Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 38/V/22 - 28 November 1975
   
Nasional

"Nggak Ada Fretilin" (?)

Kepala bakin letjen Yoga Sugama memberitahu duta besar Australia tentang 5 wartawan Australia yang ikut terbunuh di timor timur. Setelah fraser jadi pm, Australia simpati terhadap fretilin.

KEPALA Bakin Letnan Jenderal Yoga Sugama Rabu malam minggu lalu
dengan resmi memberitahukan Duta Besar Australia Richard
Woolcot. Bahwa nasib kelima wartawan Australia (seorang di
antaranya warganegara Inggeris) diduga telah turut terbunuh
dalam serangan gabungan tentara UDT- Apodeti-Kota ke Balibo
pertengahan Oktober kemarin. Yoga menyatakan hal ini setelah
pemerintah Indonesia menerima sepucuk surat resmi Presidium
Apodeti, D. Guilhermo Maria Gonvalces.

Surat yang bertanggal 3 Nopember itu telah memperinci kelima
wartawan Australia itu sebagai berikut. Bahwa pada pertempuran
tertanggal 22 Okober telah gugur 15 orang dari pihak Fretilin.
Dari korban tersebut, terdapat 4 mayat orang kulit putih dalam
keadaan terbakar. "Kami tidak begitu yakin apakah keempat orang
kulit putih ini adalah wartawan Australia, karena tidak ada
bukti yang nyata dan tidak bisa membuktikannya dengan jelas",
tulis Gonvalces. UDT-Apodeti-Kota waktu itu berhasil
menghancurkan sebuah gedung sebagai pusat pertahanan Fretilin di
mana di dalamnya tersimpan pula bahan bakar dan mesiu. Memang
bisa dimaklumi bahwa meneliti mayat yang dalam keadaan gosong
sama sekali akan sulit dikenali warna kulit dan asal usul.

Gonvalces kemudian menerangkan berdasarkan permintaan Pemerintah
Indonesia untuk menyelidiki nasib kelima wartawan tersebut, satu
team pasukan dikirim kembali ke gedung tersebut "Setelah
diadakan investigasi dan observasi, berhasillah ditemukan
beberapa dokumen yang diduga adalah milik para wartawan
tersebut", tulis Gonvalces. Lebih lanjut dijelaskan oleh
Gonvalces bahwa pada tanggal 27 Oktober yang lalu, ketika
sepasukan tentara Apodeti sedang patroli di pinggiran kota
Balibo, telah ditemukan sebuah kamera, beberapa dokumen dan-dua
mayat, di hutan, di jalur mana Fretilin mencoba melarikan diri.
"Salah seorang mayat yang telah membusuk itu adalah berkulit
putih. Demi kesehatan, kedua mayat tersebut kemudian dibakar. Di
samping itu ditemukan pula beberapa benda berupa kamera dan
dokumen, dan hal ini membuka kemungkinan bahwa salah seorang
dari mayat tersebut adalah wartawan Australia". Semua milik
(kamera, catatan dan dokumen) dari yang diduga wartawan
Australia tersebut kemudia diserahkan pada Pemerintah Indonesia
Untuk diteruskan pada Pemerintah Australia.

Beberapa minggu yang lalu Sekjen Federasi Buruh Pelabuhan Sydney
telah memerintahkan untuk tidak meladeni kapal-kapal Indonesia
yang sedang berlabuh. "Sampai kami dengar nasib wartawan kami",
ujarnya. Menteri Perhubungan Emil Salim juga telah memerintahkan
untuk tidak mengadakan pelayaran ke benua selatan ini, karena
rupanya persoalan Timor Portugis nyaris mengakhiri masa bulan
madu pertemuan Whitlam - Suharto di Wonosobo dan Townsville.
Realisasi perundingan Roma antara Adam Malik - Antunnes yang
menghasilkan suatu memo pengertian, pun belum memberikan
penyelesaian yang jelas. Bukan karena Menlu Adam Malik
keberangkatannya jadi tertunda, tapi rupanya pihak Australia pun
telah berganti sikap--sedikit--tentang pandangannya dalam
masalah Timor Portugis ini.

Ketika Whitlam memerintah, dengan gamblang secara resmi
pemerintah partai Buruh ini mencanangkan setujunya tentang
dekolonisasi Timor Portugis dengan cara-cara yang baik.
Tampaknya sejalan dengan Indonesia. Tapi siapapun maklum bahwa
Fretilin mempunyai markas di Darwin dan Australia adalah wadah
yang baik untuk penyaluran medianya. Setiap minggu, pasti ada
orang-orang Australia pergi Timor Dili untuk bertugas sebagai
Palang Merah atau hal-hal lain. Atas nama perseorangan, walaupun
diketahui bahwa orang tersebut adalah pejabat Pemerintah atau
tokoh Partai Buruh. Nah, demikian Fraser duduk sebagai pejabat
Perdana Menteri, "sayang sekali, kami tidak bisa menghubungi
Fretilin. Mereka sudah tidak berada lagi di Australia" demikian
keterangan resmi. Betulkah. Secara berseloroh seorang pejabat
kedutaan Australia ada berkata: "Kami tidak bohong. Memang waktu
kami menjawab hal itu Ramos Horta barangkali sedang di Dili".
Antara telah memonitor radio Fretilin bahwa siapa yang pergi ke
meja perundingan hasil Koma, akan dianggap sebagai pengkhianat.
TVRI beberapa waktu yang lalu ada memberitakan bahwa perundingan
antara ketiga partai akan dilangsungkan di Australia tanggal 24
Nopember ini Besok paginya, RRI menyiarkan pula bahwa pihak
Pemerintah Australia me nyangkal Pemerintah Portugal bahwa
pemerintahnya yang sedang sibuk dengan kampanye pemilu, bersedia
untuk menyediakan tempat berunding. Apakah Timor Portugis akan
ditinggalkan oleh Portugal begitu saja, dan membebankannya pada
Indonesia?


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data