Adakah Harapan Buat Demokrasi ... Orang-orang ragu terhadap parpol inggris dalam menjalankan kekuasaan de facto. Tingkat pengangguran paling banyak diantara negara eropa, pada akhir okt situasi moneter rapuh, pinjaman bertambah. |
ADA masanya dahulu, hampir seluruh dunia kagum pada Demokrasi
Inggeris. Tokoh-tokoh politik di lima benua berpaling ke
Westminster ("ibu parlemen sedunia"), menghirup inspirasi
sambil mencoba menerapkan demokrasi konstitusionil sebagaimana
dipraktekkan tuan-tuan terhormat anggauta DPR Inggeris selama
puluhan tahun.
Ribuan buku-teks ilmu politik dan ilmu hukum tatanegara dari
Argentina sampai ke Zambia mengisahkan kembali prosedur dan
mekanisme cabinet government seperti yang dilembagakan oleh
tokoh-tokoh besar Inggeris, Winston Churchill dan Clement
Attlee. Ribuan wisatawan asing, di samping menonton upacara
pergantian pasukan kawal Buckingham Palace atau cuci mata di
pusat pertokoan Oxford Street, Merasa perlu juga untuk difoto di
muka Houses of Parlament - suatu bukti bahwa orang awam dari
seluruh penjuru dunia tahu betul tempat asal istilah-istilah
umum seperti rules of the game, right of dissent, fair play,
loyal opposition, dan seandainya- Secara tidak langsung, usaha
menyederhanakan struktur politik di Indonesia selama tahun 1967
- 1973 berpaling juga pada two-part!, system gaya partai
Konservatif dan Partai Buruh di Inggeris.
Lebih dari pada sekedar kagum pada sistim politiknya orang asing
banyak yang gemar pula pada beberapa keanehan sosial-budaya
masyarakat Inggeris. Wartawan dan cendekiawan latah ingin diakui
sebagai orang yang well infomled, membaca harian-harian serius
seperti The Times atau The Guardian dan mingguan-mingguan
seperti The Economist dan The New Statesman. Pejabat tinggi
atau pengusaha kaya dari negara industri atau negara sedang
berkembang banyak yang gemar mengumpulkan pipa-pipa mahal,
secara tak langsung meniru gaya priyayi Inggeris yang amat sadar
akan status sosialnya. Dan sastrawan serta dramawan mana di
dunia yang belum pernah mensitir salah satu lakon karya William
Shakespeare?
Stabilitas dan kesambungan konstitusionalisme Inggeris
berkembang atas dasar interaksi harmonis antara praktek politik
dan kebudayaan bangsanya. Bung Hatta, tokoh
cendekiawan-demokrat dan penganjur pendidikan politik, pernah
mengajukan contoh dari keberhasilan masyarakat Inggeris
menghormati prinsip-prinsip rule of law: polisi metropolitan
London berpatroli tanpa mengenakan senjata api.
Lebih Rasionil Dari Hitler
Memang, sepanjang sejarah politik modern, ada saja satu dua
orang aneh yang suka mencela bangsa Inggeris. Karl Marx pada
abad ke l9 dan Adolf Hitler pada abad ke 20, melalui analisa
yang berbeda sampai kepada kesimpulan yang sama: bangsa Inggeris
akan hancur akibat kebusukan dan kontradiksi di dalam dirinya
sendiri. Ramalan (atau, lebih tepat: harapan) seperti ini masih
diteruskan oleh mahasiswa kwasi-Marxis di University of London
atau orang-orang fasis yang tergabung dalam partai National
Front di beberapa tempat di sebelah selatan lnggeris.
Jauh sebelum Charles Dickens mengisahkan kemiskinan orang-orang
kota London, banyak orang Inggeris lain yang lebih rasionil
daripada Marx atau Hitler yang ingin merombak sistim politik dan
juga sistim sosial bangsa Inggeris. Bagi orang-orang seperti
ini, sistim monarki dan sekolah-sekolah elite seperti Oxford dan
Cambridge hanyalah benteng-benteng pertahanan kaum kaya terhadap
tuntutan keadilan orang-orang miskin. Desakan-desakan seperti
ini biasanya dipadamkan melalui suatu cara yang halus tapi
effektif: pemberang yang 'kreatif' diberi tempat dalam
establishment, dengan jalan menganugerahkan kepadanya tanda jasa
negara atau kursi dan gelar bangsawan di House of Lords.
Akan tetapi sekarang orang mulai sadar bahwa proses adaptasi
seperti itu tak bisa lagi bertahan lama. Dimensi persoalan yang
dihadapi bangsa Inggeris pada tahun 1970-an jauh lebih mendalam
dan lebih meluas daripada yang telah dihadapinya pada masa-masa
Kerajaan Inggeris dari Kanada sampai ke Australia mulai redup
pada akhir Perang Dunia Kedua.
Krisis yang sekarang melanda bangsa Inggeris telah dirasakan
demikian gawatnya di mana-mana sehingga orang asing tak banyak
lagi yang yakin akan kelahanan sistim politik yang dahulu
dipuji-pujinya. Malah, menyusun daftar "penyakit-penyakit
Inggeris" sudah hampir menjadi olahraga internasional di Amerika
Serikat, Jerman Barat dan Jepang
Orang berbeda pendapat mengenai asal mula krisis Inggeris yang
sekarang, tetapi semuanya sepakat bahwa perkembangan yang akan
terjadi pada musim dingin 1975-1976 yang akan datang ini
benar-benar akan merupakan batu ujian yang menentukan. Sejak
tahun 1966, para ahli ekonomi Inggeris mencatat tanda-tanda
suram seperti: tingkat pemogokan buruh tertinggi di seluruh
negara-negara industri, laju kenaikan inflasi tertinggi di
seluruh Eropa Barat (di atas 20% setahun sejak tahun 1971),
tingkat pengangguran yang paling menyedihkan di kalangan
negara-negara Masyarakat Eropa (1 juta orang lebih pada akhir
bulan Oktober 1975), situasi moneter yang amat rapuh (pinjaman œ
200 juta dari Iran bulan Oktober 1975, ditambah dengan pinjaman
œ 975 juta "oil-facility" dari Dana Moneter Internasional mulai
Januari 1976). Tidaklah mengherankan bahwa orang sekarang
meragukan apakah partai-partai politik benar-benar menjalankan
kekuasaan de facto. Bukankah serikat buruh bergerak bebas dari
kebijaksanaan partai Buruh yang memerintah? Dan bukankah
orang-orang kaya dalam konfederasi industri Inggeris mengekang
ruang gerak partai Konservatif? Dalam situasi seperti ini, siapa
yang masih hakul yakin pada demokrasi Inggeris? Mungkinkah
bangsa Inggeris keluar dari krisis ekonomi dan politik akhir
tahun 1975 ini, sehingga jurang antara prinsip-prinsip agung
politik dengan prestasi kerja sistim itu secara keseluruhan
dapat mengharumkan kembali demokrasi Inggeris ke tempatnya
semula? Harapan masih ada. Di lepas pantai timur laut Inggeris
minyak sudah mengalir. Menurut rencana, 40% kebutuhan energi
Inggeris akan dapat dipenuhinya pada tahun 1980. Banyak orang
Inggeris sekarang berdoa agar sampai waktu itu demokrasi
Inggeris tidak mati di tengah jalan.
|