Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/V/06 - 12 Desember 1975
   
Nasional

Apa Saja (Selain Perempuan) ?

Masalah organisasi penyelundupan di Indonesia yang bermarkas di luar negeri akan di-lokakaryakan. pihak kejaksaan dan bea cukai bekerja sama. kasus perdagangan wanita di riau belum terungkap. (nas)

SAMA halnya dengan soal korupsi yang beberapa tahun lalu
sering diseminarkan, masalah penyelundupan kini juga
di-lokakarya-kan. Ini bermula ketika Dirjen Bea-Cukai Brigjen
Taher kemudian disusul dengan pernyataan Jagung Mayjen Ali Said
SH--mengakui adanya organisasi penyelundupan di Indonesia yang
dalangnya bersemayam di luar negeri. Menurut kedua pejabat
tinggi tadi, jaringan penyelundupan internasional itu melakukan
gerak operasi yang selalu berpindah-pindah. Dan umumnya yang
jadi sasaran adalah pelabuhan-pelabuhan kecil di Indonesia.
Sayangnya, Ali Said belum menuding negara mana yang jadi markas
besarnya. Ia juga belum menyebutkan negara mana saja di Asia
Tenggara yang ikut terkena dalam jaringan sindikat penyelundup
internasional itu. Hal lain yang sesungguhnya lama
ditunggu-tunggu masyarakat--tapi juga tak disebutkan-adalah
beberapa kasus dan nama yang terlibat dalam tingkat
penyelundupan macam itu. Sekalipun begitu, ketika meninjau ke
daerah: Jambi baru-baru ini Ali Said berkata: "Kejaksaan sedang
menyusun cara-cara yang tepat untuk mengantamir persoalan ini".

Adakah peninjauan 3 hari Ali Said ke daerah Jambi punya kaitan
dengan soal itu. Kendati dalam buku acara disebutkan itu cuma
kunjungan kerja, pilihan yang jatuh pada Jambi agaknya memang
tepat sekali. "Daerah di seputar Jambi, Riau dan sepanjang
pesisir timur Sumatera Utara tergolong beken sebagai ajang
penyelundupan yang paling sbur di Indonesia", kata seorang
petugas B&C di Priok. "Apalagi tempat-tempat itu sangat dekat
dengan Singapura dan Malaysia". Keterangan petugas duane itu
tentu sudah jadi pengetahuan orang banyak. Hutan bakau yang
memagari pesisir timur Riau Kepulauan Jambi dan Sumatera Utara
sungguh berguna bagi kapal motor penyelundup untuk bersembunyi
dari intaian kapal patroli. Bahkan tak jarang terdengar cerita
bahwa kapal kaum penyelundup itu entah bagaimana bisa lari lebih
cepat dan lebih lincah dari kapal-kapal patroli B&C. Barangkali
itu pula sebabnya mengapa belum banyak laporan yang terungkapkan
berapa banyak kapal dan besarnya jumlah dan macam barang
penyelundupan yang berhasil ditangkap di daerah itu.

Selain soal narkotika yang masih ramai diulas-ulas, ada satu
kasus menarik yang belum lama ini diberitakan harian Singapura
Straits Times tiga pekan lalu. Harian terbesar yang dikontrol
oleh pemerintah Singapura itu menyebutkan adanya penyelundupan
gadis-gadis dari Malaysia, Muangthai dan Indonesia ke
Singapura. Dan oleh sebuah sindikat di Kota Singa itu -- nama
dan orangnya tak disebutkan--gadis-gadis itu antara lain
dihidangkn kepada para pengusaha kayu. Adapun tarifnya paling
rendah $S 3.000 untuk hidup bersama selama sepekan. Bagi
usahawan yang ingin memelihara seorang atau lebih wanita itu
sebagai selir minimal harus bayar S$ 25.000 untuk seorang.

Kisah begitu sesungguhnya sudah lama jadi pergunjingan di
Indonesia terutama di daerah Riau Kepulauan. Seorang pengusaha
kayu yang pernah lama tinggal di Riau, kepada TEMPO mengakui:
"Kami pun bisa memesan wanita itu dari sindikat di Singapura".
Maksudnya tentu liwat calo setempat. Menurut pengusaha itu, ada
juga kejadian yang terbalik. "Orang di Singapura yang memesan
wanita dari sini", katanya. Tapi sebegitu Jauh, kasus
perdagangan wanitayang konon makin subur di kota-kota besar
Indonesia, toh belum pernah terbongkar. Apalagi untuk dihadapkan
ke pengadilan. Mengapa cara perdagangan macam itu tak terjamah
tangan yang berwajib? Tidak mustahil karena punya beking kuat.
Adakah sindikat perdagangan wanita ini tergolong yang lagi
"diantamir" Jagung Ali Said, entahlah. Yang pasti, ini pun
merupakan kasus menarik untuk dipertanyakan dalam lokakarya itu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data