Tewas Dalam Borgol Djamaluddin, murid pesantren darussalam, martapura kalimantan selatan tewas dikeroyok massa. Ia menagih piutang kepada b, marah dan memecah kaca. Lalu diteriaki maling dan dihajar massa. (krim) |
DJAMALUDDIN punya niat menagih piutang kepada B yang pernah
menggunakan tenaganya untuk membangun rumah. Sudah beberapa kali
memang pemuda berpendidikan Sekolah Pendidikan Guru itu datang
ke rumah B di belakang Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Banjar
(Kalimantan Selatan) untuk keperluan itu. Tapi pada kesempatan
yang terakhir itu rupanya terjadi cekcok. Djamaluddin tidak bisa
menahan emosinya dan memecah kaca-kaca jendela yang dulu
dikerjakannya. D, anak si tuan rumah, langsung berteriak
"maling....maling". Dan ada juga yang meneriakkan Djamaluddin
sebagai orang gila. Kontan tetangga berkerumun mencari dari mana
suara itu datang. Dengan sigap juga Djamal lari menuju masjid.
Tapi baru sampai di rumah makan Budi Bauntung ia sudah dikeroyok
massa, dengan macam-macam pukulan.
Rantai besi
Baru setelah babak belur dan berlumuran darah, Djamal diserahkan
kepada polisi di Komres 1302 Banjar Tala Batola. Karena
dilaporkan sebagai orang gila, pemuda itu langsung diborgol.
Walaupun sang korban sudah berusaha memberikan penjelasan.
Sampai masuk ke kamar tahanan Djamal belum mendapat pertolongan
pertama, sedangkan rumah sakit tidak lebih dari 100 meter dari
kantor polisi. Baru keesokan harinya korban mendapat pengobatan
di Rumah Sakit Umum. Syarifuddin, adik korban baru bertemu
dengan kakaknya di tempat perawatan meskipun dari kantor polisi
ia melihat tandu digotong menuju rumah sakit.
Apa yang dilihatnya sungguh mengejutkan hatinya. Tubuh dan raut
muka Djamaluddin susah dilukiskannya. Beberapa kali Syarifuddin
memanggil kakaknya tapi tiada jawaban karena Djamal belum
siuman. Lagipula masih diborgol tangannya. Iba melihat kakaknya
diperlakukan begitu Syarifuddin minta kebijaksanaan perawat
untuk melepaskan rantai besi itu. Namun sang perawat mengatakan
tidak berani karena tidak berwenang untuk itu. "Sampai saat
menghembuskan nafas terakhir ia masih diborgol. Baru setelah
saya kembali lagi--setelah memberitahukan kematian kakak kepada
uztadnya borgol itu sudah tidak ada lagi", suara sedih
Syarifuddin masih nampak.
Sedikit kemacetan timbul ketika almarhum akan dikebumikan. Sebab
baru ada surat kematian sedangkan visum dokter yang amat perlu
belum dibuat. Seorang jaksa yang memandang kemungkinan perkara
kematian ini sampai ke meja hijau segera membereskan visum
dokter. Warga Sulawesi Selatan di Banjarmasin menemui Komandan
Polisi Komres 1302. Yang diminta ialah agar para pengeroyok
ditindak dan bila permintaan ini belum dipenuhi utusan belum
akan kembali ke Sulawesi. Dewan Guru Darussalam juga mengajukan
permintaan yang sama kepada kepolisian. Ada rasa sesal pada diri
sang komandan atas ulah anak buahnya yang menangani perkara
Djamal. Komandan piket pada waktu kejadian sempat menerima
semprotan dari atasannya.
Tak lama setelah Djamal menjadi almarhum, polisi sudah bisa
menangkap beberapa tersangka termasuk B dan D yang menjadi biang
perkara. Tersangka N dan Sy yang langsung melakukan penganiayaan
juga sedang menunggu perkaranya dibawa ke pengadilan. Akan diri
Djamaluddin sendiri dan adiknya Syarifuddin mulanya ingin
menuntut ilmu di pesantren Darussalam di kota intan Martapura.
Perguruan ini dikenal tidak hanya di Martapura, tapi juga di
seluruh Kalimantan. Djamal dan adiknya, hanya dengan koper
pakaian, April tahun lalu meninggalkan kampung halamannya di
Sulawesi Selatan. Djamal sebelumnya punya pendidikan SPG dan
adiknya SMA. Di perguruan Darussalam mereka diberi tempat di
kelas V Ibtidaiyah sesuai dengan pengetahuan agama mreka. Tahun
ini mereka duduk di tingkat VI. Dalam perantauan ini Djamal
terpaksa mencari pekerjaan sampingan untuk hidup dan biaya
sekolah bersama adiknya. Salah satu pekerjaannya adalah tukang
kayu sampai berurusan dengan orang yang ingin memperbaiki
rumahnya. Dan dengan pekerjaan yang terakhir itulah terjadi
kejadian naas yang membawa Djamaluddin ke alam kekal.
|