Bak Gerhana Bulan Di sekitar pipa minyak di kampung prapatan, telogorejo gunung sari dan marroni di bangun rumah-rumah kebakaran terjadi akibat kebocoran pipa. walikota mengeluarkan sk untuk membongkar rumah-rumah tersebut. (kt) |
BAGAI dara meningkat remaja, Balikpapan ternyata besar daya
tariknya. Seperti juga Samarinda, kota minyak itu dalam sepuluh
tahun terakhir ini mendapat tambahan penduduk dari luar daerah
yang cukup besar jumlahnya. Karena mengalirnya pendatang itu
kurang terkontrol tak syak lagi bila pemda setempat tidak sempat
membenahi mereka. Akibatnya: daerah-daerah yang mestinya
terlarang tidak luput menjadi sasaran empuk buat mendirikan
gubuk-gubuk. Ini dapat dilihat betapa berjubelnya rumah-rumah
di sepanjang pipa minyak di kampung Prapatan, Telogo rejo,
Gunung Sari dan Markoni. Menurut peraturan yang berlaku di zaman
BPM dulu, 50 meter di kiri-kanan pipa yang mengalirkan minyak
mentah dari ladang minyak di Saniboja itu dilarang ditempati
rumah manusia. Tetapi yang ada kini, jangankan di kiri kanan, di
atas pipa pun ditongkrongi gubuk. Apa boleh buat.
Keadaan yang demikian sebenarnya tidak merisaukan walikota
Balikpapan H. Asnawie Arbain, seandainya tidak terjadi kebakaran
beberapa waktu lalu dan mengakibatkan 144 jiwa kehilangan atap
di kampung Prapatan. Tapi nasib menentukan lain. Dan walikota
yang pendiam itupun terpaksa memeras kepala agar- bencana
serupa tidak kembali menimpa. Untuk itu ia berseru liwat Ruhui
Rahayu Balikpapan agar rumah-rumah yang berada di kanan-kiri
pipa dibongkar atas dasar keikhlasan. Tidak cukup dengan itu,
dibuatkan dua buah SK berturut-turut dengan pokok agar lima
meter di kanan kiri pipa dikosongkan. Kenapa pipa yang jadi
ukuran? "Kebakaran itu disebabkan oleh kebocoran pipa minyak"
kata walikota. Bahkan menurut catatan, kebocoran itu terjadi di
lima tempat. Maklumlah, pipa itu sudah cukup gaek. Telah berumur
lebih 70 tahun.
Ke Mana?
Akan hal ketuaan pipa ini pihak Pertamina memang segera
melakukan pembongkaran dan penggantian. Namun berbeda dengan
nasib dua buah SK tadi. Hingga berumur tiga bulan, belum ada
tanda-tanda dimulai pembongkaran gubuk. Mungkin karena pipa
bocor tadi sudah diganti urusan dianggap selesai, karena dirasa
mustahil terjadi kebocoran pada pipa baru. Namun agaknya bukan
itu yang membuat dua SK tadi kurang tajam. Seperti dikatakan
seorang pejabat Pertamina Unit IV: "Terbitnya SK itu tidak
berbeda dengan terbitnya bulan purnama yang dimakan gerhana.
Artinya tidak bisa membuat keadaan menjadi terang". Pejabat tadi
yang berbicara atas nama pribadi, menunjuk tidak dicantumkannya
jalan ke luar dalam dua SK tersebut. Umpamanya ke mana mereka
mesti pindah dan bagaimana perhitungan ongkos pembongkarannya.
Sebab dari sekitar 500 buah rumah yang terkena SK itu tidak
semuanya rumah liar. "Ada yang mempunyai ijin".
|