama tahun 1973 diperkirakan
terdapat 30 Ha kebun anggrek. Tersebar mulai Medan, Jakarta,
Jawa Barat termasuk Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang sampai
Ujungpandang. Dihitung-hitung jumlah orang yang terlibat dalam
bisnis anggrek ketika itu tidak kurang dari seribu. Tapi yang
paling menonjol adalah Jakarta, kata Ir. Maharanto dari Dinas
Pertanian DKI Jaya. Angka-angka yang disodorkan orang DKI itu
menunjukkan betapa meningkatnya areal dan mereka yang berusaha
anggrek di Jakarta. Di tahun 1973 jumlahnya hanya 35 orang
dengan tanaman sekitar 820.000 pohon. Tapi selama tahun 1974
angkanya melompat cepat mencapai 1,6 juta pohon dengan areal
seluas 5 ha, mencakup 500 petani anggrek. Dan hasilnya
sebanyak 3 juta macan tangkai bunga (cut flower) setahun
habis disedot pasaran dalam negeri, kata Maharanto. Bahkan
selama tahun 1975, jumlah areal Jakarta yang disita pohon
anggrek diperkirakan lebih dari 35 Ha. Ini belum termasuk Taman
Anggrek Indonesia Permai yang 3« Ha di Slipi. Taman Anggrwk di
Ragunan yang 5 Ha dan di Taman Mini.

Cipete Orchid

Mudah dimengerti mengapa tanaman anggrek -- yang sudah dikenal
sejak sebelum Perang Dunia II di Indonesia -- akhir-akhir ini
begitu naik gengsinya. Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) yang
lahir di Bandung di tahun 1956 -- dan di tahun 1960-an berpusat
di Jakarta -- menurut catatan terakhir sudah beranggota 1.200
orang. Menurut Rasman Moeliana, 51 tahun, seorang perintis dan
pengusaha besar anggrek di Jakarta. kegiatan para anggola PAI
itu umumnya masih berupa kegemaran. Dan hanya sekitar 20% saja
yang benar-benar bisa disebut petani angrek. Rasman yang oleh
sementara orang dikenal sebagai guru di bidang peranggrekan itu
mulai usahanya sejak 22 tahun silam. "Ketika itu saya baru tahu
namanya saja, tapi belum mengenal lika-likunya," kata Rasman.
Masarakat anggrek yang umumnya terbatas pada keturunan Tionghoa
waktu itu masih enggan menyebarkan ilmunya. Mungkin karena
penasaran, Rasman yang tidak berputus asa itu mencari akal untuk
toh memiliki bibit-bibit anggrek yang mahal harganya. Sampai
saya berani menjual rumah saya dijalan Kesehatan untuk
memperoleh bibit," ujarnya mengenang masa lalu. Kini di villanya
yang bernama Cipete Orchid, dia tidak saja tergolong pengusaha
besar. Dilengkapi dengan sebuah restoran dan bar, serta art
gallery, kebun di rumahnya yang 3/4 Ha itu juga disediakan
untuk pembenihan, penyebaran dan penanaman kembali. Pemasaran
pun tak sulit lagi baginya. Hampir semua kedutaan adalah
langganan saya, katanya. Selain yang di Cipete, anggrekwan itu
juga memiliki kebun anggrek seluas 2« Ha di Ciputat di samping 5
Ha yang di Pondok Labu, dekat RS Fatmawati.

Usaha Rasman dan nyonya yang berkembang mantap itu sudah jauh
dimulai sebelum Gubernur ~Ali Sadikin dan para nyonya atasan
tertarik pada peranggrekan. Tapi bagi Ban~g Ali sendiri yang begitu
ingin menagari sebagian dari ibukota yang makin pengap itu dengan
jalur-jalur hijau tak pelak lagi memberi uluran tangan. ~~Maka
terbentuklah koperasi anggrek di tahun 1973 yan~g antara lain
disponsori oleh Dr Saroso, Drs Sunar~o Wiriokusumo~ bekas ~Menpen
Budiardjo dan Haji Musa, petani anggrek di Petamburan. Melalui
koperasi yang kini diketuai Letkol (Pens) Sudardjo, Gubernur Ali
Sadikin kemudian menyediakan tanah seluas 5 Ha di Ragunan untuk
disewakan kepada para anggotanya masing-masing 1.000 mÿFD seorang.
Selain sewa tanah yang Rp 60.000 per Ha setahun. Gubernur DKI
Jaya itu ju~ga memberi bantuan Rp 3 juta untuk memasang sarana,
jalan dan pagar. Semua bantuan itu diberikan pak ~Gub sebagai obat
penenang bagi para anggota yang kekurangan tanah, kata Mardjata
manajer proyek Taman Anggrek Ragunan itu. Dia sendiri sampai
sek~arang masih aktif sebagai kontraktor bangunan. Tapi bersama
isterinya, nyonya Soebargini yang sudah mulai main anggrek sejak
10 tahun lalu -- mereka kini memiliki sekitar 20.000 pohon.
Memiliki 2 kaveling @ 1.000 mÿFD di Ragunan, sang isteri merasa
cukup repot untuk kerja nyambi. Sejak 6 tahun lalu saya sudah
melepaskan karir saya sebagai dosen bahasa Perancis, kata
Soebargini. Ternyata usaha anggrek baginya bukan lagi sebagai
hobi. Tapi semata-mata karena motif ekonomi, katanya. Adapun
hasil yang mereka petik rata-rata Rp 25.000 seminggu. Gara-gara
anggrek saya sampai begini gemuk gurau sang nyonya.

Salah satu kunci sukses seperti dialami suami-isteri Rasman dan
Mardjata itu -- selain ketekunan, keahlian dan modal rupanya
tergantung pada nyonya rumah jua. Bak kata Daud, 43 tahun,
orang asli Jakarta yang kini maju, gara-gara anggrek, "usaha
bisa berhasil kalau suami-isteri sama-sama senang anggrek.
Bertolak dari pengalamannya, bang Daud menceritakan usahanya
tadinya goyah, karena sang isteri tidak tertarik. Sekalipun
hanya berpendidikan SD, Daud yang menurut Ketua PAI Budiardjo
berotak cerdas ini, berhasil meraih juara kedua dalau
perlombaan anggrek jenis Vanda se-DKI di tahun 1973. Oleh
rekan-rekannya dia disegani sebagai petani anggrek teladan.
Pernah menjadi pembantu toko bunga milik nyonya Hugeng, petani
anggrek dari Rawabelong itu kini bisa mempekerjakan 6 orang yang
digaji antara Rp 12.000 sampai Rp 15.000 sebulan. Sedang tentang
penghasilannya, Daud mengatakan cukup untuk hidup 13 orang.
Menjual anggrek pun tak sulit baginya. Selain punya langganan
di Bandung, beberapa toko bunga juga biasa mengambil dari
kebunnya. Sekalipun Daud ini belum lagi bertitel haji, pernah
bunganya diekspor ke luar negeri melalui sebuah perusahaan.
Tadinya setiap minggu ada 2.000 tangkai yang dipesan untuk ke
Jerman, katanya. Sayang sekarang sudah tidak lagi.

Kalau perdagangan anggrek di dalam negeri sudah bukan soal
lagi, bisnis anggrek di Indonesia belum mampu memenuhi
permintaan yang mengalir masuk dari luar negeri. Berbeda dengan
barang-barang kerajinan yang sulit untuk menembus pasaran di
luar negeri, bagi anggrek yang berlaku malah sebaliknya. Pasaran
di luar negeri terbuka lebar, bahkan boleh dibilang tak
terbatas", kata Zainul Yasni. Menurut Kepala Pusat Pengembangan
Pemasaran Hasil Pertanian itu, soalnya cuma tinggal bagaimana
kita di sini mampu mengirim anggrek sesuai dengan selera
permintaan di luar negeri". Ini diakui oleh beberapa eksportir
dan petani anggrek yang lebih suka disebut growers. Ir.Tanto
Oetomo, satu-satunya eksportir yang masih berusaha keras
melayani permintaan dari luar merasa sedih. "Coba periksa itu
tumpukan tilgram", keluhnya seraya menunjuk pada sebuah map.
"Semuanya belum bisa saya layani". Menurut insinyur yang lebih
suka main anggrek itu, kenapa ada promosi apapun sedikitnya
pesanan yang masuk berjumlah 5.000 tangkai setiap minggu. "Tapi
paling banter bisa saya penuhi hanya separoh".

Sementara itu PT Tanaman Hias dan Cipete Orchid juga kebanjiran
permintaan dari luar tak kurang dari 40.000 tangkai seminggu.
Bahkan Rasman Moeliana merasa kewalahan ketika disodorkan suatu
kontrak untuk memenuhi permintaan selama 3 tahun. Jumlahnya?
"Berapa saja saya bisa sanggupi" katanya. Tapi apa mau dikata
kalau permintaan di dalam negeri sendiri belum cukup dilayani.
Dia sendiri pernah mencoba melakukan ekspor, tapi sejak 1967
terpaksa dihentikan. Sedang Koperasi Petani Anggrek yang tanpa
kesulitan memperoleh Angka Pengenal Ekspor Sementara (APES),
sudah mogok ekspor tidak sampai setahun.

Menurut beberapa kalangan anggrek, hanya Tanto Oetomo yang
masih mengekspor anggrek ke beberapa negara Eropa. Seperti ke
Wina, Lausanne, Frankfurt, Stuttgart dan Amsterdam. Bahkan di
tahun 1976 ini pengusaha besar itu ingin mencoba menembus
pasaran di Australia dan Perancis. Tak mengherankan jika Sunarto
Wiriokusumo -- yang dipasrahi mengurus ekspor dan logistik oleh
koperasinya beranggapan "dagang anggrek ini adalah dagang
bingung". Selain suplainya kurang, harga di dalam negeri amat
menyolok perbedaannya. Suatu hal yang menurut Sunarto lidak
lazim terjadi di Eropa. Ini antara lain disebabkan produksi
anggrek yang lebih memusat di Jakarta, juga harus melayani
permintaan yang datang mulai dari Medan sampai Menado. Maka
sekuntum Miss Dinger Macan yang hanya Rp 10 di Jakarta, bisa
naik gengsinya mencapai Rp 300 di Ujungpandang. Lain lagi ulah
anggrek bernama Maggie Oei. Kalau di Jakarta bisa diperoleh Rp
50 setangkai, di Ujungpandang si Maggie ini jual mahal sampai Rp
50 untuk hanya sekuntum. Lebih-lebih kalau ada penggede yang
mantu. Pasaran si Maggie, Miss Macan atau yang bernama
Dendrobium Pompidour bisa makin bertingkah lagi. "Mereka itu
suka main borong", kata seorang anggota PAI.

Sekalipun promosi anggrek sudah sering juga diadakan, liwat
pameran dan seminar, toh bisnis peranggrekan di Indonesia masih
jauh ketinggalan dibanding beberapa negeri tetangga. "Dengan
Singapura, Bangkok dan Hawaii kita ini ketinggalan 15 sampai 20
tahun", kata Dr Saroso Wirodihardjo. Bagi ekonom angkatan lama
yang dulunya pernah aktif menulis di Business News dan bekas
pejabat di Departemen Perdagangan di tahun 1950-an, dunia
anggrek mulanya merupakan semacam "pelarian" baginya. "Untuk
ketenangan jiwa". katanya. Tapi dalam usianya yang kini 60
tahun, Saroso yang mulai beralih sebagai growers agaknya merasa
belum tenteram menilai ketertinggalan bidangnya yang sekarang.
Sependapat dengan beberapa rekannya, dia beranggapan belum
banyak yang diperbuat oleh Lembaga Biologi Nasional, Kebun Raya
Bogor maupun Sub Direktorat Hortikultura. "Bantuan dari mereka
boleh dibilang belum ada". katanya. "Baik penyuluhan maupun
usaha pengembangan produksi".

Sepanjang Mekong

Apa jawaban dari Kebun Raya Bogor? Dr Setiati Sasrapraja Kepala
Lembaga Biologi Nasional di sana ternyata tak mengelak. "Di
bidang peranggrekan kami memang belum bisa berbuat banyak",
katanya. Sebabnya menurut Setiati terpulang pada soal dana juga.
"Baru tahun 1975/1976 ini Lembaga akan kebagian anggaran",
katanya. "Tapi jumlahnya cuma setengah juta rupiah all in" Dan
yang dimaksud all in oleh Kepala LBN itu adalah untuk pencarian
species alam di hutan plus penelitian. "Untuk dua kali jalan
saja jumlah yang segitu sudah habis", kata Saroso. Dibandingkan
dengan Singapura yang baru mulai kenal anggrek setelah Perang
Dunia II, jumlah yang diperoleh LBN itu sungguh memalukan.
Pemerintah di republik mini itu kabarnya tak kepalang tanggung
memberikan subsidi sebesar S$ 1 juta setahun untuk Botanical
Garden mereka. Sedang di Bangkok, adalah Prof. Rapee Sagarek
dari Kasetsant University yang berhasil menggugah Pemwrintahnya
untuk menaruh lebih banyak perhatian pada bisnis anggrek.
Selain pandai berteori, Prof. Sagarek mahir menanam dan
mengharuskan staf serta mahasiswanya untuk praktek di lapangan.
Maka tak heran kalau di negeranya Ratu Sirikit itu aneka pohon
anggrek bergantungan di sepanjang sungai Mekong. Sampaipun para
pendeta di sana banyak yang gemar memelihara anggrek.

Barangkali yang membuat anggrek belum masuk daftar perhatian
Pemerintah, disebabkan tanaman ini masih dipandang sebagai
sesuatu yang mewah. Mahfoedi Kepala Subdit Hortikultura di
Pasar Minggu cepat angkat tangan jika ditanya tentang usaha
memajukan tehnologi peranggrekan. "Tentang itu kami terus terang
belum bisa berbuat apa-apa" katanya. "Soalnya kan prioritas
tetap diberikan pada buah-buahan dan sayuran". Bicara soal
prioritas memang masuk akal kalau buah dan sayuran lebih
didahulukan. Tapi anehnya yang mendapat prioritas itu malah
pelan-pelan ditinggalkan oleh para petani. Kalau di beberapa
daerah sering terdengar para petani padi dan kelapa lebih suka
pindah menanam cengkeh, hal yang sama juga terjadi pada petani
buah-buahan.

Lebih-lebih seelah Ibu Tien Soeharto dan Ali Sadikin menaruh
perhatian banyak juga petani buah yang menjelma menjadi petani
anggrek. Daud anggrekwan yang di Kebon Jeruk sudah punya
membabat pohon durian rambutan dan nangka peninggalan orang
tuanya. "Kalau masih ada umur pohon-pohon yang lain juga akan
saya babatin" katanya dalam logat Betawi. "Soalnya buah-buahan
cuma panen setahun sekali. Paling banter juga dua kali. Tapi
anggrek lebih sering jadi lebih untung". Malah ada keuntungan
lain lagi. Sebagai anggota koperasi dia juga kebagian menyewa
kaveling yang di Ragunan. Malah bang Daud merasa iri karena ada
orang temannya di bilangan Jaipetamburan dan Slipi yang bisa
naik haji gara-gara berusaha anggrek. "Sampai mereka dipanggil
haji anggrek" guraunya.

Main Borong

Cerita Daud tentu tak bisa dipegang sebagai ukuran. Tapi tak
ada salahnya kalau Pemerintah -- yang bertujuan meningkatkan
taraf hidup petani -- mulai menyelidiki sejauh mana usaha
anggrek itu bisa menolong hidup orang kecil. Bidang yang
kelihatannya sepele itu ternyata mampu membuat kehidupan sedikit
ramai di daerah Rawabelong, Kebayoran Lama (lihat box).
Hingga sekarang tanaman anggrek masih membawa rezeki yang
lumayan. Baik bagi petani, pedagang dan tengkulak. Tapi ada
satu kelemahan yang oleh anggrekwan Rasman dipandang sebagai
suatu hal yang membahayakan. Para petani kecil di
Jatipetamburan dan beberapa tempat lain itu cenderung untuk
menjual tanamannya. Cara begitu memang lebih cepat membawa
untung. Tapi akibat jeleknya si petani suatu hari bisa kehabisan
persediaan tanaman yang terbaik. Rasman merasa sedih bahwa
beberapa pembesar yang menaruh perhatian pada anggrek itu "ada
saja yang setengah memaksa ingin membeli satu jenis yang
menarik hatinya". Maka kalau uang yang disodorkan pada petani
itu lebih bisa bicara, akibatnya petani sulit untuk maju.
Menurut pengamatannya sejak 10 tahun lalu para petani
tradisionil itu masih mengikuti cara-cara lama untuk menseleksi
dan merawat bunga. Selain jenis bunga yang ditanam juga campur
aduk mereka belum pandai mengikuti selera para pembeli. Maka
baik Rasman maupun Saroso dan kawan-kawan melihat perlunya
uluran tangan yang lebih berarti dari pemerintah. Setidaknya
mereka diberi petunjuk-petunjuk gratis dan sedikit fasilitas
agar bisa membatasi menjual tanaman. Dan lebih memperhatikan
pada penjualan bunga potongan.

Bagi para growers di Jakarta selain modal masalah tanah
merupakan hamhatan utama. Untuk hidup layak seorang grow~er --
dengan penghasilan sekitar Rp 500.000 sebulan mereka perlu
memiliki tanah seluas seteng~ah hektar. Atau minimal bagi petani
biasa dibutuhkan 2.500 mÿFD. Sulitnya bagi petani kecil mereka
umumnya memili~ki tanah antara 500 sampai 1.000 m~. Jumlah yang sekian
itu dipandang belum cukup kalau usaha anggrek ingin dikembangkan
sebag~ai bisnis yang berarti. Nah bagi yang kebetulan memiliki
0.5 Ha menurut Budiardjo. paling tidak membut~uhkan modal ~Rp 50
juta u~ntuk memulai usaha. Seperti pembibitan, membeli atap kere
pagar rak d~an rumah kerja. Di tengah kesulitan mendapat tanah di
Jakarta bantuan Ali Sadikin yang memungkinkan pengusaha anggrek
menyewa tanah, oleh Sunarto dianggap sebagai "jalan keluar
yang simpatik".

Awas Singapura

Bicara soal pembibitan dan penyilangan Indonesia sesungguhnya
punya pengalaman yang pernah menarik perhatian ahli-ahli anggrek
asing. Seperti jenis Bogoriana atau yang kini lebih dikenal
dengan Apple Blossom White adalah hasil silangan almarhum Khoe
May Seng di Jatipetamburan Jakarta. Dalam beberapa pameran
anggrek di luar negeri karya Khoe itu selalu mendapat nomor.
Adalah Khoe pula yang berhasil membuat silangan anggrek vanda
Megawati dan Fatmawati. Kini bibit tanaman yang ada di Indonesia
umumnya sudah terbelakang dibandingkan dengan negeri lain. Untuk
mengatasi atau setidaknya berusaha mengejar waktu. "tak ada
jalan lain kecuali harus impor bibit dari Singapura, Bankok
atau Hawaii" kata Budiardjo. Sedihnya, beberapa bibit yang
diimpor itu sesungguhnya berasal dari Indonesia. Seperti Apple
Blossom White yang diimpor Singapura dari Indonesia di tahun
1960-an. Setelah jenis anggrek itu berkembang baik di Kota
Singa, kini Indonesia yang mengimpornya dari sana. Begitu pula
dengan jenis Dendrodium Pompidour yang kini subur di Muangthai
dan murah harganya menurut para ahli anggrek mulanya berasal
dari Sulawesi. "Jangan coba-coba bersaing dengan Bangkok dalam
anggrek Dendrodium". kata Tanto. "Selain jumlahnya besar, harga
setangkai Dendrodium di Bangkok sama dengan harga sekuntum di
Jakarta". Bisa dimaklumi kalau para pengusaha bunga di Jakarta
merasa terbanting karena si Madame Pompidour Bangkok itu suka
memasuki pasaran Indonesia dalam bentuk bunga potongan.

Maka di bulan Oktober lalu, sebanyak 113 petani anggrek di
Jakarta berkenan mengirim surat kepada Gubernurnya dan BPEI.
Mereka memohon agar impor bunga potongan -- dus bukan tanaman
dan bibit -- sebaiknya dilarang masuk. Tapi sebegitu jauh,
permintaan para petani yang mendapat dukungan dari koperasi
anggrek di Jakarta tampaknya belum bergema. Namun ada baiknya
kritik dari seorang anggota PAI diperhatikan oleh para petani
sendiri. "Impor bunga potongan ini masuk ke mari karena para
petani kita suka menjual mahal dagangannya". Orang PAI itu
menganjurkan agar lebih melihat ke depan dan tidak berfikir
untuk mengejar untung sebanyak mungkin.

Beberapa petani mengakui keunggulan para pengusaha anggrek
luar negeri dalam hal mempertahankan stabilitas harga. Tapi ada
yang lebih mereka takuti daripada masuknya bunga-bunga potongan
itu ke Indonesia. "Sekarang memang baru bunganya tapi satu waktu
orangnya yang masuk" kata seorang anggrekwan. Purnamawati
seorang staf BPEN yang baru pulang dari Singapura, membawa kabar
yang kurang enak. "Mereka di sana sudah lama mengincer kita"
katanya. Maksudnya para pengusaha anggrek kelas kakap yang
banyak terdapat di Kota Singa itu sudah lama membutuhkan ruang
gerak yang lebih besar. Mengingat tanah di sana begitu minim
maka pemerintah Lee Kuan Yew lebih mengutamakan sektor real
estate ketimbang kebun bunga. Konon kebun-kebun anggrek di
sana terpaksa harus mengalah hingga akan dikurangi arealnya
dalam tiga tahun mendatang. Nah. selama masa itu para growers
di Singapura sudah pasti berusaha masuk di Indonesia. Selain
tanahnya masih luas, ekologi juga cocok berusaha murah di sini.
Mereka kabarnya lebih cocok berusaha di sini daripada Malaysia
mengingat pertimbangan politik dan sejarah yang kurang baik di
masa lalu.

Kontan masarakat anggrek di Indonesia teriak-teriak mendengar
maksud Singapura yang ingin masuk ke mari. "Kalau sampai mereka
dibolehkan masuk tunggulah kehancuran petani kita" komentar
Budiardjo. Suara Ketua PAI itu boleh dibilang mewakili bisnis
anggrek di Indonesia. Bak kata Dr Saroso. "memelihara anggrek
sebagai hobi boleh dibilang sudah ditinggalkan di Indonesia"
Mengingat bidang anggrek di Indonesia makin menjurus sebagai
usaha yang komersiil "Saroso menolak masuknya modal asing".
Tapi dari Pemerintah sendiri kembali belum ada suara tegas.
Menjadi pertanyaan apakah dalam bidang yang satu ini nantinya
tidak akan mengalami nasib yang sama seperti tekstil dan
industri barang konsumsi?


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data